Follow our news chanel

Larangan makan pinang di Pasar Youtefa

Aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Induk Regional Youtefa – Jubi/Ramah

 

Larangan makan pinang di Pasar Youtefa 1 i Papua
Kepala Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura Robet L.N. Awi – Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Setelah gagal selama empat tahun mengatur orang meludahkan pinang pada tempat yang disediakan, akhirnya Disperindagkop dan UKM melarang orang memakan pinang dan menjual pinang eceran di Pasar Induk Regional Youtefa.

Pemerintah Kota Jayapura melalui Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) mengeluarkan surat pemberitahuan yang ditujukan kepada pengunjung dan pedagang di Pasar Regional Youtefa.

Dalam surat pemberitahuan tersebut, ada lima poin yang disampaikan, yaitu dilarang berjualan pinang, dilarang makan pinang, setiap pedagang kios dan los wajib menyediakan tempat sampah, setiap pedagang wajib menggunakan alat timbang, takar, dan ukur, serta dilarang menggunakan kantong plastik.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kota Jayapura, Robert LN Awi, menyatakan salah satu poin penting yang perlu diperhatikan pengunjung dan pedagang, yaitu dilarang makan pinang dan berjualan pinang ojek (pinang, sirih, dan kapur dalam satu tumpukan isi 2-5 buah) di seluruh pasar di Kota Jayapura. Sebab penjualan seperti itu langsung dikonsumsi pembeli.

“Saya itu kesal, tahun lalu sudah dua kali saya minta teman-teman di Pasar Youtefa untuk melakukan pembersihan, dan pengecatan kembali, ini kejadiannya sudah dua tahun berturut-turut,” ujar Awi, di Kantor Wali Kota Jayapura, Jumat, 19 Juli 2019.

Loading...
;

Diungkapkan Awi, area pasar yang baru dicat tersebut tiba-tiba besoknya sudah dikotori ludah pinang yang bertebaran di mana-mana. Bahkan, bagian yang sedang dicat pun sudah diludahi bekas bekas.

“Ini kan sangat merugikan kami dan juga pengunjung karena terkesan jorok, pasar yang tadinya bersih menjadi penuh ludah bekas makan pinang, menjadi sarang penyakit baru sehingga membahayakan kesehatan pedagang dan pembeli,” ujarnya.

Larangan makan pinang di Pasar Youtefa 2 i Papua
Aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Induk Regional Youtefa – Jubi/Ramah

Sebelumnya, Disperindagkop dan UKM Kota Jayapura sudah mencari jalan keluar dengan menyediakan tempat khusus untuk meludahkan pinang. Namun tempat tersebut diambil dan pasirnya dibuang.

“Sudah empat tahun kami melakukan itu, tapi tak berhasil, maka sekarang satu-satunya cara adalah melarang orang makan pinang dalam pasar, karena pasar merupakan fasilitas publik yang harus dilindungi oleh pemerintah, sebab orang datang ke pasar dari berbagai kalangan,” katanya.

Awi mengatakan bahwa fungsi pasar tempat berjual-beli, karena itu mestinya bebas dari aktivitas yang merugikan orang lain.

“Orang boleh makan pinang dan berjualan pinang ojek di luar pasar, tapi tidak dalam pasar, kami lakukan ini adalah aturan dengan harapan pasar-pasar di Kota Jayapura keluar dari stigma pasar yang kumuh, kotor, menjijikkan, dan jorok,” ujarnya.

Awi mengatakan sebagian besar penjual pinang di Pasar Regional Youtefa mendukung pelarangan tersebut agar pasar bisa bersih, nyaman, dan layak, sehingga bisa menjadi destinasi wisata.

“Kami akan melakukan operasi simpatik dengan mengimbau pedagang dan pengunjung di pasar, kami tidak melarang penjual pinang, sirih, dan kapur, silakan berjualan, tapi tidak untuk pinang ojek,” katanya.

Awi berencana akan mengatur dengan hanya membolehkan penjualan pinang kiloan yang dijual terpisah dengan sirih dan kapur, sehingga tidak ada lagi pembeli yang langsung mengkonsumsi di dalam pasar.

“Kami ingin ada komitmen bersama agar pasar harus bebas dari ludah pinang,” katanya.

Sedangkan pelarangan penggunaan kantong plastik berdasarkan instruksi resmi Wali Kota Jayapura yang kemudian mulai diberlakukan di pasar, baik pasar modern maupun tradisional.

Ketika ditanya apakah melarang orang makan pinang di dalam pasar tidak melanggar HAM (Hak Asasi Manusia), Awi mengatakan tidak, karena makan pinang bukan seperti orang bernapas.

“Kalau kita berhenti bernapas sebentar pasti sudah meninggal, tapi kalau makan pinang tidak, selama berada dalam pasar tidak boleh makan pinang, kalau mau makan pinang keluar dari pasar,” ujarnya.

Salah satu penjual pinang, Eva Gilbres, menyatakan sepenuhnya mendukung pelarangan tersebut, karena bertujuan menciptakan lingkungan pasar yang rapi, bersih, dan nyaman.

“Selama ini saya menjual pinang selalu menyediakan tempat ludah pinang, ini sebagai bentuk dukungan saya kepada pemerintah yang ingin menata pasar agar lebih baik lagi,” katanya.

Gilbres hanya mengeluhkan pinang yang mulai dijual pedagang bukan Orang Asli Papua (OAP), sebab sudah menjadi dagangan khas orang asli Papua. Hal itu berdampak turunnya pendapatan pedagang pinang OAP. Ia meminta Pemkot Jayapura membuat pelarangan juga untuk non OAP menjual pinang.

Menurut Gilbers, di pasar-pasar tradisional di Kota Jayapura perlu adanya penataan dan peningkatan kebersihan agar mencegah penyakit dan tidak terkesan kumuh.

Gilbers menyarankan agar Pemkot Jayapura gencar memberikan edukasi. Sebab jika surat pemberitahuan tidak didukung upaya penyadaran maka tidak akan maksimal.

Pedagang pinang lainnya, Marthina, menyatakan pemerintah harus tegas dengan peraturan yang sudah dikeluarkannya sehingga pedagang dan konsumen bisa menjaga kebersihan.

“Pemerintah juga harus tegas memberikan sanksi kepada pelaku, baik pedagang maupun pembeli yang membuang ludah pinang sembarangan di dalam pasar,” katanya.

Ia mengusulkan disediakannya petugas pemantau dan memberikan sanksi kepada yang melanggar. (*)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top