TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Krisis ekonomi mengintai Afghanistan, satu bulan setelah dikuasai Taliban

Papua kemiskinan
Ilustrasi kemiskinan, pixabay.com

Papua No.1 News Portal | Jubi

Kabul, Jubi – Afghanistan menghadapi  masalah menakutkan ketika kelompok Taliban berusaha mengubah kemenangan militer kilat mereka menjadi pemerintahan masa damai yang tahan lama. Ekonomi Afghanistan diperkirakan hancur meski bantuan ratusan miliar dolar telah disalurkan dalam pengeluaran pembangunan selama 20 tahun terakhir.

Negara itu juga didera kekeringan dan kelaparan yang mendorong ribuan orang dari pedesaan ke kota-kota. Sedangkan Program Pangan Dunia PBB (WFP) khawatir persediaan pangan bisa habis pada akhir September, yang dapat mendorong hingga 14 juta orang ke jurang kelaparan.

Baca juga : Biaya pencegahan krisis kemanusiaan Afghanistan mencapai 600 juta dolar 

Siap ambil alih Bandara Kabul, Taliban minta bantuan teknis dari Qatar 

Biaya pencegahan krisis kemanusiaan Afghanistan mencapai 600 juta dolar

Sementara itu perhatian banyak negara Barat terfokus pada apakah pemerintah baru Taliban akan menepati janjinya untuk melindungi hak-hak perempuan atau menawarkan perlindungan kepada kelompok-kelompok militan seperti al Qaeda.

Bagi banyak warga Afghanistan, prioritas utamanya adalah kelangsungan hidup yang sederhana. “Setiap warga Afghanistan, anak-anak, mereka semua lapar, mereka tidak punya sekantong tepung atau minyak goreng,” kata seorang penduduk Kabul bernama Abdullah.

Hal itu dibuktikan dengan kondisi antrean panjang masih terbentuk di luar bank-bank, tenpat batas penarikan mingguan sebesar 200 dolar AS atau sekitar Rp2,85 juta telah diberlakukan untuk melindungi cadangan uang negara yang semakin menipis.

Pasar-pasar dadakan juga muncul saat warga menjual barang-barang rumah tangga untuk mendapatkan uang tunai bermunculan di seluruh Kabul, meskipun pembeli kekurangan pasokan.

Bahkan dengan bantuan asing senilai miliaran dolar, ekonomi Afghanistan masih terus kesulitan dengan pertumbuhan yang gagal untuk mengimbangi peningkatan populasi yang stabil.

Lapangan pekerjaan langka dan banyak pekerja pemerintah tidak dibayar setidaknya sejak Juli. Walaupun sebagian besar orang tampaknya menyambut baik berakhirnya pertempuran, kelegaan itu telah diganggu dengan kemungkinan keruntuhan ekonomi yang hampir terjadi. “Keamanan cukup baik saat ini tetapi kami tidak mendapatkan apa-apa,” kata seorang tukang daging dari daerah Bibi Mahro di Kabul, yang menolak menyebutkan namanya.

Sementara itu setelah evakuasi asing yang kacau di Kabul pada Agustus lalu, penerbangan pertolongan pertama mulai berdatangan saat bandara dibuka kembali. Sejumlah donatur internasional telah menjanjikan bantuan senilai lebih dari 1 miliar dolar AS untuk mencegah sesuatu yang oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah diperingatkan bisa menjadi “runtuhnya seluruh negara (Afghanistan).”

Namun dunia internasional bereaksi dingin terhadap pemerintahan Taliban yang diumumkan pekan lalu, dan belum ada tanda-tanda pengakuan internasional atau langkah untuk membuka blokir terhadap cadangan devisa senilai lebih dari 9 miliar dolar AS yang disimpan di luar Afghanistan.

Meskipun para pejabat Taliban telah mengatakan bahwa mereka tidak bermaksud mengulangi aturan fundamentalis yang keras dari pemerintahan mereka sebelumnya, Taliban telah berusaha untuk meyakinkan dunia luar bahwa mereka telah benar-benar berubah. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us