Follow our news chanel

Larangan TikTok dan WeChat menjadi ancaman kebebasan berekspresi di AS

Media sosial dan isu Papua
Foto ilustrasi. - pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Larangan Amerika Serikat atas aplikasi milik China, TikTok dan WeChat, dinilai menjadi tantangan akan kebebasan berekspresi dalam ekosistem internet global. Kritikus menyebut larangan atas perintah Presiden AS Donald Trump itu tak jelas dan hanya spekulasi.

Di sisi lain larangan ini menimbulkan kekhawatiran pemerintah AS akan membatasi kebebasan berekspresi yang diatur Amandemen Pertama (First Amendment) Konstitusi AS.

“Merupakan kesalahan untuk menganggap ini (hanya) sebagai sanksi terhadap TikTok dan WeChat. Ini adalah pembatasan serius pada hak Amandemen Pertama warga dan penduduk AS,” kata Direktur Knight First Amendment Institute di Universitas Columbia, Jameel Jaffer.

Baca juga : Pemilu Amerika Serikat, ini kebijakan ketat iklan Google 

Tidak semua orang Samoa Amerika ingin jadi warga negara AS 

Amerika dan Israel prihatin dengan perusahaan telekomunikasi China

Loading...
;

Pegiat American Civil Liberties Union, Hina Shamsi juga mengatakan laranga tersebut menimbulkan pertanyaan dan menyebutnya sebagai “penyalahgunaan kekuatan darurat” oleh Trump.

Ia menyebut Trump hanya menciptakan lebih banyak masalah keamanan ketimbang menyelesaikannya.

Tercatat per hari Minggu (20/9/2020) besok, AS akan memblokir pengunduhan TikTok yang memiliki sekitar 100 juta pengguna AS, dan WeChat, aplikasi yang digunakan untuk pengiriman pesan, belanja online, pembayaran, dan layanan lainnya, dengan sekitar 19 juta pengguna di AS. Para pejabat mengatakan secara fungsional, WeChat akan terpengaruh segera setelah larangan berlaku, meskipun beberapa layanan masih dimungkinkan berfungsi.

TikTok sendiri masih akan berfungsi hingga 12 November, sesuai batas waktu yang ditetapkan di bawah perintah eksekutif Trump, tetapi pengguna tidak akan dapat mengunduh pembaruan aplikasi tersebut.

Para kritikus menyebut larangan itu dapat menciptakan lebih banyak celah dalam sistem internet global dengan memungkinkan pemerintah lebih bebas mengendalikan layanan pemblokiran. “Keputusan Trump kemungkinan akan semakin memecah internet,” kata Darrell West, Direktur Pusat Inovasi Teknologi di Brookings Institution.

Bos Instagram, Adam Mosseri menyuarakan keprihatinan serupa dengan berkicau di Twitter bahwa larangan TikTok AS akan sangat buruk bagi Instagram, Facebook, dan internet secara lebih luas.

“Sebagian besar orang yang menggunakan Instagram berada di luar AS, seperti juga sebagian besar potensi pertumbuhan kami,” katanya. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top