Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Kuliah online pada masa pandemi covid-19  

Suasana video conference antara Telkomsel dengan Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua dan kepala sekolah tingkat SMA & SMK se Provinsi Papua. - Dok. Telkomsel
Kuliah online pada masa pandemi covid-19    1 i Papua
Suasana video conference antara Telkomsel dengan Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua dan kepala sekolah tingkat SMA & SMK se Provinsi Papua. – Dok. Telkomsel

Oleh: Agustinus Sarkol

Dalam melihat dan menimbang pergumulan kaum terpelajar, penulis ingin merefleksikan dan menulis sejenak upaya untuk membangun pengetahuan yang terhambat akibat pandemi covid 19, dan wacana sederhana yang dapat diupayakan pelajar dan pengajar.

Dalam dunia filsafat, konstruktivisme adalah aliran filsafat yang menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi manusia. Manusia pada dasarnya merekonstruksi pengetahuannya melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan sekitar.

Pengetahuan ini benar jika terbukti berguna untuk memecahkan pelbagai persoalan hidup sehari-hari. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja kepada seseorang, melainkan orang itu sendiri yang merekonstruksi pengetahuannya.

Pengetahuan bukanlah sebuah paket yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang terus berkembang. Dengan demikian, baik yang memberi pengetahuan, maupun yang menerima sama-sama bekerja demi keutuhan dan pengembangan pengetahuan itu.

Lantas bagaimana dengan dunia pendidikan, ketika marak dan masifnya virus corona di Papua?

Pendidikan di Papua pelan-pelan terbentuk dan perlahan pula redup seirama dengan masuknya covid-19 di Papua. Hampir sebagian besar sekolah menerapkan kuliah online. Tidak ada jalan lain selain kebijakan kuliah online.

Loading...
;

Meskipun para pelajar terkendala paket data, tugas dan bahan kuliah terus dikirimkan oleh para pengajar. Para pelajar pun harus aktif mengikuti semua anjuran para pengajar meski terkendala berbagai macam hal.

Implikasi konstruktivisme dalam proses belajar-mengajar

Belajar adalah sebuah kegiatan yang aktif. Sebuah kegiatan yang tersistematisasi dengan daya pikir untuk menerima pengetahuan. Menerima dan mengulang di rumah, itulah tugas seorang pelajar dalam menerima pengetahuan.

Tak hanya itu, seorang pelajar dituntut untuk membuat hipotesa (analisis) terkait dengan pengetahuan yang diberikan. Membuat analisa membutuhkan kecermatan dan keterampilan, membutuhkan waktu yang cukup untuk menata atau mengkonstruksi pengetahuan itu secara baik dalam akal dan dituangkan dalam tugas-tugas yang diberikan.

Proses-proses di atas dapat berjalan ketika kita memperhatikan beberapa hal. Ada tiga hal yang saya kutip dari Dr. Paul Suparno dalam bukunya  Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan (1997:61), di antaranya:

  • Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami;
  • Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan lebih suatu pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian baru;
  • Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui oleh pelajar mengenai konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.

Nah, bagaimana dengan situasi kuliah online yang terus membayang dan menakut-nakutkan mahasiswa? Bukan untuk menakutkan karena ketidaktahuan, tetapi karena tidak cukup waktu dan keterbatasan ruang untuk membuat analisa.

Apakah selama kuliah online para mahasiswa hanya membuat tugas, dan tidak adanya waktu untuk membaca buku? Ataukah karena dianggap generasi sekarang tidak memaksimalkan waktu?

Menurut pemahaman penulis, bahwa semua hal itu perlu dipikirkan. Bukan untuk membatasi ruang pengetahuan, tetapi alangkah baiknya dipikirkan ruang analisa atau hipotesa dari para pelajar untuk membangun sebuah pengetahuan.

Dampak dari hal ini bahwa kebanyakan pelajar melakukan plagiat atau copypaste dari internet, karena merasa gampang dan mudah. Alasannya karena ada banyak tugas dan tidak ada waktu untuk istirahat.

Sampai di sini apakah pelajar/mahasiswa disalahkan karena tidak memaksimalkan waktu, ataukah juga karena alasan banyak tugas?

Jika demikian, penulis juga ingin mengangkat konstruksi pengetahuan dari para pengajar.

Mereka dengan hati yang mulia sudah bersedia meluangkan waktu dan tempat untuk memberikan kuliah online. Kebutuhan dan kesenangan keluarga tak mereka hiraukan demi pendidikan, mereka pun bersedia.

Para pengajar dengan semangatnya berusaha semaksimal mungkin membangun ruang belajar dengan para pelajar. Misalnya dengan membuat grup WhatsApp untuk satu mata kuliah tertentu. Tergantung kreativitas para pengajar.

Meskipun tidak tatap muka, cara membangun pengetahuan seperti ini membuat para pengajar merasa terbantu. Dengan melihat tulisan dari para pelajar, seorang pengajar sudah merasa terbantu untuk mengetahui bagaimana daya nalar seorang pelajar.

