HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Lipsus : Menggadai damai di Wamena (artikel 3 dari 6)

Amuk massa yang terjadi di Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya, Papua, pada 23 September 2019 menyentak rasa kemanusiaan publik. Semua pihak terpukul dan berduka, melihat bagaimana sebuah unjukrasa anti rasisme para pelajar bisa meledak menjadi amuk massa yang menewaskan sedikitnya 42 korban jiwa dan menghancurkan separuh kota terbesar di kawasan pegunungan tengah Papua itu.

Semua ingin bergegas menenun lagi relasi sosial yang terkoyak, secepatnya menutup luka. Namun, pemerintah punya banyak pekerjaan rumah jika ingin merajut perdamaian yang kokoh. Tulisan ini adalah bagian ketiga dari enam tulisan serial “Menggadai damai di Wamena”.

Amuk massa di pusat kota

Menit demi menit berlalu di halaman Kantor Bupati Jayawijaya, wartawan TVRI di Wamena, Naftali Pawika tak juga berani mengambil gambar massa pelajar yang tengah berunjukrasa di halaman kantor itu. Sejak awal, sejumlah siswa sudah berteriak, melarang siapapun mengambil foto atau video aksi mereka.

“Jadi saya pun hanya bisa duduk di belakang barisan para siswa itu. Setiap ada wartawan datang, saya beritahu, jangan ambil gambar karena para siswa bisa marah,” ujar Naftali Pawika.

Loading...
;

Para siswa juga tak mau diawasi aparat keamanan. Saat serombongan personil Brigade Mobil (Brimob) yang berhenti di Jalan Yos Sudarso terlihat oleh para siswa, mereka berhamburan keluar dari kantor bupati, melemparkan batu dan meminta Brimob pergi. Begitu Brimob pergi, amuk mereda, mereka kembali duduk di halaman, menunggu Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua.

“Mereka tidak mau melihat aparat keamanan, karena mendengar tujuh temannya ditangkap polisi. Mereka menunggu Bupati, karena ingin Bupati membebaskan tujuh teman mereka,” ujar Naftali Pawika.

Aktivis hak asasi manusia Theo Hesegem bertutur Bupati Jhon Richard Banua tiba di kantornya dengan ditemani Komandan Distrik Militer (Dandim) 1702/Jayawijaya, Letkol Inf Candra Dianto. Belum lagi Bupati sempat berdialog dengan para siswa, salah seorang pengawal mereka memotret para siswa. “Para siswa marah dan melempari Bupati dan Dandim. Dandim akhirnya meninggalkan halaman Kantor Bupati Jayawijaya, keluar lewat pintu belakang kantor,” ujar Theo Hesegem di Wamena, 5 Oktober 2019 lalu.

Belum lagi amarah para siswa reda, tiba-tiba asap sudah membumbung tinggi dari Kantor Bagian Keuangan yang terletak di bagian belakang komplek Kantor Bupati Jayawijaya. Naftali Pawika bertutur, kebakaran itu mengejutkan semua orang, karena para siswa masih berada di halaman depan Kantor Bupati.

Baca juga  Sidang perdana praperadilan Kapolres Mimika digelar

“Bupati yang sempat bersembunyi dari lemparan batu para siswa keluar, menenangkan para siswa. Kekacauan itu sempat mereda, karena Bupati berjanji akan mengurus nasib tujuh siswa yang ditangkap polisi, dan para siswa sempat duduk lagi. Tapi, tiba-tiba mobil pemadam kebakaran memasuki kantor dan akan memadamkan kebakaran kantor Bagian Keuangan,” tutur Naftali Pawika.

Seketika, para siswa marah lagi, mengejar mobil pemadam kebakaran itu hingga ke bagian belakang komplek kantor. Pada saat bersamaan, ada kelompok lain yang memasuki komplek kantor Bupati Jayawijaya lewat pintu belakang. “Mereka orang dewasa, dan bergabung dengan massa siswa. Suasana semakin kacau, akhirnya bangunan lain di komplek kantor bupati ikut terbakar,” ujar Naftali Pawika.

Massa yang mengamuk di komplek Kantor Bupati Jayawijaya itu lantas tumpah ruah ke jalanan. Mereka berarakan menuju SMP 2 Wamena di Jalan Diponegoro, mencoba merangsek ke arah Bandara Wamena di Jalan Trikora. Di pertigaan Jalan Diponegoro – Jalan Trikora, polisi menghalau massa dengan tembakan gas air mata.

Dihadang polisi, massa bergerak mundur dan berbelok ke Jalan Ahmad Yani. Di sana, mereka memutar ke arah Panti Asuhan Pelangi, kembali mendekati Jalan Trikora. Banyak saksi meyakini, massa ingin membakar Bandara Wamena. Polisi kembali menghadang massa dengan tembakan gas air mata. Tembakan terus terdengar, membuat massa berlarian dan melimpas ke berbagai arah, terutama ke arah Pasar Misi di Wouma.

