Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Kura-kura moncong babi jadi incaran

Papua No. 1 News Portal | Jubi , 

PADA akhir Januari 2018 lalu, sebanyak 658 kura-kura moncong babi dari Kabupaten Merauke, Papua diselundupkan ke Hongkong oleh seorang warga negara Indonesia.

Ratusan kura-kura moncong babi dikemas dalam koper itu tiba di Bandara Hongkong, dan tertangkap. Petugas lalu melakukan penyelidikan dan menangkap pelakunya.

Kura-kura moncong babi jadi incaran 1 i Papua

Kurang lebih tujuh bulan satwa itu akhirnya dikembalikan ke Merauke, selanjutnya dilepas kembali ke habitatnya.

Hanya saja, jumlahnya berkurang menjadi 596 ekor, lantaran 62 ekor lainnya mati di sana dan tak bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Seperti yang disampaikan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Hongkong, pelaku penyelundup telah menjalani peradilan di Hongkong dengan tuntutan hukuman  denda senilai HKS 20.000.

Perwakilan Kadorie Farm And Botanic Hongkong, Tan Kit Sun saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan di Balai Karantina Hewan Merauke, Sabtu 25 Agustus 2018 mengatakan, kura-kura moncong babi yang dibawa adalah ilegal. Sehingga diamankan di Bandara Hongkong dan selanjutnya disimpan di tempatnya beberapa bulan di sana.

Loading...
;

Saat dibawa, katanya, kura-kura moncong babi dikemas dalam koper untuk mengelabui orang. Namun begitu dilakukan pengecekan, petugas menemukan ternyata merupakan satwa yang dilindungi.

“Kita sempat meminta dokumen surat-surat dari pelaku yang membawa dengan menggunakan pesawat Garuda dari Bandara Soekarno Hatta. Hanya saja, bersangkutan tak menunjukkan sehingga langsung diamankan,” katanya.

Sementara Perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Ahmad Munafir mengatakan, pemulangan salah satu satwa penting itu, atas kerjasama pemerintah Indonesia dan Hongkong.

“Kami difasilitasi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) IAR Jakarta serta WWF. Memang tak mudah memulangkan ratusan satwa tersebut dari negara orang. Namun atas koordinasi dan kerjasama yang baik, pemulangan tak mengalami hambatan,” ungkapnya.

Dijelaskan, kura-kura moncong babi adalah jenis satwa yang dilindungi undang-undang. Sehingga tak sembarangan diperjualbelikan ke luar negeri.

Dulunya, jelas dia, satwa tersebut dilindungi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Namun PP dimaksud telah diperbarui menjadi Peraturan Menteri Nomor 20 Tahun 2018.

“Kura-kura moncong babi sering diperdagangkan secara ilegal, lantaran di luar negeri disukai sebagai peliharaan dan juga dikonsumsi, lantaran dipercayai mempunyai khasiat tertentu,” ujarnya.

Kura-kura moncong babi, menurutnya, terdapat di tiga negara yakni Indonesia dan hanya di Kabupaten Merauke. Juga Papua Nugini serta Australia. Olehnya, menjadi tantangan untuk kedepan harus tetap dijaga sehingga tidak punah.

Munafir mengaku, kura-kura moncong babi dapat diperjualbelikan, tetapi harus diatur sesuai kuota  yang diambil dalam setiap tahun. Lalu yang memberikan rekomendasi adalah LIPI dan diputuskan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Untuk tahun 2018, jelas dia, kuota kura-kura moncong babi adalah 10.000 dari penangkaran. Artinya, masyarakat boleh mengambil 10 ribu telur. Nantinya akan ditetaskan dan 5000 dikembalikan ke alamnya. Sedangkan 5.000 dapat dijual.

Penjualan juga, hanya kepada perusahan perusahaan atau yang berbadan hukum sesuai rekomendasi  pemerintah. “Kami akui jika banyak yang menjual secara ilegal dan tak sesuai aturan,” tuturnya.

Diakui ratusan kura-kura moncong babi itu diselundupkan melalui Bandara Soekarno Hatta. “Kami sudah menempatkan petugas di bandara. Hanya saja, pemerintah mempunyai 10 cara menanggulangi, namun maling dengan 11-12 cara agar bisa lolos ke luar negeri,” tegasnya.

Namun demikian, ada beberapa WNA telah diamankan lantaran membawa ular dari Papua sebanyak 60 ekor. Juga kadal yang diselundupkan dari Papua, tetapi berhasil diamankan di Bandara Soekarno Hatta. “Saya mendengar di Merauke ada Kanguru dan tidak ada di daerah lain di Indonesia. Selain itu rusa yang mestinya harus dilindungi dan dijaga baik, sehingga tidak punah begitu saja,” pintanya.

Ditambahkan, perdagangan satwa keluar negeri termasuk kategori kejahatan luar biasa yang menempati ranking ketika setelah narkoba serta perdagangan manusia.

“Memang harga satwa terutama kura-kura moncong babi yang dijual ke luar negeri, nilainya sangat fantastis. Saya tak perlu menyebutkan secara detail nilainya. Tetapi jelasnya menggiurkan, sehingga orang berusaha dengan berbagai cara kotor menjualnya,” kata dia.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I mewakili Balai Besar KSDA Papua, Yohan Frans Mansai menjelaskan, awalnya sesuai kesepakatan, ratusan kura-kura moncong babi itu dilepas di Merauke.

Hanya saja, menurut dia, setelah dilakukan pertemuan bersama beberapa instansi, habitat di Merauke tak memungkinkan, lantaran beberapa kali dilepas, tak ada tanda-tanda bertambah banyak.

Dengan demikian, alternatif kedua adalah dipindahkan ke Kabupaten Boven Digoel. Karena dari informasi didapatkan, terdapat habitat juga di sana.

“Awalnya kami akan melepas di sungai Kawo, Distrik Mindiptanah. Tetapi ada perubahan lokasi dan akhirnya disepakati dilepas di Kali Iwot-sungai Digoel. Itu dengan tujuan menjaga keaslian serta populasi,” katanya.

Frans mengaku, pemerintah setempat merespon dengan positif dan nantinya saat dilakukan pelepasan Minggu, 26 Agustus 2018, disaksikan masyarakat dari beberapa kampung sekitar.(*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top