Follow our news chanel

Lara petani di musim pancaroba

Ilustrasi, seorang petani memanen tomat di lahan garapannya di Kampung Yahim, Sentani, Kabupaten Jayapura - Jubi/Yance Wenda.
Lara petani di musim pancaroba 1 i Papua
Sujianto memanen tomat di lahan seluas 300 meter persegi di Kampung Yahim, Sentani, Kabupaten Jayapura – Jubi/Yance Wenda.

Papua No.1 News Portal | Jubi

BANJIR kerap mendatangkan kerugian bagi petani hortikultura seperti Sujianto. Ancaman gagal panen selalu membayanginya manakala hujan deras terus mengguyur walaupun saat ini sebenarnya belum memasuki musim penghujan.

Hujan deras membuat sungai dan saluran air meluap sehingga lahan tomat milik Sujianto tergenang. Apalagi, jika genangan itu bertahan selama berhari-hari. Tomat banyak membusuk sehingga hasilnya tidak bisa dipanen sama sekali.

“Kalau  banjirnya masih di bawah mulsa, tanaman masih aman. Kalau sudah sampai setinggi mulsa, tanaman bisa mati, apalagi terendam hingga tiga hari, seperti kemarin (sekitar dua pekan lalu),” kata Sujianto, petani tomat di Kampung Yahim, Sentani kepada Jubi, Senin (24/2/2020).

Pria asal Jawa Timur tersebut membudidayakan sekitar 300 tanaman tomat di lahan seluas 10×30 meter.  Lokasi lahanmya tidak jauh dari Kompleks Perumahan Gajah Mada.

Setiap tomat yang ditanam Sujianto bisa memproduksi sekitar 3 kilogram buah segar dalam satu siklus panen.  Jika hasilnya dipukul rata, ada 900 kilogram buah tomat yang diraup Sujianto dalam beberapa kali pemanenan.

“Tomat dipanen (bergiliran) setiap hari. Sekali panen dapat 2-3 karung plastik (ukuran 50 kilogram),” ujarnya.

Loading...
;

Sujianto lebih dari 10 tahun menjadi petani. Dia menyewa lahan kosong milik warga setempat. Sujianto sebelumnya bertanam cabai di lahan yang sama. Karena merawat cabai dianggap terlalu sulit, Sujianto beralih ke budi daya tomat sejak dua tahun lalu.

Dia harus merogoh sekitar Rp15 juta untuk memodali usaha budi daya tomat. Uang itu untuk membeli benih, mulsa hitam-perak, upah kerja, pupuk, pestisida, dan kebutuhan operasional lain.

“Kadang kala hasilnya belum bisa dipanen, tetapi tanaman sudah keburu mati akibat terendam banjir,” katanya.

Kalau sudah begitu, harapannya untuk memetik hasil pun menjadi pupus. Tanaman mati dan buah membusuk tidak mungkin bisa diuangkan.

“Banjir kemarin (sekitar dua pekan lalu) memang tidak separah (ketimbang) sebelum-sebelumnya. Banjir sebelumnya sampai (menyebabkan) gagal panen,” ucap Sujianto.

Lara petani di musim pancaroba 2 i Papua
Tomat di lahan Sujianto – Jubi/Yance Wenda.

Harga tak menentu

Selain banjir yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, lelaki 34 tahun tersebut harus menghadapi tantangan tidak kalah berat saat pascapanen. Harga tomat sering kali tidak menentu. Disparitasnya bahkan bisa jomplang alias sangat tidak seimbang.

Harga tomat bisa melambung hingga Rp29 ribu setiap kilogram, tetapi bisa pula hanya Rp6 ribu-Rp7 ribu setiap kilogram di tingkat petani. Mirisnya, harga terendah itu pula yang kerap bertahan ketimbang harga tertinggi, seperti yang terjadi saat ini.

“Saya menjual hasil panen (tomat) kepada tengkulak. Harganya Rp7.000 sekilogram,” kata Sujianto.

Harga tomat saat ini memang tergolong murah. Di Pasar Pharaa, misalnya para pedagang rata-rata membanderolnya senilai Rp9.000 untuk setiap kilogram.

“Itu (karena) kami beli dari tangan kedua (pengepul). Kalau ambil (membeli) langsung dari petani, bisa lebih murah lagi,” kata Fira, pedagang di Pasar Pharaa, Sentani.

Fira tidak bisa memastikan penyebab turun-naiknya harga tomat di pasaran. Dia hanya tahu tomat tersebut didatangkan dari petani lokal, dan selalu tersedia di pasaran. Pada musim kemarau maupun penghujan, stoknya kurang lebih sama banyaknya.

Sujianto berharap pemerintah memperhatikan nasib petani seperti mereka, yang kerap bergelut dengan risiko gagal panen akibat banjir. Karena cuma dari usaha tani itulah, dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, dan membiayai pendidikan anak-anak

“Kami berharap pemerintah mengalirkan air hingga ke ujung Danau Sentani (normalisasi Kali Doyo). Itu supaya airnya tidak meluap hingga ke kebun (tomat) ini, “ kata bapak dari tiga anak tersebut. (*)

 

Editor: Aries Munandar

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top