Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Lebih banyak perempuan dan anak-anak di Desa Sivuna, Bougainville

Susan Paai tersenyum sembari berjalan kaki ke kota terdekat. – ABC News/ Natalie Whiting

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Natalie Whiting

Duduk bersama-sama di dalam salah satu dari beberapa bangunan di Desa Sivuna, enam perempuan sedang rapat.

Mereka membahas upaya penggalangan dana dan rencana-rencana lain yang akan diadakan untuk aula komunitas, sebelum mengalihkan topik mengenai kekhawatiran akibat orang-orang muda yang terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol. Ada perbincangan tentang apakah mereka harus mencoba melarang minuman beralkohol, atau apakah langkah itu kontraproduktif.

Itu mungkin terdengar seperti obrolan biasa antara teman-teman. Tapi ini urusan penting.

Ini adalah pertemuan desa. Dan para perempuan ini memegang kepemimpinan.

Doreen Nauvana memimpin diskusi, sementara kelompok perempuan itu memberikan suara mengenai keputusan-keputusan yang mempengaruhi seluruh komunitas mereka. Nauvana berkata tujuan dari pertemuan ini adalah agar perempuan bisa ‘bertukar pikiran satu dengan yang lain’.

Loading...
;

Perempuan mencari nafkah dari tanah

Meskipun mayoritas daerah di Papua Nugini, di sebelah barat, dan di Kepulauan Solomon, ke arah timur, menganut budaya Patriarki, sebagian besar suku id Bougainville itu matrilineal.

Ini berarti tanah – yang diyakini sebagai aset yang paling berharga – diteruskan dari ibu ke anak perempuan.

Bagi Susan Paai, memiliki tanah sendiri berarti dia bisa menjaga dan menghidupi keluarganya. Dia menghabiskan berjam-jam memelihara kebunnya untuk menanam bahan makanan untuk keluarganya, dan menjual sisanya untuk membayar biaya sekolah anak-anaknya dan keperluan medis.

Pada hari-hari ketika dia harus pergi untuk berjualan sayur mayur, dia meninggalkan desa pada pukul 4:00 pagi untuk jalan kaki ke kota terdekat, Arawa. “Kita pergi ke pasar di dini hari,” jelasnya. “Kita biasanya mengangkat sayuran di belakang, dalam ransel. Kita biasanya kembali ke desa sekitar pukul 8:00 malam.”

Selang hari-hari yang panjang seperti itu, Susan sering tidak akan bertemu anak-anaknya, yang akan dijaga oleh tetangga atau teman-teman di Sivuna. “Itulah kerja keras yang dilakukan kita para perempuan di sini, di desa,” tuturnya.

Tradisi panjang perempuan sebagai pemimpin

Masyarakat Bougainville yang sebagian besar matrilineal juga berarti secara tradisional, perempuan, di Bougainville, seringkali mengambil posisi sebagai pemimpin dan pembuat keputusan.

“Dalam masyarakat matrilineal, perempuan adalah badan pengambil keputusan utama,” kata Nauvana. “Kita mengambil keputusan mengenai tanah – bagaimana tanah itu akan dikelola atau bagaimana itu akan digunakan.”

Mantan anggota parlemen (MP) dan menteri Bougainville, Magdalene Toroansi, yang tinggal di dekat Desa Sivuna dan sering berkunjung berkata pandangan perempuan itu dihormati.

Sementara itu, adatnya berbeda-beda untuk setiap suku di Bougainville, di Sivuna, baik laki-laki maupun perempuan memegang jabatan kepala suku, dan pemimpin laki-laki akan bertukar pendapat dengan perempuan. Tetapi adat ini mulai bergeser di zaman modern, dimana laki-laki mengambil lebih banyak peran kepemimpinan, dan di beberapa daerah, bahkan dalam mengambil keputusan terkait penggunaan tanah.

Perubahan ini telah banyak dihubungkan dengan kolonisasi, pengenalan sistem-sistem politik bergaya barat, dan pengenalan Kristen.

Sivuna pun tidak luput dari perubahan ini, Nauvana menjelaskan bahwa lebih banyak laki-laki yang memimpin di desa itu. “Kesempatan bagi perempuan untuk menjadi pemimpin minim,” katanya.

Beberapa pemimpin perempuan di Bougainville berkata kolonialisme telah menyebabkan pupusnya peran kepemimpinan perempuan. Bahkan sekarang, terlepas dari tradisi masyarakat yang matrilineal, sebagian besar posisi kepemimpinan di Bougainville dipegang oleh laki-laki.

Janda-janda krisis Bougainville

Desa Sivuna sekarang berubah menjadi tempat yang lain. Dalam beberapa hal ini dipandang sebagai bangkitnya kembali cara-cara masa dulu, dimana perempuan kembali membuat keputusan.

Banyak perempuan di sini juga mengambil peran yang biasanya dilakukan oleh laki-laki, seperti memotong kayu. “Kita bisa melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan laki-laki,” kata Tahi.

Langkah ini terpaksa. Di mana-mana kalian melihat di desa itu, hanya ada perempuan dan anak-anak. Tapi hampir tidak ada laki-laki.

