Kritik sastra Lembayung Senja 

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

NOVEL "Lembayung Senja" (2018), karya Alfrida V.P. Yamanop, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih (Uncen) diberi apreasiasi oleh sejumlah pihak di Papua.

Hal itu mengemuka dalam bedah buku di Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, Selasa, 27 November 2018.

Dipandu moderator Andy Tagihuma, dengan menghadirkan pembicara Sri Yono dari Balai Bahasa Papua dan Raymond Fatubun dari Uncen, dan penulis sendiri, serta praktisi, mahasiswa, dan pelajar, bedah buku di Balai Bahasa Papua, Selasa pagi sampai tengah hari menjadi alot.

Karya perdana novelis perempuan asli Papua asal Merauke ini memantik emosi dan keingintahuan pembaca. Novelnya bercerita tentang persahabatan, cinta, mahasiswa, dan tentang Papua. 

Dengan setting Papua dan karakter-karakter yang dimunculkan, novel ini juga dapat memberikan referensi tentang Papua terutama bagi pembaca di luar Tanah Papua.

Kepala Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, Suharyanto, mengatakan bedah buku baru dilakukan di Balai Bahasa sepanjang 2018. Selama ini memang banyak kegiatan berkaitan dengan sastra, tapi hanya berupa bengkel sastra dan lain-lain.

Loading...
;

Menurutnya, kritik sastra sangat penting, mengingat komponen dalam karya sastra adalah masyarakat, penulis dan kritikus. Yang dilakukan saat ini adalah kritik, meski tidak dalam bentuk kritik akademik an sich (akademik). Kritik sastra berguna bagi masyarakat dan penulis atau pengarang sendiri.

Bagi pengarang karya yang sudah melalui proses, termasuk analisis, interpretasi, dan proses penilaian, maka hasil akhir adalah penilaian. 

"Melalui kritik seorang pengarang mengetahui bagian mana sisi lemah dan sisi kuatnya, baik sisi estetis maupun ekstraestetis," kata Suharyanto.

Sedangkan bagi masyarakat atau pembaca, lanjutnya, mereka mendapat pemahaman baru, setidaknya soal ukuran baik tidaknya sebuah karya sastra.

Dengan cara seperti itu, katanya, semakin membawa keuntungan bagi penulis sendiri. Dengan demikian, karyanya diapresiasi oleh masyarakat.

Dari sisi ekonomi, pengarang mendapatkan pembaca yang lebih luas. Pada gilirannya memicu pembelian yang mendapatkan keuntungan ekonomis. 

Di tempat yang sama, Alfrida V.P. Yamanop memberi apresiasi kepada semua pihak yang menerima karya perdananya dan memberikan masukan dan catatan. Bagi Yamanop, kritik sastra dapat membantu penulis untuk menghasilkan karya-karya kreatif yang berbobot dan diterima masyarakat.

"Dengan bedah buku ini (akan) direvisi dan diterbitkan edisi revisinya," katanya 

Alfrida berharap, peserta yang hadir saat bedah buku, terutama mahasiswa dan pelajar, terinspirasi untuk menulis atau menuangkan ide-idenya. 

Menurut dia, untuk menerbitkan sebuah buku sekelas novel, bukan proses yang mudah. Itu membutuhkan perjuangan ekstra.

Dirinya bahkan mengaku punya kecenderungan menulis tentang persahabatan dan perbedaan-perbedaan (pluralitas) di Tanah Papua.

"Tapi bagaimana menulisnya dengan pikiran terbuka," kata Yamanop, yang berencana menulis baru dengan tema yang sama dengan setting tahun 1970-an.

Sebagai penulis yang baru menerbitkan karyanya, menurut dia, di Papua masih kesulitan menerbitkan karyanya. Selain itu, media publikasi juga penting untuk sebuah karya sastra yang sudah dihasilkan. 

Oleh karena itu, dia berharap agar anak-anak Papua tidak berkecil hati, tapi terus menulis tentang Papua.

Akademisi Uncen, Raymon Fatubun, usai memaparkan materinya, mengatakan bedah buku sangat penting untuk karya sastra yang sudah diterbitkan. Dengan itu, pembaca diajak berpikir, merenung, dan menelaah karya tersebut.

"Sastra jangan cuma pada nilai-nilai hiburan (hedonistik), tapi juga yang lebih didaktik, yang mendidik, yang berpikir. Menelaah supaya kita tahu apa sebenarnya yang tercantum di dalamnya," kata Raymond.

Dosen pascasarjana Pendidikan Bahasa Inggris Uncen ini menilai banyak karya sastra yang masih pada level hedonistik. Oleh karena itu, bedah buku merupakan fase yang harus dilakukan untuk menambah bobotnya sebuah karya.

Sastra-sastra tentang Papua dianggap masih langka. Kalaupun ada, itu ditulis oleh orang-orang dari luar Papua. Hal ini dapat menjadikan cerita tentang Papua tidak utuh.

Di sekolah-sekolah bahkan dinilai masih terkendala untuk membandingkan karya-karya sastra. Hal ini dikemukakan salah satu peserta. Disebutkan, para siswa masih kesulitan mencari novel tentang Papua di sekolah untuk membandingkan novel Papua dan luar Papua.

Koordinator Komunitas Sastra Papua (Kosapa), Andy Tagihuma, minta peran Pemerintah untuk mengakomodir karya sastra dan sastrawan Papua.

"Karya dari luar tentang Papua juga kadang bertolak belakang dengan realita di Papua," kata Andy sambil mencontohkan, banyak dongeng atau cerita-cerita rakyat yang ditulis di luar Papua. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top