Follow our news chanel

Kota Jayapura terpilih ikut gerakan baca buku kepada anak

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, bersalaman anak-anak saat acara telekonferesi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan - Jubi/Ramah
Kota Jayapura terpilih ikut gerakan baca buku kepada anak 1 i Papua
Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, bersalaman anak-anak saat acara telekonferesi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Wali Kota Jayapura menyarankan agar orangtua menceritakan kisah-kisah yang anak-anak senangi dan sesuai dengan tumbuhkembangnya, minimal satu jam setiap hari.

Ibarat sebuah kertas kosong, perkembangan anak sangat tergantung bagaimana pola pendidikan yang mereka peroleh, terutama dari orang-orang terdekat seperti orang tua.

Dengan menjadikan buku sebagai media pendidikan, orangtua diharapkan bisa mengembangkan anak sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing anak untuk menjadi lebih baik.

Demikian dikatakan Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano pada acara Telekonferensi Gerakan Nasional Orangtua Membacakan Buku (Gernas Baku) bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI di Kantor Wali Kota Jayapura, Sabtu, 27 Juli 2019.

Pada acara yang dihadiri Bunda PAUD di Kota Jayapura tersebut, Wali Kota menyatakan dengan membaca dapat mengetahui berbagai informasi sehingga bisa mengikuti perkembangan zaman.

Buku, katanya, merupakan media yang bisa digunakan untuk membaca. Karenanya orangtua diajak turut serta dalam perkembangan minat baca anak dengan membacakan buku dari usia dini.

Loading...
;

“Berikan perhatian kepada anak-anak dengan membudayakan membacakan buku,” katanya.

Diakui Tomi Mano, berdasarkan pengamatannya sering ia temui anak-anak menghabiskan waktu bersama gawai untuk bermain game daripada mencari informasi.

“Ceritakan kisah-kisah yang anak-anak senangi dan sesuai dengan tumbuh kembang anak yang dimulai dari keluarga dan orangtua, minimal satu jam setiap hari tanpa adanya gadget tapi dengan buku,” ujarnya.

Mano juga mengajak guru di sekolah agar lebih aktif menceritakan kisah-kisah dalam buku bacaan dan meminta anak untuk menceritakan ulang dari cerita yang sudah dibacakan.

Hal dimaksudkan agar bisa menambah kosa kata dan melatih menyusun kalimat dengan baik.

“Saya harapkan sekolah menyediakan bahan bacaan yang bisa menarik perhatian anak-anak sehingga bisa berinteraksi dengan buku,” katanya.

Gerakan orangtua membacakan buku kepada anak sudah diluncurkan di Kota Jayapura bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2018. Karena itu, kata Tomi Mano, sekolah harus menindaklanjutinya agar tidak menjadi seremonial saja.

“Sehingga terbukti Kota Jayapura sebagai smart city, kota beriman, dan menjadi kota yang maju berbasis kearifan lokal,” ujarnya.

Menurutnya, orangtua membacakan buku kepada anak adalah sebuah kebutuhan dalam pengasuhan untuk mengoptimalkan kemampuan komunikasi dan berbahasa yang baik.

“Apa yang sudah dikerjakan kita akan tuai di masa yang akan datang, anak-anak kita yang sedang menimba ilmu di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), 20 tahun mendatang akan menjadi pemimpin yang membawa perubahan di Kota Jayapura,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura Fahrudin Pasolo menyatakan Gernas Baku adalah program dari Kemendikbud RI yang mendapatkan respons baik dari masyarakat di Kota Jayapura.

“Sehingga tahun ini dilakukan lagi Gernas Baku dari seluruh kabupten/kota di Indonesia, Kota Jayapura dan Kota Mataram ditunjuk untuk melakukan Gernas Baku sekaligus ada telekonferensi,” katanya.

Dikatakan Pasolo, pelaksanaan Gernas Baku mengajak seluruh orangtua untuk menanamkan kebiasaan anak sejak dini usia 4-6 tahun untuk gemar membaca dan cinta buku.

Dalam pelaksanaan Gernas Baku, diakui Pasolo sejak dicanangkan tidak menemui hambatan, karena gencar melakukan sosialisasi. Sebab masyarakat menyambut baik program tersebut.

“Dengan membacakan buku pada anak dapat mempererat hubungan sosial dan emosi antara anak dan orangtua, ceritakan buku yang mendidik sehingga anak terbiasa membaca, karena anak terbiasa dengan gadget akibat mencontoh dari orangtuanya,” katanya.

Pasolo mengakui membacakan buku pada anak merupakan solusi dalam menghindarkan kebiasaan anak yang menghabiskan waktu menonton televisi dan bermain.

“Selain sosialisasi, setiap ada pertemuan dengan orangtua siswa, kami selalu ingatkan agar membacakan buku pada anak, kami juga menggelar lomba membaca tingkat PAUD, SD, dan SMP,” ujarnya.

Warga Jayapura, Dewi Awarawi, mengaku jarang membacakan buku kepada anaknya di rumah, karena belum memahami pentingnya membacakan buku bagi anak.

“Saya mengarang sendiri cerita agar anak terhibur, saya cuma sekolahkan anak tapi tidak ajarkan ayo baca buku, begitu saya ikut acara Gernas Baku yang diselenggarakan pemerintah Kota Jayapura sangat membatu saya untuk menghadapi anak,” ujarnya.

Untuk menghindari kebiasaan anak bermain gadget, serta menumbuhkembangkan minat baca pada anaknya yang baru berusia 2 tahun, Awarawi mengaku mulai membacakan buku.

“Anak saya mulai terbiasa tanpa gadget, saya rasa ini bermanfaat untuk saya maupun kepada orangtua lainnya, dan patut dilaksanakan, saya akui anak saya tumbuh dengan gadget, karena setelah makan saya biarkan main gadget, bangun tidur juga main gadget,” ujarnya.

Menurut Awarawi, kebiasaan anak bermain gadget sangat tidak efektif mengajarkan anak pada usia dini, sebab tidak ada sosialisasi antara orangtua dan anak.

“Untuk menjauhkan anak dari gadget, harus mulai rutin membacakan buku kepadanya di rumah agar mengalihkan perhatian anak dari gadget,” katanya. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top