HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Koalisi Penegak HAM desak Polda Papua menindak dugaan pelecehkan tahanan perempuan

Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua pada Rabu (4/12/2019) memberikan keterangan pers dugaan pelecehan tahanan perempuan.
Koalisi Penegak HAM desak Polda Papua menindak dugaan pelecehkan tahanan perempuan 1 i Papua
Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua pada Rabu (4/12/2019) memberikan keterangan pers dugaan pelecehan tahanan perempuan.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Anggota Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua, Wehelmina Morin meminta Kepala Kepolisian Daerah atau Polda Papua segera menindak oknum polisi yang diduga mengintimidasi dan/atau melecehkan tersangka amuk massa di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, pada 23 September 2019. Polda Papua juga diminta segera memulangkan tersangka TTI itu untuk ditahan di Wamena.

Hal itu disampaikan Wehelmina Morin dalam keterangan pers di Jayapura, Papua, Rabu (4/12/2019). Morin menyatakan perempuan tersangka amuk massa di Wamena berinisial TTI mengalami teror intimidasi dan pelecehan itu saat berada di dalam penahanan polisi.

Koalisi Penegak HAM desak Polda Papua menindak dugaan pelecehkan tahanan perempuan 2 i Papua

Morin mengatakan, pasca demonstrasi anti rasisme yang berujung rusuh pada 23 September 2019 lalu, polisi menangkap dan menahan sejumlah tersangka. Menurutnya, TTI ditangkap polisi pada 11 Oktober 2019.

“Awal mulanya, seorang polisi bernama Yanuarius menelepon VI, ayah kandung TTI. Yanuarius meminta VI mengantar TTI ke Polres Jayawijaya. Selanjutnya pihak penyidik mengeluarkan surat pemberitahuan penangkapan pada tanggal 11 Oktober 2019 dan penahanan terhadap tersangka [TTI] sejak 12-31 Oktober 2019,” katanya.

Pada 15 Oktober 2019, TTI diintimidasi oleh seorang polisi. Intimidasi itu terjadi pada tengah malam, sekitar pukul 24.00 WP. Polisi yang membawa senjata api itu mendatangi ruang tahanan TTI di Kepolisian Resor Jayawijaya. Polisi itu menanyai TTI dengan nada mengancam, ‘“Kau ini yang membakar kampus dan rusuh 23 September ?,” tutur Morin menirukan ucapan oknum polisi itu.

Oknum polisi itu lalu mengarahkan senjatanya ke kaki TTI, sambil berkata ia ingin menembak kaki TTI. TTI sempat menjawab dengan meminta maaf kepada polisi itu. Akan tetapi, polisi terus memaki TTI dengan berbagai makian kotor. Morin menyatakan polisi itu juga mengancam akan membunuh TTI.

Loading...
;

Intimidasi kedua dialami TTI pada 17 Oktober 2019 sekitar pukul 22.00 WP. Menurut Morin, TTI didatangi seorang polisi yang lantas berkata agar TTI mengingat baik-baik muka polisi itu, dan menyatakan TTI akan segara mati.

“Polisi itu berkata kepada TTI, ‘kau hafal muka saya baik-baik. Kau itu tunggu waktu saja untuk mati. Kau itu di ujung kuku. Kau tidak ada harapan. Kau berdoa baik-baik supaya saya tidak bunuh kau.’,” ujar Morin menirukan intimidasi itu.

Morin mengatakan pada 29 Oktober 2019 polisi memindahkan penahanan TTI dari Polres Jayawijaya ke Rumah Tahanan Polda Papua, dengan alasan keamanan. Pemindahan lokasi penahanan TTI itu tidak diberitahukan kepada keluarga TTI.

“Saat tersangka dipindahkan ke Jayapura, tidak ada pemberitahuan pemindahan kepada keluarga. Setelah tersangka berada di Polda Papua, barulah orangtua tersangka mengetahui pemindahan itu. Orangtua TTI menyatakan kecewa, karena mereka berharap proses hukum TTI dijalankan di Wamena,” kata Morin.

Morin menyatakan di Rumah Tahanan Polda Papua itulah TTI mengalami pelecehan. “Menurut tersangka, pada 14 November 2019 jam 10.00 WIT, tersangka sedang membersihkan ruangan kunjungan tahanan. Tiba-tiba tersangka didatangi oleh anggota Polisi. Anggota polisi itu mengajak tersangka berhubungan badan. Ajakan itu disampaikan sebanyak empat kali,” katanya.

Pada 22 November 2019, Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Papua bertemu dengan TTI di Rumah Tahanan Polda Papua. Saat itulah TTI menyampaikan kronologi intimidasi dan pelecehan yang dialaminya kepada Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua. Morin menyatakan pihaknya juga telah bertemu seorang tersangka amuk massa Wamena lain yang telah dipindahkan ke Jayapura, NW, yang juga mengalami sejumlah intimidasi.

Anggota koalisi lainnya, Ganius Wenda mengatakan pihaknya juga mempertanyakan keabsahan pemindahan lokasi penahanan TTI dan NW. “Penyidik tidak memiliki kewenangan memindahkan tahanan. Setelah tersangka perempuan tiba di Rutan Polda papua awalnya dimintai keterangan BAP Tambahan dan selanjutnya menjalani penahanan di Rutan Polda Papua sampai sekarang,” katanya.

Wenda meminta polisi menghormati asas praduga tidak bersalah yang diatur Pasal 18 ayat (1) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM. Aturan itu menyatakan “Setiap orang yang ditangkap, ditahan, dan dituntut karena disangka melakukan sesuatu tindak pidana berhak dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya secara sah dalam suatu sidang pengadilan dan diberikan segala jaminan hukum yang diperlukan untuk pembelaannya, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Anggota koalisi lainnya, Yuliana Yabansabra membacakan pernyataan sikap Koalisi Penegak Hukum HAM Papua terkait kondisi penahanan NW dan TTI. “Kami Koalisi Penegak Hukum dan HAM untuk Papua, meragukan keamanan tersangka perempuan TTI selama berada di rumah tahanan Polda Papua,” katanya.

Koalisi meminta Kapolda segera menahan dan memproses oknum polisi Polres Jayawijaya dan oknum polisi Polda Papua yang diduga melakukan intimidasi dan pelecehan terhadap TTI. “Kapolda [harus] segera memerintahkan Bidang Propam menahan, memproses dan memecat dengan tidak hormat oknum anggota polisi yang melakukan pelanggaran disiplin Kepolisian Republik Indonesia terhadap Tersangka Perempuan di Rutan Polres Jayawijaya dan Rutan Polda Papua,” katanya.

Koalisi juga meminta polisi tidak lagi memakai dalil keamanan untuk memindahkan lokasi penahanan tersangka, karena polisi tidak memiliki wewenang itu. Polda Papua dituntut segera memulangkan tersangka NW dan TTI ke Wamena. “[Koalisi] mendesak Komisi Nasional Perempuan dan Komisi Nasional HAM untuk mengambil tindakan sesuai kewenangannya dalam melindungi korban kekerasan terhadap tersangka perempuan,” katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top