Menjadi seorang pengajar yang konstruktivis adalah menjadi mediator dan fasilitator untuk membantu proses belajar para pelajar.

Dengan beberapa hal di atas, seorang pengajar bertanggung jawab dalam membuat dan mempersiapkan keaktifan mengajar bagi para pelajar.

Dengan demikian, kegiatan mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari seorang pengajar kepada pelajar, tetapi bagaimana membangun sebuah hubungan, sebuah metode yang baik dan benar dalam menggapai kegiatan belajar yang aktif, kreatif dan menyenangkan, baik untuk pengajar maupun bagi pelajar.

Kekurangan konstruktivisme dunia pendidikan (kuliah online) dengan wacana masa depan

Dalam pembelajaran tatap muka, para pelajar belum bisa secara maksimal menangkap pengetahuan, apalagi dengan kuliah online.

Baik jika ada tatap muka melalui aplikasi-aplikasi yang direkomendasikan. Tetapi ironis ketika hanya berbasis tugas-tugas. Apakah semua pelajar/mahasiswa mampu menangkap pengetahuan seperti itu?

Dalam hal ini perlu pertimbangan yang lebih lanjut, melihat situasi dan kondisi di tanah ini, yang mana pendidikan belum berjalan secara merata.

Apakah dengan ini, konstruksi pengetahuan hanya sebatas fondasi untuk mendapatkan ijazah ataukah membangun pengetahuan hingga mencapai atap keberhasilan?

Penulis merasa bersyukur bagi sekolah-sekolah yang lengkap dengan tools pengetahuan, ada jaringan wifi dan aplikasi-aplikasi yang dibuat oleh sekolah untuk merekonstruksi sistem pendidikan yang non face to face but face to HP and laptop. Semua itu baik.

Namun, bagaimana dengan sekolah yang tidak mampu, apakah ada kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan? Siapakah yang akan dirugikan? Di sinilah kebiasaan banyak pihak terkait yang menutup mata.

Berikut ialahmasalah moralitas, kebiasaan para pelajar yang tidak tahu-menahu menggunakan alat komunikasi dengan baik dan benar, menggunakan HP dan laptop bukan untuk membuat tugas, malah menonton film—rohani dan film profan—dari film Korea hingga ke daratan India. Inilah penyimpangan konstruktivisme dalam kuliah online.

Mereka ingin membangun, tetapi salah tempat dan salah ruang. Ruang untuk belajar malah dipakai untuk rekreasi.

Nah, berkaitan dengan beberapa hal di atas, bagaimanakah wacana pendidikan ke depan?

Kalau semua pihak hanya mencari kesenangan, apalah daya dunia pendidikan di tanah Papua ini. Apakah dengan merekonstruksi pengetahuan selama pandemi covid-19 sudah berjalan baik?

Kalau ternyata pihak pengajar dan pelajar hanya mencari kenyamanan dalam sebatas memberi dan mengerjakan tugas, dan tidak memikirkan efek dari wacana pendidikan di Tanah Papua, maka hemat saya kita semua akan meraba-raba, kemanakah dan untuk apakah pendidikan sekarang ini?

Dengan demikian, penulis ingin mengangkat beberapa hal penting. Pertama, sebagai seorang pelajar harus sadar bahwa pendidikan itu bukan hanya sebatas mengerjakan tugas, ujian, mendapatkan nilai, dan selesailah pendidikan, tetapi bagaimana menganalisis dan membuat sebuah kesimpulan pengetahuan yang berguna bagi masyarakat dan diri sendiri.

Terkait dengan kuliah online harapan saya agar kita membangun sebuah konstruksi yang memadai. Belajar membuat analisis meskipun waktu tak cukup, belajar untuk berpikir sendiri tanpa harus plagiat. Belajar untuk memanajemen waktu, ada waktu untuk menonton dan ada waktu untuk tidur, dan ada waktu pula untuk belajar. Semuanya perlu diatur.

Kedua, sebagai seorang pengajar, penulis ingin mengajak untuk membuat sebuah metodologi yang tepat guna. Tidak setiap saat hanya memberikan tugas lewat dokumen microsoft word, excel, power point. Tetapi mungkin bisa mengirim bahan ajar melalui video. Atau hal-hal lainnya yang membangun semangat belajar yang memiliki korelasi terhadap bahan ajar.

Hemat penulis, para pengajar menciptakan sebuah metodologi belajar yang aktif, kreatif, dan inovatif, dan tersistematis, sesuai kebutuhan dasariah para pelajar.

Tak hanya itu, bagi semua orang, baik orang tua, maupun pihak-pihak yang terkait untuk kembali meninjau apakah rekonstruksi belajar online sudah berjalan secara maksimal atau belum?

Itu perlu kebijakan dan kebersamaan dalam membangun sebuah metodologi yang memadai. Waniambey. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top