Follow our news chanel

Previous
Next

LBH Papua minta Komnas HAM investigasi penembakan Pdt Zanambani

papua-pendeta-yeremias-zanambani
Almarhum Pendeta Yeremias Zanambani – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia segera turun melakukan investigasi kasus penembakan Pendeta Yeremia Zanambani di Kampung Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua, Sabtu (19/9/2020).

“(Penembakan Pendeta Yeremia Zanambani) menunjukkan bahwa kebijakan keamanan di Papua tidak mengimplementasikan UU No 59 Tahun 1958 tentang ikut serta Negara Republik Indonesia dalam seluruh Konvensi Jenewa tanggal 12 Agustus 1949, untuk melindungi hak hidup masyarakat sipil di Papua,” kata Direktur LBH Papua, Emanuel Gobay, seperti tertuang dalam siaran pers yang diterima Jubi di Jayapura, Selasa (22/9/2020).

Lebih jauh Gobay mengatakan dalam konteks hak untuk hidup adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun, ingin menunjukkan keadaan aman atau tidak aman, baik pihak TNI maupun TPN PB, sehingga di tengah kondisi Kabupaten Nduga, Kabupaten Intan Jaya, dan Kabupaten Mimika yang sampai saat ini sedang dilakukan operasi militer, perlu mengedepankan prinsip-prinsip dalam Konvensi Jenewa Tahun 1949.

Terkait pengerahan pasukan TNI untuk mendukung pembangungan infrastruktur di Papua, Gobay mengatakan hal itu dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas sebagaimana diatur pada pasal 1 ayat (3) UUD 1945.

LBH Papua juga minta Wakil Menteri PUPR, Jhon Wempi Wetipo, dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Andika Perkasa, untuk tidak menyalahartikan Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19 dan Pasal 20, UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.

Seruan ini disampaikan LBH Papua menyusul terjadinya konflik di Kabupaten Intan Jaya. Dalam sepekan terakhir, terjadi sejumlah aksi penembakan di wilayah tersebut. Setidaknya, enam orang tewas dalam empat kasus penembakan.

Baca juga: Diduga Oknum TNI tembak mati seorang pendeta di Intan Jaya

Loading...
;

Seperti diberitakan CNN Indonesia, penembakan pertama terjadi di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, pada Minggu (14/9/2020). Korbannya dua tukang ojek bernama La Ode Anas (33) dan Fathur Rahman (23). Kedua korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke RSUD Timika, Mimika untuk menjalani perawatan. Para korban pun dalam kondisi stabil.

Tiga hari kemudian, terjadi kontak senjata di belakang SD YPPK Santo Misael, Kampung Bilogai Distrik Sugapa. Korban bernama Badawi, seorang tukang ojek, dianiaya menggunakan senjata tajam hingga meninggal dunia.

Beberapa jam kemudian, penyerangan seorang aparat TNI bernama Serka Sahlan yang sedang dalam perjalanan membawa logistik. Sahlan merupakan personel yang bertugas sebagai Babinsa di Hitadipa.

“Korban mengalami luka tembak sehingga langsung meninggal dunia di tempat dan dievakuasi ke Puskesmas Bilogai,” kata dia.

Keesokan harinya, saat hendak mengevakuasi jenazah Sahlan dari Kabupaten Intan Jaya ke Kabupaten Nabire, polisi menuding bahwa kelompok sipil bersenjata melakukan tembakan ke pesawat Dabi Air PK-DPG untuk menghadang proses evakuasi.

Insiden terakhir terjadi pada Minggu (20/9/2020). Seorang pendeta bernama Yeremia Zanambani meninggal dunia usai terkena tembakan.

Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) menduga Pendeta Yeremia Zanambani ditembak aparat TNI hingga tewas dalam operasi militer pada Sabtu (19/9/2020). Penembakan itu terjadi saat pendeta tersebut pergi ke kandang babi miliknya.

Akibat penembakan itu, para jemaat gereja ketakutan lari ke hutan. Tujuh hingga delapan gereja di sekitar lokasi kejadian pun saat ini kosong. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top