Konflik Intan Jaya, OAP terusir dari kampung halaman

Pengungsi di Bilogai, Intan Jaya, Papua
Foto ilustrasi, pengungsi konflik bersenjata Puncak yang berada di halaman Gereja Katolik Bilogai, Intan Jaya, beberapa waktu lalu - Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Bagi banyak orang asli Papua, kiasan bahwa Papua adalah surga kecil yang jatuh ke bumi semakin menyerupai dongeng atau mimpi belaka. Pasalnya, ribuan orang asli Papua di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Nduga terpaksa harus terusir meninggalkan kampung halaman mereka, karena konflik bersenjata yang terus terjadi di sana.

Aner Maisini, pemuda asal Intan Jaya, berkisah kepada Jubi tentang nasib orang asli Papua yang berdomisili di wilayah konflik. Maisini menyebut, orang asli Papua di wilayah konflik selalu hidup dalam ketakutan dan dibayang-bayangi trauma berkepanjangan.

“Rasa aman dan kenyamanan warga di delapan distrik [Kabupaten Intan Jaya] sudah terganggu akibat konflik bersenjata antara TNI/Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat. [Konflik bersenjata itu] merugikan seluruh pembangunan maupun aspek kehidupan di wilayah kami,” kata Aner Maisini kepada Jubi di Jayapura, Kamis (25/2/2021).

Baca juga: Pembunuh 3 warga sipil di Intan Jaya harus diproses hukum

Maisini menyangsikan klaim sejumlah pihak yang membantah informasi bahwa ribuan warga sipil Intan Jaya mengungsi. “Sampai hari ini, jumlah warga Intan Jaya yang mengungsi kurang lebih 10 ribu orang,” ujarnya.

Maisini menyebut tahun telah berganti tahun, bulan berganti bulan, dan hari lepas hari, namun nasib orang asli Papua tidak berubah. Orang Papua tidak pernah menikmati hidup tenteram di atas negerinya, dan dipaksa harus hidup menderita dalam gelombang pengungsian.

Warga Intan Jaya yang mengungsi terpisah dari sanak keluarga, karena berpisah tempat tinggal dan tercerai berai. Ada pula warga sipil yang mati sia-sia diterjang bedil aparat keamanan Indonesia.

Loading...
;

Contoh terkininya adalah pembunuhan tiga warga sipil di Intan Jaya, yaitu Janius Bagau, Soni Bagau, dan Justinus Bagau. Ketiganya diduga meninggal di tangan anggota TNI saat berada di Puskemas Bilogai pada 15 Februari 2021. Peristiwa itu terjadi setelah aparat keamanan melakukan penyisiran pasca penembakan yang menewaskan prajurit TNI bernama Prada Ginanjar.

Baca juga: 125 ton lebih bantuan pangan untuk pengungsi Intan Jaya

Jubi menerima kesaksian sejumlah pihak yang menyatakan bahwa Janius Bagau, Soni Bagau, dan Justinus Bagau yang dibunuh di Puskemas Bilogai itu adalah warga sipil. Akan tetapi, pada 16 Februari 2021, Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Kolonel CZI IGN Suriastawa mengatakan bahwa Janius Bagau, Januarius Sani (yang dalam kesaksian sejumlah pihak disebut bernama Soni Bagau), dan Justinus Bagau adalah anggota kelompok bersenjata. Pada 19 Februari 2021, Cenderawasih Pos melansir pernyataan Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni yang memastikan bahwa ketiga korban itu warga sipil.

Maisini menyebut pembunuhan ketiga warga di Puskesmas Bilogai itu membuat warga sipil semakin ketakutan. “Itu membuat masyarakat pergi mengungsi ke tempat yang aman. Mereka ada yang pergi ke Nabire, Timika, Paniai dan daerah sekitarnya,” ujar Maisini.

Ia menyatakan di kampung halamannya, Hitadipa, tidak ada lagi masyarakat yang tinggal di tanah kelahiran mereka. Kurang lebih 1.600 jiwa warga di sana telah mengungsi sejak pembunuhan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani pada 19 September 2020 lalu. Kini aparat keamanan TNI/Polri memegang kendali di Hitadipa.

“Gereja tutup. Puskesmas tutup. Pelayanan pemerintah juga tutup. Sekolah apalagi, tidak ada aktifitas belajar mengajar. 320 siswa SD dan SMP Satu Atap YPPGI Hitadipa jadi korban. 57 dari siswa SD dan SMP kelas akhir terancam tidak bisa ikut ujian kelulusan. Semua lumpuh total. Warga takut. Aparat TNI-Polri diminta keluar dari Hitadipa. TPN-OPM juga jangan meneror dan menakuti masyarakat,” ujar Maisini.

Baca juga: Pemkab Intan Jaya laporkan banyak warganya yang mengungsi 

Anggota Majelis Rakyat Papua MRP, Pdt Nikolaus Degei menyatakan pembunuhan terhadap tiga warga sipil di Intan Jaya pada 15 Februari 2021 merupakan pelanggaran hukum yang berat. Degei meminta para pelaku pembunuhan itu diproses secara hukum.

Nikolaus Degei mengkritik kebijakan pemerintah yang terus menambah pasukan aparat keamanan di Papua, karena justru memperluas konflik bersenjata yang mengorbankan warga sipil. Konflik bersenjata di Intan Jaya terus berkepanjangan, membuat warga sipil harus meninggalkan kampungnya dan mengungsi, bahkan menjadi korban.

“Tanah Intan Jaya merupakan rumah mereka, tempat tinggal mereka, dan Gereja mereka. Negara harus berfikir baik, penambahan militer di daerah pegunungan Intan Jaya, Nduga, dan Puncak membuat warga sipil harus lari ketakutan ke hutan,” kata Pdt Nikolaus Degei saat dihubungi Jubi melalui panggilan telepon pada Selasa (23/3/2021).

Operasi yang dilakukan aparat keamanan di Intan Jaya, Puncak, dan Nduga membuat warga sipil tidak bisa beraktivitas. “Kekacauan membuat aktivitas masyarakat, [termasuk] aktivitas sekolah, tidak berjalan dengan baik. Apakah negara masih menganggap warga masyarakat Nduga, Puncak, dan Intan Jaya sebagai warga negara Indonesia? Apakah negara menganggap mereka [warga sipil] itu sebagai Organisasi Papua Merdeka [atau OPM], Kelompok Kriminal Bersenjata, dan Kelompok Separatis Bersenjata,” kata Degei.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top