Kisah banjir bandang Sentani: “Bapa, nanti kita tinggal di mana?”

Kondisi sebagian Pulau Toladan, pasca-bencana banjir bandang. -Jubi/Yance Wenda
Kisah banjir bandang Sentani: "Bapa, nanti kita tinggal di mana?" 1 i Papua
Kondisi sebagian Pulau Toladan, pasca-bencana banjir bandang. -Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

GEMERICIK AIR selalu menjadi penghibur bagi kami yang bermukim di sebuah ‘pulau’ di tengah sungai. Rerimbun pepohonan juga menghiasi puluhan rumah di sana.

Kali Toladan adalah salah satu sungai yang membelah Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Ada daratan seluas lapangan sepak bola yang berada di tengah sungai. Kami tinggal di sana lalu menamainya Pulau Toladan.

Sebanyak 22 kepala keluarga bermukim di pulau. Di bagian atas pulau dinamai Gubuk Welani, di tengah disebut Pulau Tengah, lalu yang paling bawah disebut Pulau Bawah.

Sabtu sore, 16 Meret 2019, sebagian banyak pria di pulau pergi menonton televisi di seberang pulau karena ada siaran langsung sepak bola, Persipura melawan Kalteng Putra FC. Sebagian mama-mama masih berada di eks Pasar Pojok, sedang menjual hasil kebun mereka.

Setelah liputan, saya memilih tetap berada di pulau, karena pukul 3 sore Waktu Papua (WP), anak-anak Sekolah Minggu akan berkumpul di rumah saya.

Tempat beribadah berlokasi di wilayah Gubuk Welani. Ada tiga rumah di sini termasuk rumah saya. Belasan anak mulai berkumpul. Karena banyak anak yang datang, kami beribadah di tempat terbuka di halaman rumah. Termasuk putri saya, Afrilia Wenda (4), ikut bersama mereka.

Loading...
;

Sedang asyik beribadah, kami dibubarkan oleh hujan. Anak-anak dan sejumlah pemuda yang ikut beribadah berlarian ke rumah yang disebut ‘rumah tengah’. Semakin sore, istri saya, Ance Wanimbo (25) ditemani beberapa mama menyediakan singkong rebus, teh, dan kopi. Di luar, hujan tinggal gerimis.

Sebagian anak yang berasal dari luar pulau kembali ke rumah mereka. Tak lama kemudian, hujan kembali deras. Saya bilang ke anak-anak dan beberapa pemuda lain yang masih berada di rumah, jangan dulu beranjak karena masih hujan.

“Adik-adik, tunggu sampai hujan reda,” kata saya.

Saya kembali ke rumah untuk mengetik berita. Waktu terus berjalan, tapi hujan tak kunjung reda. Rumah saya berdekatan dengan sungai.

Kisah banjir bandang Sentani: "Bapa, nanti kita tinggal di mana?" 2 i Papua
Rumah milik Yance Wenda yang rusak diterjang banjir. -Jubi/Yance Wenda

Mencari jalan keluar

Pukul 8 malam, listrik padam. Putri saya dan teman-teman sebayanya mulai panik.

“Bapa, Afrilia takut!” kata putri saya. Anak-anak lain juga mengutarakan ketakutan mereka.

Saya coba menenangkan dan meminta mereka berdoa. Istri saya menghamparkan kasur di lantai. Saya keluar untuk memantau kondisi sungai, bersama adik perempuan saya, Jenny Wenda (21).

Diterangi senter dan ponsel kami menyusuri pulau. Ternyata ada satu rumah telah lenyap disapu banjir. Beberapa rumah juga tiang-tiangnya mulai miring dan goyah. Warga pulau semakin panik. Saat menuju ke kandang-kandang ternak babi, air sudah meninggi.

Hujan semakin deras dan sudah beberapa rumah yang tenggelam. Saya dan Jenny bergegas kembali ke rumah. Di sana, kami berdoa bersama-sama.

“Tuhan, jika Engkau masih memberi kesempatan kami untuk melayani-Mu, maka mukjizat-Mu akan terjadi di tempat ini.”

Sudah sekitar pukul 11 malam, saya merasakan ada yang ganjil dengan banjir kali ini. Terdengar seperti ada suara gemuruh di hulu.

Sesaat kemudian, saya teringat ternak babi lagi. Saya pergi menengok kandang. Ternyata banjir telah masuk ke kandang dan air telah sampai di dapur. Saat hendak mengeluarkan babi, saya seperti ditegur oleh suara batin.

