Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Kisah sopir ambulans menyelamatkan nyawa pasien

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

PEKERJAAN sopir mobil ambulans tidak bisa dipandang enteng atau sebelah mata. Meski mereka bukan dokter ahli, tapi mereka juga ikut menentukan keselamatan pasien.

Terlebih di Papua, berjalan dari satu kabupaten ke kabupaten lain tentu bukan gampang. Dengan jarak tempuh selama 8 jam seorang sopir ambulans harus bolak-balik dalam sehari. Ini jelas membutuhkan stamina dan konsentrasi. Terlebih membawa mobil dalam kecepatan tinggi.

Kisah sopir ambulans menyelamatkan nyawa pasien 1 i Papua

Itulah yang dilakukan Exsam, 56 tahun, pria asal Jawa Tengah, yang menjadi sopir ambulans di Puskesmas Sarmi Kota sejak 2006. Waktu itu Kota Sarmi belum memiliki jalan yang bagus dan juga jalan yang tembus ke Jayapura belum sebagus sekarang.

“Sejak 2006 itu saya kerja sendiri, kalau memang sudah capek saya suruh anak saya yang bawa, saya tidak percaya orang lain,” ujarnya.

Ia selalu stand by dalam segala hal. Kapan pun ia dibutuhkan ia selalu siap tanpa capek dan bosan.

“Tergantung rujukkan, kalau saya sudah antar terus ditelepon itu saya balik lagi ambil baru balik lagi ke Jayapura, untuk melayani itu saya harus siap terus tidak bisa dihindari,” ujarnya kepada Jubi.

Loading...
;

Di Puskesmas Sarmi Kota ada tiga unit mobil ambulans, namun karena satu rusak, tingga dua mobil. Satu untuk membawa jenazah dan satu untuk membawa pasien rujukan.

“Kadang-kadang pasien terpaksa disuruh ikut mobil rental kalau mobil sedang saya pakai untuk membawa pasien, tapi biasanya mereka bilang tunggu Pak De (panggilannya) saja, saya juga tidak tahu maksud mereka itu seperti apa, yang menilai itu kan mereka sendiri bukan saya,” kata Exsam.

Melakukan perjalanan bolak-balik dalam sehari bukanlah pekerjaan gampang. Apalagi dengan jarak tempuh normalnya 8 jam. Tapi itu bisa ia jalankan dengan lancar.

“Selama saya membawa ambulans ini tidak ada kendala, semuA itu baik, kondisi, ban, rem, dan semuanya apaLagi kalau ada yang mendukung itu aman saja, tapi kalau tidak itu yang saya kerepotan sendiri harus tanggung pakai uang pribadi,” kata Exsam.

Ia menjelaskan selama ia membawa ambulans di Sarmi semua masyarakat sudah tahu siapa dirinya, karena ia adalah laki-laki yang banyak berkorban bagi mereka dalam pelayanan di Puskesmas Sarmi.

“Belum ada jalan di sini saya sudah bawa ambulans ini, masyarakat itu semua tahu siapa Pak De, ya intinya itu kita melayani dengan baik dan tidak mengharapkan imbalan dari mereka yang kita antar, kalau masyarakat tidak ada uang ya saya layani saja, namanya juga orang kampung masa mau dipaksakan harus taruh uang,” katanya.

Pria yang terlihat cukup berumur namun fisiknya menyerupai anak muda ini mengatakan jika melakukan sesuatu itu tidak perlu bersungut-sunggut, tapi cukup melakukan dengan enjoy saja.

“Kalau bawa pasien itu kan ada perawat di dalam ambulans itu dan juga jalan itu kita tahu di mana yang rusak dan baik, jadi kalau jalan baik itu kita hajar kalau rusak itu kita pelan, kasihan pasiennya, terus untuk jarak tempuh itu paling lama 8 jam dan paling cepat itu 5-6 jam tiba di Jayapura dari Sarmi,” katanya.

Selama menjadi sopir ambulans, pengalaman yang paling berkesan baginya adalah menerobos rombongan Presiden RI pada 2017.

“Saya waktu itu memang buru-buru karena oksigen di tabung kecil sudah habis tinggal setengah dan jadi mau dan tidak mau saya harus ada di RSUD Dok II segera mungkin, jadi saya balap saja terobos pampresnya di Padang Bulan,” katanya.

Ia memberanikan diri menerobos rombongan hanya karena berniat menyelamatkan nyawa pasiennya sehingga ia berniat untuk terus maju. Jika pasien yang ia bawa tidak diselamatkan maka itu satu penyesalan besar yang akan ia rasakan dalam hidupnya.

“Saya dihadang oleh anggota (Paspamres) yang di belakang, tapi ini saya bawa pasien dan saya juga punya prinsip, kalau pasien saya tidak selamat saya rugi memangnya kalau pasien itu mati Jokowi mau tanggung jawap kan tidak to, terpaksa jalan untuk ambulans dibuka langsung,” katanya.

Seorang staf Puskesmas Sarmi Kota mengatakan kepada Jubi bahwa kehadiran Exsam sebagai sopir ambulans di sana sangat membantu.

“Saya salut dengan Pak De karena ia tidak kenal lelah, jadi semua masyarakat semua senang mendapat pelayanannya,” ucapnya.

Sebab, katanya, mana ada yang berani seperti Pak De yang dalam sehari bolak-ballik Sarmi-Jayapura membawa ambulans yang seringkali dalam kecepatan tinggi untuk menyelamatkan nyawa pasien.

“Dia kalo sudah jalan dengan bunyi sirene itu kendaraan rental kah, masyarakat itu semua minggir karena Pak De ini sudah terkenal,” katanya. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top