Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Kondisi peternak ketika ayam potong dan petelur naik

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KENAIKAN harga telur dan ayam potong masih hangat dibicarakan di Jayapura. Sebab kenaikan cukup tinggi dari sebelumnya. Tiga minggu lalu harga telur Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per rak (30 butir), kemudian naik menjadi Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu per rak.

Sama dengan telur, harga ayam potong juga naik drastis. Kenaikan seperti ini terbilang tidak biasa. Memang setiap menjelang lebaran harga telur dan ayam potong biasa naik, namun biasanya setelah lebaran lewat harga kembali turun seperti sebelumnya.

Kondisi peternak ketika ayam potong dan petelur naik 1 i Papua

Tapi sekarang harga yang naik tidak kemballi turun meski lebaran Idul Fitri sudah lewat. Bahkan bertambah naik. Apakah kenaikan ini berasal dari peternak dan menguntungkan peternak?

Untuk menjawab itu Jubi mendatangi peternak di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.

Saputra, 39 tahun, adalah warga Yoka, Kota Jayapura. Ia peternak ayam potong dan petelur yang kandangnya berada di Arso Kabupaten Keerom dan Kabupaten Jayapura. Ia juga mempunyai 16 plasma kemitraan mandiri di wilayah Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.

Ia mengaku, naiknya harga telur dan ayam potong di pasaran tidak menguntungkan bagi peternak.

Loading...
;

“Penyebab kenaikan adalah harga pakan yang naik karena dampak kenaikan dolar dan harga ayam Day Old Chick (DOC) turut naik sehingga membuat kapasitas produksi ayam turun, ini menyebabkan supply tidak sebanding dengan permintaan,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan dari dua faktor tersebut membuat harga pasaran ayam dan telur di Jayapura ikut naik.

Kenaikan, katanya, akan terasa bagi petani ayam sistem ekor, sedangkan untuk ayam sistem kiloan tidak masalah.

“Kami di sini menggunakan dua sistem harga, harga kiloan dan per ekor,” ujarnya.

Saputra menjelaskan sistem kiloan digunakan oleh perusahaan besar di Kota Jayapura. Perusahaan tersebut memberikan bibit hingga pakan kepada petani dan ketika panen ayam tersebut milik perusahaan. Jadi petaninya tidak terpengaruh kenaikan harga karena semuanya ditanggung dan diatur perusahaan.

Saputra mengelola 16 plasma mandiri yang saat ini memiliki 1.500 hingga 2.500 ekor ayam per plasma. Pasokan dari jaringan plasmanya tersebut tidak cukup memenuhi seluruh kebutuhan di Jayapura.

“Kebutuhan di Jayapura ini cukup banyak dan itu tak terpenuhi sehingga ayam beku juga diserap,” katanya.

Ia mengaku bahwa peternakan yang dirintisnya sejak 2008 tersebut bisa menghasilkan keuntungan yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

“Tapi kami tidak bisa menaikkan harga seenaknya karena adanya perusahaan besar yang mengontrol harga,” ujarnya.

Meski begitu, menurutnya peternak masih diuntungkan oleh fluktuasi harga seperti sekarang, sebab dengan kebutuhan yang tinggi ayam yang belum waktunya panen bisa dilempar ke pasar karena kebutuhan yang cukup tinggi.

“Anggap saja tiap harinya saya mendapatkan keuntungan bersih Rp 1 juta di mana waktu panen di 16 plasma itu saya atur sedemikian rupa untuk mencukupi kebutuhan ayam di pasaran, selain itu saya juga menjalankan bisnis ayam potong,” katanya.

Saputra berharap adanya kebijakan politik dari seluruh pemangku kepentingan untuk menyelamatkan industri peternakan rakyat yang kini kian tergilas oleh industri yang maju.

“Bagaimanapun pertarungan tidak imbang antara David melawan Goliath, persaingan yang tidak sehat antara peternak rakyat melawan para perusahaan besar harus segera diakhiri, kalaupun ada perlu peraturan daerah yang menginisiasi peternakan rakyat ” ujarnya.

Senada dengan Saputra, naiknya harga ditanggapi dingin oleh Andi Aprilianto. Peternak ayam petelur yang baru dua tahun menggeluti bisnis ini mengaku tidak merasa untung besar dari naiknya harga telur, sebab disesuaikan dengan harga pasar. Selain itu juga dipengaruhi harga pakan.

“Kalau saya waktu beternak ayam potong buntung karena uangnya diutang oleh para pemotong, harusnya ada uang ada barang, ini tidak, jadi modal belum bisa kembali, jadi macet di situ,” ujarnya.

Lalu ia beralih menjadi peternak ayam petelur dan mengaku langsung mendapatkan untung dari hasil penjualan telur.

“Karena menjanjikan ini sekarang saya tekuni dan untuk ayam potong saya pending karena tidak ada modal,” ujarnya.

Ia berharap adanya peran pemerintah untuk turut membantu perternakan rakyat yang ada sekarag sehingga peternakan juga ikut mendongkrak ekonomi kerakyatan.

Sahri, pemotong ayam di Kota Jayapura, mengaku membeli ayam dari perusahaan besar PT Sinar Mitra, sebab harga beli dan jualnya bisa dipastikan.

“Namun yang disayangkan kita nggak bisa memilih ayamnya, sebab kami harus beli dengan sistem kiloan, mau besar atau kecil nggak bisa milih,” ujarnya.

Ia mengaku membeli tiap kilogram ayam Rp 21 ribu, sehingga ia hanya melakukan pembelian sebanyak 200 kg tiap harinya dari perusahaan.

“Saya nggak berani berspekulasi banyak, karena sepi juga pembelinya,” ujarnya. (*)

 

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top