TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Lari dari Afghanistan, cerita warga ketika Taliban berhasil kuasai negaranya

Papua Afghanistan
Ilustrasi, pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Frankfurt, Jubi – Perempuan bercadar itu menyeka air mata, sedangkan yang lain dalam satu rombongan usai penerbangan, berbicara di telepon genggam. Para pria menangis saat mereka memeluk anggota keluarga dan para warga Jerman teman-teman mereka yang datang menyambut.

Tak satu pun dari sedikit orang yang berbicara kepada wartawan menyebutkan nama mereka atau apa yang telah mereka lakukan di Afghanistan. Di negara itu, banyak orang takut akan pembalasan berlangsung terhadap para anggota keluarga -yang mungkin tidak akan pernah mereka lihat lagi.

“Semua orang ingin keluar,” kata suami wanita itu, yang juga berbicara dalam bahasa Jerman sambil menggendong putra mereka.

Baca juga : Taliban kuasai istana presiden afghanistan, PBB : lindungi hak perempuan dan anak  

Kondisi terbaru bentrok Taliban-Afghanistan, mayat bergelimpangan di jalan  

Taliban terus kuasai sejumlah kawasan di Afghanistan, kali ini rebut perbatasan Pakistan

Ia menyebut saat Taliban menguasai negaranya sebuah pemandangan buruk.”Setiap hari lebih buruk dari hari sebelumnya. Kami menyelamatkan diri kami sendiri tetapi kami tidak bisa menyelamatkan keluarga kami,” kata pria itu.

Warga Afghanistan yang tiba di Jerman menceritakan pemandangan kacau dan mengerikan di bandara Kabul sebelum mereka dievakuasi ke tempat aman, dan menyatakan kekhawatiran atas kehidupan keluarga yang mereka tinggalkan.

Mereka berhasil mendarat di bandara Frankfurt pada Rabu (18/8/2021) setelah penerbangan dari Tashkent. Warga afghanistan terdiri sejumlah laki-laki, perempuan, dan anak-anak mengatakan mereka termasuk sedikit orang yang beruntung dievakuasi oleh tentara NATO setelah Afghanistan jatuh ke tangan Taliban lebih cepat dari perkiraan.

“Kami harus memaksa maju dan putra kecil saya jatuh dan kami takut, tetapi kami berhasil,” kata seorang perempuan yang berbicara dalam bahasa Jerman.

Ia mengaku ditolong warga amerika saat sedang kelalahan mencari jalan keluar bisa meninggalkan negaranya yang sedang runtuh di tangan Taliban.

“Kemudian seorang pria Amerika menunjukkan niat baik dan menyadari bahwa kami benar-benar kelelahan. Dia mengambil paspor dan berkata bahwa saya perlu memeriksa apakah ini asli. Kemudian dia berkata ‘baiklah, Anda boleh masuk’. Yang lain di belakang menangis dan berbaring di tanah. Menakutkan,” kata perempuan itu

Perempuan itu bersama putra dan suaminya, berada di penerbangan pertama dari beberapa penerbangan yang dilakukan oleh Jerman untuk menyelamatkan para warga Afghanistan yang berisiko dari gerilyawan Taliban. Kekahatiran itu dirasakan karena sebelum Afghanistan jatuh mereka telah bekerja untuk tentara-tentara NATO atau organisasi amal yang didanai Barat.

Di bandara Frankfurt ada juga seorang pemuda Afghanistan yang mengenakan jaket merah dan putih berbicara tentang kegembiraannya berada di Jerman. Meski ia awal nya cemas saat berusaha meninggalkan  negaranya. “Sangat cemas karena seluruh keluarga saya masih ada di sana. Tidak mudah untuk meninggalkan mereka dan datang ke sini,” kata pemuda itu.

Ia mengakui sebagian dari keluarganya masih ada di sana. “Saya sangat terharu tetapi sebaliknya saya baik-baik saja, terima kasih Tuhan,” katanya.

Sementara itu, seorang gadis kecil yang berdiri bersama orang tuanya berkata dalam bahasa Jerman bahwa “ketika tentara melepaskan tembakan, itu tidak baik karena semua orang ketakutan dan mulai berteriak,”

Kanselir Angela Merkel mengatakan pada pertemuan Partai Demokrat Kristen pada Senin (16/8/2021) negaranya mungkin perlu memberikan suaka kepada sekitar 10 ribu warga Afghanistan, yang bekerja untuk tentara Jerman dan badan-badan pembangunan, juga para aktivis hak asasi manusia dan pengacara.

Sedangkan partai-partai oposisi di Jerman telah mengkritik pemerintah karena gagal memprediksi jatuhnya Kabul ke tangan Taliban, dan atas apa yang mereka katakan sebagai petualangan militer yang gagal sejak 2001 yang menelan biaya miliaran euro dan nyawa 59 tentara Jerman.

Partai Alternatif untuk Jerman (AfD) sayap kanan telah mendesak pemerintah untuk melembagakan moratorium permohonan suaka dan menjaga warga sipil Afghanistan di negara-negara tetangga, seperti Pakistan. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us