HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Kuliner asli Papua di hotel berbintang

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

“Papeda ada? Masa di Papua kita tidak bisa mencicipi papeda?” kata seorang tamu di sebuah hotel dari luar Papua kepada penyelenggara acara.

“Bisa, nanti kami pesan,” kata penyelenggara acara.

Maka pada makan siang terhidanglah makanan khas Papua yang sering menjadi buah bibir bagi orang luar jika berkunjung ke Papua, papeda. Hotel tersebut bisa menyediakan pesanan karena telah siap dengan menu lokal.

Memang, hotel-hotel berbintang di Kota Jayapura telah menyiapkan menu lokal Papua untuk tamunya. Bukan hanya saat acara, tetapi juga untuk suguhan sarapan.

Manager Front One Hotel Ahmad Aziz mengatakan selalu menyiapkan suatu spot khusus atau corner masakan asli Papua, meskipun hanya sebatas Papeda atau Sagu Bakar.

“Kami tiap hari menyiapkan salah satu makanan asli seperti sagu bakar, papeda, dengan sayur daun kangkung, tumis pakis, woku atau kuah kuning, kami siapkan bahan sagu namun kondimennya begarnti-ganti,” ujarnya.

Loading...
;

Aziz mengaku tak kesulitan mendapatkan bahan baku karena menurutnya konsumsi sagu, khusus di Papua masih berlimpah, sebab masyarakat Papua tak semuanya makan sagu sehingga olahan bisa dibuat dari sagu.

Menurutnya pada lomba cipta menu yang diadakan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Papua yang bekerja sama dengan berbagai instansi di Jayapura pada September 2018 tidak terlihat adanya masakan yang diciptakan untuk dijual atau dikomerisilkan.

“Kita ini (di hotel) perlu semi instan, sebab perlu bahan baku yang beramacam-macam, jadi apa yang ditawarkan dalam lomba cipta menu tersebut bisa dikatakan untuk variasi konsumsi pribadi atau rumahan,” ujarnya.

Meski begitu ia mengapresiasi lomba tersebut, meski perlu adanya poin komersil, sebab jika dipakai hotel, pihak hotel perlu adanya pertimbangan preparation, bahan, dan cost (biaya) sehingga  tercipta menu-menu yang bisa bervariasi, namun juga bisa dikomersilkan.

Ia memandang perlu adanya langkah startegis dari berbagai pihak seperti stakeholder dari Indonesian Chef Association (ICA), entrepreneurship,dan komersil seperti PHRI untuk bisa membuat cipta menu makanan lokal, sehingga akan muncul produk yang layak jual, layak dinikmati dan bisa dimakan.

“Tak hanya persiapan dalam momen PON 2020 namun juga akan menjadi menu nasional khusus berbahan lokal dari Papua,” katanya.

Senada dengan Ahmad Aziz, Ketua PHRI Papua, Sahril Hasan, mengakui perlu adanya kerja sama semua pihak di daerah untuk menyiapkan pangan lokal yang akan diserap oleh perhotelan. Selain itu juga menyiapkan sumber daya manusia.

“Tentu semua harus terjangkau, dibuat semacam kesinergian sehingga ada bahan bakunya dan tidak mahal mendapatkannya,” ujarnya.

Ia berharap agar pemerintah daerah membuat restoran khusus makanan lokal dan adanya promosi makanan lokal, tak hanya diadakan di berbagai lomba saja melainkan juga menjadi sumber ekonomi masyarakat.

“Sehingga pemerintah daerah bisa menggerakkan ekonomi rakyat dengan pangan lokal tersebut, selain itu menu makanan lokal juga disediakan oleh chef internasional yang ada di hotel-hotel,” ujarnya.

General Manager Horison Hotel Jayapura, Eddy Soenarno Soerjaningrat, mengatakan hotelnya selalu menonjolkan menu-menu dari panganan lokal dan menjadi mandatory dari managemen hotel pusat. Di tiap hotel Horison akan menonjolkan panganan lokal di daerah, khususnya Horison Jayapura juga menggunakan makanan lokal seperti umbi-umbian, sagu dan sayur, serta ikan asar dari Papua.

“Kami pastikan ada menu makanan yang berbahan lokal di tiap layanan makanan di pagi hari hingga malam, seperti ikan asar tentunya disesuaikan dengan selera tamu-tamu kita,” ujarnya.

Untuk PON 2020, pihaknya mempunyai promosi tersendiri untuk menarik para tamu terhadap makanan lokal, yaitu dengan jus pinang dan Menara Keladi Port Numbay.

“Menu itu unggulan dan merupakan kreasi dari chef kita di Hotel Horison Jayapura,” ujarnya.

Pendiri Papua Jungle Chef Community, Carles Toto, mengatakan perlu adanya food mapping di Papua, sebab masyarakat akan lebih mengenal makanan sekitar dengan mencontohkan warga Yahukimo akan lebih mengenal makanan lokal yang berasal dari sana selain ubi jalar, sagu, dan dari sayur pakis.

“Atau membuat metode baru cara memasak dengan memasukkan unsur modern, menggunakan hot plate ataupun cara bakar batu di indoor bukan lagi di outdoor,” katanya.

Menurutny perlu adanya pembukuan terhadap menu-menu dari makanan lokal yang ada sehingga tidak ada lagi pendobelan terhadap menu-menu kreasi atau karya yang sama.

“Sehingga tidak ada lagi persamaan menu,” ujarnya.

Selain itu, pengembangan bahan lokal seperti pinang menjadi saos dan mie dari bahan baku lokal sagu menjadi salah satu upaya mengkreasikan makanan dan ini telah diujicobakan di salah satu restoran yang dibantunya.

Pada lomba cipta menu yang digelar di Jayapura tersebut tim utusan 12 kabupaten dan kota di Papua mengolah aneka ragam panganan lokal Papua seperti dari sagu, pisang, keladi, labu, buah merah, aneka ikan, dan sayuran.

Dari pengamatan Jubi, aneka macam panganan bisa dibuat dari bahan baku makanan lokal seperti nasi goreng sagu, sate ikan gastor, keladi sawit ayam, sayur bening kelor, dadar gulung keladi, tuang sagu sari buah merah, dan ongol-ongol papeda, serta teh daun tomi-tomi. (*)

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top