Pastor RD Allo Dabi Pr yang berada di Kantor Dekanat Pegunungan Tengah Keuskupan Jayapura di Wouma, mendengar tembakan terus terdengar di sana sejak pukul 09.00 WP. Orang terlibat berlarian tak tentu arah. Ketegangan itu membuat umat Katolik berdatangan dan berlindung di Kantor Dekanat.

“Pukul 10.30 WP, situasi semakin tegang. Pasar Misi mulai terbakar. Ketika Brimob tiba di Pasar Misi, kebakaran telah terjadi di banyak lokasi. Ketika massa pelajar melihat Brimob mengeluarkan tembakan, mereka justru menyerang Brimob,” ujar Pastor Allo.

Pada saat yang bersamaan, massa yang marah dengan penembakan di Homhom mulai berdatangan di Wouma. “Ada tiga orang dewasa, membawa busur dan panah tradisional, memasuki halaman Kantor Dekanat. Mereka sepertinya ingin menuju Pasar Misi. Saya meminta mereka pergi, karena membahayakan umat yang berlindung di Dekanat. Untung mereka pergi. Beberapa saat kemudian, polisi memasuki halaman Dekanat. Saya mengangkat tangan, dan mereka bertanya, ‘pendeta?’ Saya jawab, ya, saya pastor, lalu mereka pergi,” kata Pastor Allo.

Baca juga  Kabid Humas Polda Papua: Jenazah langsung diotopsi
Jenazah Eles Himan sebelum dimakamkan – Jubi/Vembri Waluyas

Di Pasar Misi, amuk massa yang dipukul mundur aparat keamanan itu semakin menjadi-jadi. Mereka menjarah bensin eceran di depan kios pedagang, memakainya untuk membakar toko dan kios di sana. Sejumlah pedagang terjebak di dalam toko atau kios yang tengah dibakar massa. Amuk massa di Pasar Misi, Wouma, itu menimbulkan korban jiwa paling banyak pada 23 September 2019. Pastor Allo menyebut ketegangan berangsur-angsur mereda pada pukul 15.00 WP.

Data resmi kepolisian menyebutkan, peristiwa kelam 23 September 2019 di Homhom dan Wouma itu mengakibatkan 33 orang tewas, 80 lebih orang terluka, dan ribuan warga mengalami trauma. Belasan ribu warga dari Wamena dan sekitarnya mengungsi di sejumlah lokasi pengungsian di Wamena, atau pergi meninggalkan Wamena. Di Wamena, sejumlah kantor dibakar. Selain itu terdapat 351 toko atau rumah toko, berikut 27 rumah tinggal juga dibakar massa.

Sejumlah sumber Jubi mengkonfirmasi bahwa tujuh dari 33 korban tewas yang dicatat polisi tewas karena tertembak dalam rangkaian amuk dan kekerasan yang terjadi sepanjang 23 September itu. Mereka adalah Eliaken Wetapo, Gestanus Hisage, Ketron Kogoya, Manu Meage, Mison Lokbere, Yus Asso, Eles Himan. Jubi juga menerima informasi bahwa seorang korban lainnya, Marius Wenda, juga tewas tertembak, namun informasi itu belum terverifikasi.

Dewan Adat Papua (DAP) versi Kongres Luar Biasa mencatat delapan korban tewas lain yang belum terdata polisi. Mereka adalah Kelion Tabuni, Niligi Wenda, Lawan Hesegem, Beam Wenda, Inius Tabuni, Naligin Yikwa, Wenas Babingga, Yandrik Wenda. DAP versi Kongres Luar Biasa menyatakan kedelapan korban itu tewas tertembak.

Dari sumber yang lain, Jubi menerima informasi seorang warga bernama Nisaba Himan ikut tewas dalam rangkaian kekerasan pada 23 September. Sejumlah warga bersaksi jenazah Nisaba Himan ditemukan di Pisugi, dengan luka tembak dada. Nama Nisaba Himan juga belum tercatat dalam daftar korban yang dicatat polisi maupun DAP versi Kongres Luar Biasa. Dengan tambahan sembilan nama korban itu, amuk massa di Wamena sedikitnya menewaskan 42 orang warga.

Jurnalis Jubi Victor Mambor dan Islami Adisubrata turut berkontribusi dalam penulisan berita ini.

Baca Artikel 1 dari 6ย 
Baca artikel 2 dari 6
Baca artikel 4 dari 6
Baca artikel 5 dari 6
Baca artikel 6 dari 6

 

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa