Follow our news chanel

Previous
Next

Kisah Pa Guru Emilianus, 22 tahun mengajar di Papua

Guru Pedalaman Papua
Emilianus Egor (tengah depan), guru SD YPPK St Don Bosco Ewer, Asmat, Papua ketika foto bersama rekan-rekannya. – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pa Guru Emilianus pernah lari dari tempat tugasnya di Yufri, Asmat pada tahun 2000-an, karena gejolak politik Papua merdeka. Saat itu Asmat masih menjadi bagian dari Kabupaten Merauke. Pa Guru Emilianus berperahu menuju Agats, kota kecil di atas rawa-rawa yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Asmat.

“Tahun itu ada gejolak, Papua mau merdeka. Kami lari dari Yufri ke Agats,” ujar Pa Guru Emilianus mengenang.

Biarpun pernah jeri dan lari, pria asal Kampung Wajur, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur itu sudah terlanjur menaruh hatinya di Asmat. Sesampainya di Agats, ia kembali melanjutkan tugasnya mengajar. Kini, ia telah 22 tahun mengajar di Asmat, bahkan telah menjadi anak “angkat” orang Asmat dengan panggilan kuri.

Nama lengkapnya Emilianus Egor. Ia menceritakan lika-likunya mengajar di pedalaman Papua, sejak berangkat dari Jayapura menuju Merauke pada 15 Oktober 1998.

Anak keempat dari tujuh bersaudara ini menamatkan pendidikannya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Santu Aloysius Ruteng, Manggarai, Flores, NTT, tahun 1988. Hingga tiga tahun selepas tamat SPG, dia luntang-lantung sebagai guru Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) di Kabupaten Manggarai.

Baca juga: Rum Mak, rumah baca untuk generasi Papua cerdas

Setelah tiga tahu berlalu, hatinya tergerak untuk merantau ke Papua. Ia meninggalkan kampung halamannya, pergi menuju Kupang dan Dili (kini ibu kota Negara Republik Demokratik Timor Leste), hingga tiba di ibu kota Irian Jaya (kini Papua), Jayapura pada 1995. Akan tetapi, setibanya di Jayapura, Emilianus tak bisa langsung mengajar.

Loading...
;

Untuk menyambung hidupnya, dia harus bekerja sebagai pelayan salah satu toko di Sentani, Jayapura. Setelah beberapa lama, ia berkesempatan mengajar di SD Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Kristus Raja Dok V Jayapura. “Waktu itu kami mau testing [menjadi Pegawai Negeri Sipil atau PNS], tapi tidak bisa karena prioritas putra daerah untuk seluruh Irian,” kata Emilianus saat ditemui Jubi di Kota Jayapura, Minggu (23/8/2020).

Tapi peluang baru selalu ada. Pada 1998, Kantor Wilayah Departemen dan Kebudayaan Pendidikan Irian Jaya melakukan program pemerataan pendidikan dengan nama Sategu (Satuan Guru Daerah Terpencil). Emilianus pun bergabung dengan 19 orang kawannya untuk menjadi guru Sategu, dan ditempatkan di Kabupaten Merauke.

Setibanya di Merauke, dia harus melapor kepada Bupati Merauke, demi mendapatkan petunjuk ihwal tugasnya sebagai guru. Emilianus sempat bingung ketika tiba di “Kota Rusa” karena tak punya tempat tujuan. Ia bahkan nyaris putus asa dan sempat ingin kembali ke Jayapura.

“Untungnya ada sopir taksi (angkutan kota), dia tanya saya, ‘mau ke mana pak?’ Saya jawab ‘mau cari rumah Pak Nikolaus Kamis, guru SMA Negeri 1 Merauke’. Sopir [itu] langsung antar saya ke rumah Pak Niko di kompleks SMA,” katanya.

Baca juga: Banyak guru diduga mangkir mengajar di Kiworo

Nikolaus Kamis menyambut Emilianus, namun ia tak punya tempat untuk menampung Emilianus. Emilianus akhirnya diajak pergi ke Jalan Sumatera, menemui Ben Narung. Ia pun tinggal di sana selama beberapa waktu, hingga akhirnya mengantongi Surat Keputusan (SK) yang menempatkan Emilianus untuk mengajar di SD YPPK Yufri.

Pada 7 November 1998, Emilianus bersama 19 kawannya berangkat menuju Agats Asmat, dengan menumpang Kapal Perintis Bintang Kapuas. Cuaca buruk membuat pelayaran menuju Agats itu memakan waktu satu pekan.

