HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Lautan terancam, Pasifik cemas laporan perubahan iklim terbaru

 

Teaga Esekia (74) adalah seorang Kepala Suku Atol Vaitupu dari Tuvalu. – RNZI/ Jamie Tahana

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Jamie Tahana

Bagi Teaga Esekia yang berusia 74 tahun, seorang Kepala Suku Atol Vaitupu dari Tuvalu, lautan adalah sumber kehidupannya.

“Orang-orang Tuvalu, mereka memiliki jenis penghitungan bulan yang beda, tidak seperti Januari hingga Desember,” kata pria tua tetapi cekatan yang masih memanjat pohon kelapa setiap hari itu. “Musim mereka berjalan sesuai dengan musim ikan dan musim tanam. Kami mengenal waktu karena ikan.”

Esekia duduk di tepi laguna di pulau terbesar di Tuvalu, Funafuti, ia datang untuk menghadiri pemeriksaan kesehatannya. Saat ia duduk di bawah pohon, berlindung dari matahari sore yang terik sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi, dia menceritakan bagaimana lautan telah berubah.

“Beberapa ikan yang biasanya ada saat ini sangat sulit ditemukan di Tuvalu. Itulah masalah yang kita hadapi saat ini.”

Loading...
;

Orang-orang di Vaitupu juga menopang hidup mereka dengan menanam pulaka, sejenis umbi lokal Daluga, yang ditanam di liang-liang di tanah.

“Saya dapat melihat sebagian besar liang sekarang tidak dapat ditanami karena jika kalian mengecap air di sana, itu adalah air asin. Ketika kita masih muda, liang-liang ini dapat menumbuhkan pulaka dengan subur. Saat ini hal ini sangat sulit,” katanya.

Laporan IPCC

Perubahan yang diamati oleh Esekia kembali ditekankan pekan lalu dalam laporan terbaru dari Panel Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).

Laporan tersebut, yang disusun oleh lebih dari 100 ilmuwan dan pakar – termasuk beberapa dari Selandia Baru, Australia, dan Pasifik – didasarkan pada lebih dari 7.000 studi ilmiah, adalah salah satu tulisan paling komprehensif tentang keadaan lautan saat ini.

Disimpulkan dalam laporan itu bahwa lautan memanas mencapai tingkat yang sedemikian rupa sampai komposisi kimia mereka, yang lalu mengancam pasokan makanan laut, memicu badai yang lebih ekstrem dan banjir yang tinggi, dan mengancam kehidupan jutaan orang yang tinggal di daerah dataran rendah.

Untuk Kepulauan Pasifik, itu menceritakan gambar yang suram.

“Kita sudah melihat dampaknya di Pasifik,” kata Dr. Helene Jacot des Combes, seorang ilmuwan di Universitas Pasifik Selatan dan penasihat bidang adaptasi dampak perubahan iklim untuk Pemerintah Kepulauan Marshall, yang merupakan salah satu penulis laporan tersebut. “Memang benar bahwa semua perubahan di lautan dalam hal suhu, pengasaman laut, akan membawa dampak yang sangat penting terhadap ekosistem laut dan pada distribusi ikan dan kehidupan laut lainnya,” katanya. “Kita sudah bisa melihat beberapa perubahan.”

Dr. Jens Krüger, manajer urusan kelautan Sekretariat Komunitas Pasifik (SPC), yang tidak terlibat dengan penyusunan laporan IPCC tetapi tergabung dalam kelompok perencanaan Decade of Ocean Science PBB, berkata laporan itu menunjukkan gambaran yang suram: efeknya akan paling terasa di Pasifik.

“Ini benar-benar menunjukkan bahwa lautan kita berada di ujung tanduk. Lautan semakin panas, permukaan air laut naik, lautan menjadi lebih asam, dan tentu saja semua ini terjadi karena planet kita memanas” jelas Dr. Krüger. “Bagi kita di Pasifik, laporan itu juga membuktikan bahwa semua perubahan ini, dan lajunya serta besarnya perubahan yang sudah diamati, yang tertinggi adalah di wilayah kita.”

Lautan berperan sebagai pelindung penting terhadap pemanasan global, menyerap sekitar seperempat dari emisi karbon dioksida, serta menyerap energi panas yang terperangkap di dalam selimut atmosfer Bumi. Tetapi laporan itu mengatakan akibat adanya begitu banyak emisi karbon dioksida, lautan menjadi lebih panas dan lebih asam.

“Untuk Pasifik, di mana orang-orang sangat bergantung pada lautan, ini persoalan yang sangat sulit,” kata Dr. Jacot des Combes.