Ko sibuk-sibuk apa? Kas tinggal to. Nabi saja yang punya banyak ternak sampai ratusan mati semua, tapi tetap sabar dan melayani. Terus ko yang ini saja mau pusing, kas tinggal!”

Saya meninggalkan ternak, lalu berlari ke rumah. Saya segera menyelamatkan istri dan putri saya, juga anak-anak lainnya. Tak lupa saya membawa kamera, sementara barang-barang lain seperti laptop tak sempat saya selamatkan.

Tetangga mulai mengumpulkan barang-barang penting mereka. Ance menyuruh saya mengemasi dokumen-dokumen penting. Saya mengatakan tak perlu bersibuk dengan barang-barang itu.

“Selamatkan diri dulu!” kata saya.

Di wilayah Gubuk Welani, telah banyak warga berkumpul. Rumah-rumah mereka sudah terendam air. Anak-anak kecil berteriak. Kami semua panik, sebab gemuruh batu terus terdengar dan arus semakin deras. Sebagian pulau telah terbenam.

Sejumlah pria mulai mencari jalan keluar. Beberapa di antaranya menebang pohon untuk dijadikan jembatan darurat, agar bisa menyeberang ke tepi sungai. Tapi usaha itu sia-sia, sebab pohon yang ditebang jatuhnya salah arah.

Kemudian, seperti doa kami didengar oleh Tuhan. Ada warga yang berhasil menemukan jalur untuk menyeberang. Arus di sana tak terlalu deras.

Semua pria berbaris, lalu menyeberangkan anak-anak dan perempuan. Setelah itu kami saling mengoper barang. Setelah berjuang keras, kami semuanya selamat sampai ke Gereja Baptis Imanuel Toladan, yang letaknya tak begitu jauh dari pulau. Kami mengungsi di sana.

Kisah banjir bandang Sentani: "Bapa, nanti kita tinggal di mana?" 3 i Papua
Gereja Baptis Imanuel Toladan yang menjadi tempat pengungsian warga. -Jubi/Yance Wenda

Pulau Toladan tinggal kenangan

Saya lahir di Kota Wamena, 30 tahun silam. Setelah tamat SMP, saya melanjutkan sekolah di Kota Sentani, kemudian menetap di Kampung Toladan sejak 2005.

Pada 2015, saya menikahi Ance lalu dikaruniai seorang putri. Di tahun pernikahan itu pula, saya mulai bekerja sebagai wartawan Tabloid Jubi, Papua, hingga sekarang.

Minggu pagi, 17 Maret 2019, saya dan Jenny pergi melihat kondisi pulau. Kini, pulau tempat kami bermukim tak bisa ditinggali lagi. Rumah-rumah banyak yang hancur. Ada lima rumah warga yang lenyap. Beruntung, karena tak ada satu pun warga yang terluka.

Seandainya malam itu kami tak menemukan jalan keluar, lalu ada salah satu keluarga saya yang jadi korban, saya memilih untuk mati bersama mereka.

Sepeda motor yang biasa saya pakai untuk meliput, ikut hanyut. Kondisi rumah saya tak sampai roboh, tapi trauma masih membekas sebab bencana mungkin bisa terulang.

Dua puluh lima ternak babi kepunyaan warga termasuk milik saya diseret arus, sedangkan yang tersisa hanya tujuh ekor. Pulau kami tak sampai dilindas banyak bebatuan, karena ada pepohonan di bagian atas pulau. Rumpun bambu juga mampu menahan material yang diseret arus.

Sepekan setelah bencana, saya pergi memberi makan babi yang masih tersisa. Istri dan anak saya ikut. Sesampai di sana, Afrilia mengutarakan pertanyaan yang membuat saya bersedih.

“Bapa, nanti kita tinggal di mana?” katanya, sambil menggendong kucing kesayangannya yang juga selamat malam itu.

Kisah banjir bandang Sentani: "Bapa, nanti kita tinggal di mana?" 4 i Papua
Afrilia sedang mengejar kucing kesayangannya di belakang rumah Yance Wenda yang rusak parah. -Jubi/Yance Wenda

Istri saya, sering bertanya tentang nasib keluarga kami ke depan. Lokasi kami bermukim sangat berisiko untuk ditempati lagi. Ia juga bersedih ketika melihat kondisi rumah yang tidak bisa ditinggali.

Saya hanya termenung. Mungkin bukan hanya saya, tapi kami warga Pulau Toladan, tak pernah menyangka akan ada bencana sedahsyat itu. (*)

 

Kisah wartawan Jubi, Yance Wenda, yang ikut terdampak banjir bandang di Sentani.

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top