Follow our news chanel

Previous
Next

Kisah penjual bensin eceran di Jayapura

Simon P. Woikiki di kiosnya – Jubi/Yance Wenda
Kisah penjual bensin eceran di Jayapura 1 i Papua
Simon P. Woikiki di kiosnya – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pertama yang harus dilakukan Simon P. Woikiki, 56 tahun, adalah membuang gengsi dan berani membuka usaha dengan modal secukupnya.

“Entah berjualan apa saja, yang penting halal,” katanya kepada Jubi di kiosnya di Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa 29 Oktober 2019.

Sebelumnya ia memanen hasil kebun tiga bulan sekali. Kebutuhan anak-anak tentu berat baginya, apalagi dengan kebutuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Pria asal Kemtuk Gresi tersebut mencari jalan keluar bagaimana masa depan yang ia impikan, terutama agar anak-anaknya dapat menyelesaikan studi, kalau bisa hingga menjadi sarjana, bisa terwujud.

Ia akhirnya memilih bantig stir dari petani menjadi penjual bensin (bahan bakar minyak) eceran. Ia membuka kios di depan jalan keluar Pasar Pharaa Sentani.

“Saya berjualan bensin campur dan bensin murni ini sudah sejak enam tahun lebih. Saya awalnya hanya seorang petani saja dan anak-anak semua sekolah dan berharap dari bertani saja tidak bisa sehingga saya mencoba buka usaha jualan bensin ini,” katanya.

Loading...
;

Hari demi hari ia lewati sebagai penjual bensin eceran di pondok kecil. Ia mulai membuka usaha pada pukul 6 pagi dan tutup pada sore hari. Dengan setia ia menunggu sepeda motor yang berhenti untuk menggunakan jasanya dan segera melayani.

“Bapa di Sentani tinggal di kos jadi setiap pagi itu Bapa datang atur jualan sampai sore baru pulang, kadang tergantung jualannya dan juga tergantung ramainya pasar saja, kalau tidak ramai jam empat sore sudah pulang,” katanya.

Woikiki membeli bensin dengan menggunakan jeriken berisi 30 liter. Dalam sehari ia membeli tiga jeriken atau 60 hingga 90 liter. Dari satu jeriken ia membagi dalam 30 botol kecil.

“Kalau pembeli ramai tiga jeriken bisa habis dalam sehari,” katanya.

Harga per botol atau per liter ia jual seperti tarif kios lain. Untuk bensin murni maupun Pertalite dijual satu liter Rp10 ribu.

“Dalam sehari bisa masuk Rp1 juta paling tinggi dan paling rendah Rp400 ribu,” katanya.

Dengan hasil berjualan bensin tersebut Simon mampu menyokong biaya pendidikan anak-anaknya.

“Selain digunakan untuk makan-minum dan bayar kos, pendapatan juga digunakan untuk membiayai sekolah anak-anak, ada yang sedang kuliah di Universitas Cenderawasih, ada yang di SMA YPKP Sentani, SMA Penerbangan, dan ada yang sedang SD,” katanya.

Seperti halnya Woikiki, Itha, seorang perempuan di Sentani memilih berusaha berjualan bensin di samping sebagai ibu rumah tangga.

“Saya berjualan bensin eceran ini sudah lama memang, jadi kalau mau jualan itu saya ambilnya di pompa bensin (SPBU) dengan jeriken, baru datang jual,” katanya.

Ia berjualan tidak sehari penuh. Jika perlu ibadah atau mengurus anak-anak, ia menitipkan kiosnya kepada adik-adiknya. Jika tidak ada orang yang bisa dititipi ia memilih menutup kiosnya.

Ia juga membeli bensin ke SPBU dengan jeriken berkapasitas 30 liter. Sampai di kios ia bagi ke dalam botol-botol kecil literan dengan harga Rp10 ribu.

“Ya, pendapatan itu lumayan juga tapi dari hasil jualan bensin ini bisa untuk makan minum dan mencukupi kebutuhan hidup serta sekolah anak,” ujarnya.

Menurut Itha, bagi orang lain pekeraan seperti yang ia lakukan tentu menyibukkan, karena ia harus mengurus anak dan keluarga.

“Bagi saya tidak masalah, yang penting saya tidak mengambil barang milik orang lain, memang kita bekerja itu tidak langsung berharap yang besar, dari kecil-kecil saja,” katanya.

Yesaya Dwa, warga Sentani mengaku salut dengan pedagang kecil seperti Simon Woikiki dan Itha dalam menekuni usahanya.

“Walau dalam panas tapi bapak ini dia setia sekali untuk duduk berjualan, kalau kena-kena orang lain itu sudah angkat kaki pergi bikin kegiatan lain tapi,” katanya.

Menurut Yesya, usaha yang dilakukan seperti itu harus ada perhatian yang serius dari pemeritah daerah untuk mendorong mereka lebih maju dalam berusaha.

“Kalau bisa itu pemerintah bertemu dengan mereka dan tanyakan apa yang menjadi kebutuhan mendasar bagi mereka dalam melakukan usaha,” kata Dwa.(*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top