Saat kita berjalan di sepanjang Desa Sivuna, kita melihat seorang perempuan berdiri di tempat mencuci, membersihkan pakaian dan piring. Beberapa meter darinya, seorang perempuan lain berhenti sejenak dari pekerjaannya mengupas kentang di sebelah api yang berkobar, bersiap untuk merebusnya. Seorang perempuan lainnya berjalan ke arah kandang ayam untuk memberi makanan sisa kepada unggas itu dan mengumpulkan telur mereka.

Nauvana menjelaskan bahwa Desa Sivuna dulunya tidak seperti ini. Ada banyak laki-laki di desa ini 40 tahun yang lalu. Namun kemudian pecah perang saudara Bougainville pada 80-an dan 90-an, yang diperkirakan telah menewaskan sebanyak 20.000 orang.

“Kebanyakan perempuan di desa saya, mereka menjanda akibat krisis Bougainville,” jelas Nauvana. “Tetapi meskipun mereka janda, mereka bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Mereka adalah perempuan pekerja keras.”

Perempuan saling memberdayakan

Puluhan tahun sudah berlalu sejak perang saudara, dan dengan harapan untuk merdeka di hadapan mereka, banyak orang Bougainville sekarang fokus pada generasi berikutnya.

“Perempuan telah membangun kembali, membesarkan keluarga mereka,” tutur Nauvana. “Mereka bekerja keras untuk membesarkan anak-anak, menyekolahkan mereka. Perempuan-perempuan ini, mereka memimpikan pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak mereka.”

Delwin Ketsian adalah salah satu janda dari perang bersaudara, dan telah bekerja keras untuk memberdayakan perempuan.

“Sebagai seorang perempuan, saya juga seorang janda, jadi saya mengerti situasinya, kehidupan yang dijalani janda-janda,” ungkapnya. “Sebagian besar dari janda ini, mereka menjanda akibat krisis Bougainville – saya mengerti perjuangan yang mereka lalui.”

Seorang perempuan terkemuka di daerah itu, Ketsian berharap ia bisa membuka pasar yang lebih menguntungkan bagi sesama perempuan.

Setelah pindah ke kota terdekat di Arawa, ia sekarang membuka usaha kecil yang membuat dan menjual minyak dan rempah-rempah kering dan kakao ke toko-toko lokal. Dia selalu memastikan untuk membeli bahan baku dari desa-desa setempat.

“Kita harus mengembangkan sesuatu yang dapat membantu orang-orang desa, terutama perempuan di desa-desa,” katanya. “Untuk alasan itu, saya memulai usaha ini karena saya ingin memberdayakan perempuan. Saya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kita bisa melakukan ini sendiri.”

Bougainville siap memiliki presiden perempuan

Sementara wilayah itu menerawang pada masa depannya dan kemungkinan untuk merdeka dari PNG, para perempuan Bougainville – yang memainkan peran penting dalam menyelesaikan perang saudara – juga berharap bisa mengambil lebih banyak peran dalam pembuatan keputusan.

Saat ini, Pasifik memiliki jumlah keterwakilan perempuan terendah di parlemen – kurang dari 9% anggota parlemen (MP) adalah perempuan. Di PNG, tidak ada MP perempuan. Di sisi lain, Bougainville selalu mengalokasikan tiga kursi untuk perwakilan perempuan di Parlemen, dan perempuan keempat terpilih dalam pemilu terakhir.

Selain itu, empat tahun yang lalu, parlemen Bougainville memperkenalkan UU yang baru untuk memastikan ada perwakilan yang sama antara laki-laki dan perempuan di tingkat pemerintah lokal.

Nauvana, yang memegang salah satu posisi kepemimpinan pemerintah setempat, sebagai wakil ketua dewan daerah pemilihannya, berharap dengan pemilu Bougainville mendatang, akan ada lebih banyak perempuan yang terpilih ke parlemen regional.

“Sudah pasti, saya ingin melihat lebih banyak perempuan di pemerintahan, karena perempuan, kita melihat sisi yang berbeda ketika membuat keputusan,” tegasnya.

Sudah lama Bougainville memiliki jaringan akar rumput pemimpin-pemimpin perempuan dan kelompok perempuan yang kuat, dan partisipasi perempuan dalam proses politik semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Toroansi berharap perempuan yang mencalonkan diri dalam pemilu mendatang bisa terpilih, dan bahkan berencana untuk mencalonkan diri sebagai presiden.

“Banyak perempuan yang akan mencalonkan diri dalam pemilu – berikan kita waktu beberapa tahun lagi, saya yakin perempuan akan sampai di sana,” tegasnya. “Saya tidak ragu bahwa Bougainville siap memiliki presiden perempuan.”

Ketika Bougainville mempertimbangkan masa depannya, Toroansi yakin akan pentingnya mendengarkan suara perempuan di desa-desa. “Saya mungkin telah melihat dunia, tetapi para perempuan di desa sangat bijaksana – mereka memiliki kebijaksanaan, mereka memiliki pengetahuan tentang budaya, mereka mengelola rumah-rumah,” katanya. “Saya masih belajar dari perempuan-perempuan Bougainville.” (ABC News)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top