Follow our news chanel

Previous
Next

Krisis populasi PNG melejit, kontrasepsi masih tabu

Seorang perawat membantu Julie setelah melahirkan Isaac. - ABC News/ Natalie Whiting
Krisis populasi PNG melejit, kontrasepsi masih tabu 1 i Papua
Seorang perawat membantu Julie setelah melahirkan Isaac. – ABC News/ Natalie Whiting

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Mount Hagen, Jubi – Julie Waringi telah menginap di Rumah Sakit Mount Hagen di daerah dataran tinggi Papua Nugini selama dua minggu, menunggu kelahiran anak keenamnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam dari desanya ke kota itu, ia memutuskan untuk tetap tinggal.

“Saya melihat fasilitas di sini, ada dokter yang bertugas 24 jam. Karena saya sudah beberapa kali hamil dan bersalin, saya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit,” katanya.

Keputusannya mungkin merupakan langkah yang bijak, PNG memiliki tingkat kematian ibu tertinggi di Pasifik. Lebih dari 2.000 ibu meninggal dunia saat melahirkan anaknya di PNG setiap tahun.

Setelah hanya dua jam bersalin, Waringi melahirkan anak laki-laki yang dinamai Isaac. Waringi mengakui kadang-kadang memang sulit baginya untuk membiayai anak-anaknya.

“Memang agak sulit. Tapi kita di desa, jadi ada banyak makanan dan berkebun. Jadi tidak apa-apa,” katanya.

Memiliki keluarga yang besar adalah hal yang umum di negara itu, dan anak-anak dipandang sangat penting karena kepemilikan tanah diwariskan melalui garis keluarga. Rata-rata setiap perempuan di PNG akan memiliki lebih dari empat anak. Di dataran pegunungan tinggi, angka rata-rata ini lebih dari lima anak.

Loading...
;

Akibatnya, populasi negara ini berkembang pesat, dan ada kekhawatiran bahwa layanan publik tidak bisa berkembang secepat itu. Pemerintah PNG mengakui pentingnya mengatasi isu pertumbuhan populasi dan berkata bahwa keluarga berencana dan alat kontrasepsi adalah bagian dari upaya itu.

Tetapi di negara dengan kepercayaan agama dan budaya yang kuat, hal itu bukanlah tugas yang mudah.

PNG memiliki tingkat pengguna kontrasepsi yang rendah, hanya 37% perempuan yang sudah menikah dan 18% perempuan yang belum menikah yang menggunakan alat kontrasepsi. Sebagian besar kawasan di PNG memiliki budaya patriarki yang kuat dan perempuan harus mendapatkan izin dari suaminya untuk menggunakan kontrasepsi.

Cathy Tukne seorang staf LSM bercerita tentang seorang perempuan yang datang ke kliniknya karena ingin menggunakan kontrasepsi, tetapi suaminya muncul dengan senjata untuk menjemputnya.

Tukne sendiri terpaksa berhenti dari perguruan tinggi ketika dia hamil dan orang tuanya berhenti membiayainya. Sekarang, ibu dua anak ini ingin perempuan diberdayakan agar dapat membuat pilihan mereka sendiri. Ia mengakui tradisi maskawin, di mana keluarga suami memberikan uang dan babi kepada keluarga perempuan saat acara meminang dapat mempersulit keluarga berencana.

“Laki-laki memutuskan berapa banyak anak yang dia inginkan dan jika perempuan itu tidak mau, suami bisa memerintahkan dia, ‘Saya sudah membayar maskawin jadi kamu harus punya anak’,” tutur Tukne.

Perempuan juga dapat menghadapi tekanan dari keluarga besar dan komunitas mereka mereka mengenai anak. Di negara yang sangat Kristen, agama juga bisa mempersulit, beberapa gereja di PNG menentang kontrasepsi dan beberapa pendeta bahkan percaya bahwa implan adalah pekerjaan iblis.

Seorang pria berkata ia harus berjalan melalui hutan-hutan selama satu minggu untuk bisa di-vasektomi. Dengan laju pertumbuhan saat ini, populasi PNG diperkirakan akan berlipat ganda setiap 30 tahun. Negara ini dilaporkan saat ini memiliki populasi 8 juta orang, tetapi tidak ada ada yang tahu apakah jumlah itu benar.

Sudah delapan tahun berlalu sejak sensus dilakukan, dan itu pun dianggap gagal. Sensus berikutnya baru akan dilakukan tahun depan. (ABC News)


Editor : Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top