Follow our news chanel

Lokasi FBLB sebaiknya diatur bergantian

Ilustrasi wisatawan asing ketika melihat pernak-pernik khas Papua yang di jual oleh masyarakat - Jubi/Agus Pabika
Lokasi FBLB sebaiknya diatur bergantian 1 i Papua
Salah satu wisatawan asing ketika melihat pernak-pernik khas lokal yang dijual oleh masyarakat – Jubi/Agus Pabika.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Festival Budaya Lembah Balim (FBLB) yang sudah berlangsung selama 30 tahun lebih ini diharapkan dapat mensejahterakan masyarakat lokal. Untuk itu tempat kegiatan perlu bergantian di sejumlah titik wilayah yang ada di Jayawijaya.

Dominikus Sorabut, Ketua Dewan Adat Papua (DAP) ketika ditemui Jubi di kantor DAP Expo Waena, mengatakan Festival tertua di Wamena ini tentunya akan mendatangkan wisatawan domestik dan internasional sehingga tempat pagelaran festival itu perlu diperhatikan agar punya daya tarik tersendiri.

“Soal tempat juga tidak harus dilakukan satu tempat saja seperti di Welesi, kan kita ketahui sendiri ada pusat festival di beberapa titik seperti di Wosilimo, Konam, dan beberapa titik lainnya, harus dibuka sehingga setiap tahun itu dirolling karena itu juga bagian dari mensejahterakan rakyat lokal,” kata Dominikus.

Lanjutnya, dengan dilakukan rolling tempat festival ini, pastinya akan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat lokal dan pastinya masyarakat akan menerima dampak positif baik dari ekonomi maupun pariwisata.

“Bila semua tempat dibuka tentunya akan menekan angka kriminal karena hari ini di Wamena marak dengan pencurian, pembunuhan, minum mabuk, seks bebas dengan sendirinya akan menekan hal tersebut karena festival tersebut akan memberikan kita pendidikan dasar bagaimana kita hidup baik, memahami hukum-hukum adat,” katanya.

Inisiatif dari pemerintah daerah, kata Dominikus sudah luar biasa namun partisipasi rakyat sebagai masyarakat adat masuk dalam iven itu yang harus dilihat lagi jumlahnya.

Loading...
;

“Kita tidak harus melihat partisipasi mereka saat iven namun dampak dari iven itu setelah jalan apa yang mereka tampilkan (tuangkan) di tempat festival tersebut akan diterapkan di tempat mereka atau tidak,” ujarnya.

Salah seorang fotografer Papua Sonny Wanda mengatakan, ada banyak kearifan budaya dan kegiatan masyarakat yang bisa diabadikan. Terutama kegiatan mama – mama di Papua yang tak bisa dilihat di daerah lain. Keunikan ini yang menarik diabadikan oleh para fotografer yang datang ke FBLB.

“Kehidupan masyarakat Hubula yang sederhana dengan mama – mama yang selalu bekerja keras akan menarik jika diabadikan dalam karya fotografi. Sehinga masyarakat juga bisa menikmati dan menerima pesan yang kuat dari karya fotografi yang diabadikan,” kata Sonny.

Menurut Sonny, festival ini juga berpotensi untuk mendatangkan pemasukan bagi warga sekitar terutama yang berjualan di sepanjang jalan menuju lokasi kegiatan berlangsung. Sayangnya, akses jalan yang rusak membuat festival ini banyak dikeluhkan wisatawan.(*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top