Tanggal 14 November 1998, Emilianus menginjakkan kakinya di Agats, kota yang disangkanya serupa dengan Jayapura atau Merauke, lengkap dengan kendaraan taksi yang hilir mudik. Dugaan itu meleset. Agats dengan sebutan “kota di atas papan” adalah kota di atas rawa-rawa, tak punya jalan darat untuk naik taksi.

“Berhubung di Agats tidak ada keluarga, maka saya cari pastoran. [Saya akhirnya] bertemu Pater Charles Loyak OSC, [pastor] asal Larantuk, [Flores Timur],” katanya.

Di Agats, Emilianus kebingungan mengetahui SD YPPK Yufri yang harus menjadi tempatnya mengajar sudah tidak beroperasi lagi. Ia sempat berpindah mengajar di SD YPPK Kristus Amore di Sawa Erma, dan bertugas di sana hingga 1999.

Biarpun begitu, Emilianus masih mengantongi SK penempatannya di SD YPPK Yufri. Menjelang momen pengusulan pengangkatan PNS, mau tak mau Emilianus harus mendatangi SD YPPK Yufri, dan mulai mengajar di sana hingga tahun 2000.

Baca juga: Pandemi Covid-19 jangan hilangkan hak siswa

“[Lalu] gejolak [terjadi]. Papua mau merdeka. Saya lari dari Yufri. Mulai 17 April 2000 saya mengajar di SD YPPK St Don Bosco di Ewer, sampai sekarang ini,” ujar Emilianus.

Banyak suka dan duka yang dialami Emilianus selama mengajar di Agats. Orang-orang Agats sangat ramah dan terbuka menerima orang dari luar, sehingga Pa Guru Emilianus pun diterima menjadi orang Asmat. Ia bahkan diangkat menjadi anak angkat (anak adat). Masyarakat adat setempat mengoleskan sagu di dahinya dengan kapur putih dan kapur merah di badan, sebagai tanda bahwa dia sudah menjadi bagian dari anggota keluarga mereka.

Orang Asmat sangat menghargai guru dari luar, dan kini mereka memanggil Emilianus dengan sebutan kuri yang berarti guru. Kini, apapun kesulitan yang dialami Kuri Emilianus, masyarakat Asmat pasti membantu. Jika tak ada pasokan makanan, maka orang-orang di kampung akan datang membawakan sagu dan ikan ke rumahnya.

“Kalau ke kota kecamatan, ambil gaji, maka mereka siap dayung perahu untuk antar saya.  Ada rasa kekeluargaan [antara saya] dan mereka,” kata bapak dua anak itu.

Kadang-kadang Emilianus juga ikut menjaga Kampung Ewer, khususnya saat masyarakat pergi ke hutan untuk mencari makanan atau pangkur sagu. Saat itu, anak-anak sekolah pun dibawa serta ke dusun atau ke hutan sagu, sehingga praktis sekolah dan kampung kosong.

Baca juga: SMA YPPK Adhi Luhur Nabire sudah menggelar proses belajar tatap muka

Namun demikian, anak-anak di pedalaman memiliki semangat belajar yang tinggi. Emilianus berharap agar sekolah-sekolah di pedalaman Papua, khususnya di Asmat, juga mendapatkan buku-buku sebagai sarana penunjang belajar anak-anak.

Selain itu, tiadanya rumah guru juga menjadikan guru-guru terpaksa membuat gubuk bersama kepala sekolah. Namun, keterbatasan sarana tak menyurutkan semangatnya mengajarkan anak-anak pedalaman Papua.

Adik bungsu Emilianus Egor, Markus Makur yang juga seorang jurnalis Kompas.com itu menuturkan kakaknya sudah mengajar di beberapa sekolah di Flores Barat, namun merantau ke Papua demi meraih impian sebagai pengajar di daerah terpencil. “Kakak adalah pejuang keras yang mencerdaskan anak-anak pedalaman Asmat,” kata Markus.

Di masa pandemi Covid-19, sekolah di Indonesia, termasuk pedalaman Papua, khususnya di Asmat, juga sedang beradaptasi menuju era Kenormalan Baru (new normal). Pada 3 Agustus lalu, Pemerintah Provinsi Papua dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Papua memutuskan untuk membuka sekolah secara bertahap di 28 kabupaten/kota hingga 31 Agustus 2020, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Emilianus mengharapkan agar pandemi segera berlalu. Ia ingin para guru bisa kembali bertatap muka dengan murid mereka, belajar di ruang kelas tanpa dibayang-bayangi rasa takut akan virus korona. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top