Ekosistem laut dan habitat hancur

Lautan yang menghangat ini menghancurkan ekosistem laut, menurut IPCC, sementara habitat terpisah-pisah. Frekuensi gelombang panas di lautan – yang membunuh ikan, burung-burung laut, dan terumbu karang – telah berlipat ganda sejak 1980-an, menurut laporan itu, sementara banyak populasi ikan bermigrasi jauh dari habitat biasanya – seperti dari Vaitupu, di Tuvalu, dimana Esekia telah menyadari penyusutan jumlah ikan – karena mereka mencoba menemukan perairan yang lebih dingin.

Sejauh ini, kata Dr. Krüger, persoalan ini sangat dirasakan di Pasifik. Tahun ini saja, peristiwa pemutihan karang yang parah telah terjadi terumbu di Polinesia Prancis dan Guam, dan ada kekhawatiran apakah mereka akan pulih karena kejadian bleaching terlalu sering terjadi.

Kejadian gelombang panas di lautan diperkirakan akan meningkat menjadi 20 hingga 50 kali lebih sering abad ini, tergantung pada seberapa banyak emisi Gas Rumah Kaca (GRK) meningkat, menurut laporan tersebut, dengan ekosistem bawah laut seperti terumbu karang dan rumput laut semuanya diperkirakan akan mengalami kerusakan serius.

“Terumbu karang air hangat, bagi kita di Pasifik, itulah ekosistem utama kita,” kata Dr. Krüger. “Laporan itu membenarkan bahwa kita sebenarnya menciptakan dunia yang tidak sesuai dengan cara hidup kita.”

Di Pasifik, terumbu karang adalah sumber makanan, pemasukan, dan pertahanan utama terhadap lautan. Ikan dan tanaman menyediakan makanan bagi penduduk setempat, dan pendapatan dari ekspor ikan dan pariwisata. Mereka juga bertindak sebagai penghalang, meredam kekuatan gelombang laut saat mereka menyerang pulau-pulau yang rentan dan atol, terutama karena naiknya permukaan air laut, yang merupakan kesimpulan lain dari laporan tersebut.

Ketika lapisan es dan gletser mencair, tambahnya, permukaan air laut didorong ke atas sehingga banjir pasang yang dulunya jarang terjadi sekarang menjadi peristiwa tahunan. Hal ini sudah diamati di tempat-tempat seperti Kiribati dan Kepulauan Marshall, tutur Dr, Jacot des Combes, dimana banjir pasang semakin sering terjadi.

Temperatur laut yang lebih hangat dan naiknya permukaan air laut juga menyebabkan dibentuknya topan yang lebih keras, membahayakan wilayah pesisir pantai dan dataran rendah Pasifik. “Kita telah melihat bahwa jumlah siklon kategori empat dan kategori lima meningkat,” kata Dr. Jacot des Combes.

Meski laporan itu mengatakan ancaman ini dapat dikurangi jika negara-negara dengan drastis mengurangi emisi GRK mereka, laporan itu juga menunjukkan bahwa banyak negara perlu beradaptasi dengan perubahan yang kini tidak dapat dihindari.

Dr. Krüger berkata ini termasuk sebagian besar negara-negara Pasifik, terutama di barat laut Pasifik, di mana kenaikan permukaan air laut sudah tiga hingga empat kali lebih tinggi dari rata-rata global.

Isu prioritas yang mendesak

“Kita sudah jelas tidak bergerak cepat,” kata Dr. Krüger. “Sebenarnya, laporan itu menyimpulkan bahwa kita menghadapi keadaan yang mendesak ini, kita harus memprioritaskan ini, kita harus melakukan sesuatu sekarang.”

Esekia duduk di tepi laguna di Funafuti pada hari retret pemimpin-pemimpin Forum Kepulauan Pasifik (PIF) pada bulan Agustus, di mana pemimpin-pemimpin kawasan Pasifik bertemu untuk mencoba menghasilkan suatu deklarasi tentang krisis akibat perubahan iklim.

Deklarasi itu dibawa ke hadapan PBB di New York pekan lalu, dimana pemimpin-pemimpin dunia bertemu lagi untuk membahas perubahan iklim sementara ada protes massa terkait perubahan iklim, yang dipimpin oleh generasi muda dilakukan di seluruh dunia, bertepatan dengan peluncuran laporan IPCC.

Sebagian besar negara-negara maju diperkirakan tidak akan bisa memenuhi target Perjanjian Paris mereka, apalagi untuk melakukan perubahan drastis yang disebut dalam laporan minggu lalu.

Presiden Kepulauan Marshall, Hilda Heine, mendesak negara-negara ini untuk mengambil tindakan yang lebih signifikan. “Tidak ada alasan bagi negara-negara besar, kaya, dan penyebab polusi, untuk tidak bertindak,” kata Heine dalam suatu konferensi pers. “Kita yang paling terancam dan terkena dampak perubahan iklim, dan kita yang paling tidak siap untuk mengatasi apa yang menjadi tantangan besar sementara kita berusaha untuk menyelesaikan atau merespons.” (RNZI)


Editor : Kristianto Galuwo

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top