Follow our news chanel

Previous
Next

Lonceng kerusakan mangrove di Teluk Youtefa

Teluk Youtefa papua
Jembatan Youtefa, hutan mangrove, dan perkampungan di atas Teluk Youtefa -Jubi/ Timo Marten.

Papua No. 1 News Portal | Jubiikan 

Jayapura, Jubi – Dulu di Teluk Youtefa masih terlihat ikan deho, karena laut bersih dan bebas dari sampah. Hutan bakau tempat ikan memijah masih aman. Kepiting, ikan, dan siput masih melimpah.

Tak butuh waktu lama untuk memancing ikan atau melempar jaring. Bahkan dari atas rumah-rumah panggung yang dibangun di atas air di teluk itu. Di bawahnya terlihat ikan berkeliaran.

BAGIAN PERTAMA: FASILITAS PON PAPUA MENGHANTAM HUTAN LINDUNG TELUK YOUTEFA

BAGIAN KETIGA: TERANCAMNYA HUTAN PEREMPUAN DI KAMPUNG ENGGROS

Tapi sekarang hanya ikan samandar kecil yang masih bisa dipancing. Itulah yang dialami Mama Fransina Hanasbey yang duduk santai di atas jembatan di Perkampungan Enggros pada 8 Juli 2020 siang.

Ia sabar menanti kapan kailnya mengait ikan. Baskom di sampingnya baru berisi seekor ikan kecil.

Loading...
;
Semuanya telah berubah bagi masyarakat Kampung Enggros di Teluk Youtefa. Tak ada lagi kemudahan mendapatkan ikan. Ikan semakin sulit, hasil tangkapan pun sedikit.

Laban Hamadi, 65 tahun, nelayan asal Kampung Tobati hanya bisa mengenang masa lalu di mana memancing ikan begitu gampang dan cepat.

“Berapa jenis ikan itu, ada ayadau dan goropa, karena di mana ada kotoran di situ goropa ada, di Holtekamp cakalang sudah tidak masuk lagi karena pencemaran laut,” katanya ketika ditemui Sabtu, 1 Agustus 2020.

Ayadauw adalah sejenis ikan gutila, tapi ekornya halus dan mulutnya tebal, tubuhnya berbintik-bintik. Sedangkan goropa adalah ikan kerapu yang biasa hidup di terumbu karang.

Laban Hamadi melaut sejak 1960-an di teluk sekitar Kampung Tobati. Dia melaut dari pukul 6 sore, semalaman hingga pukul 6 pagi. Ia mengenang, dulu ikan melimpah di Teluk Youtefa. Namun tahun 2000-an ikan-ikan mulai berkurang. Bahkan memancing juga butuh waktu lama untuk mendapatkan ikan.

“Ikan berkurang karena pencemaran laut, ikan-ikan terganggu, dan akhirnya pindah ke Skouw,” ujarnya.

Namun di bagian arah ke Depapre ikan masih ada. Sedangkan di sekitar Youtefa ikan merah sudah tidak ditemukan lagi.

“Tahun 1990 ada, tahun 2000 ke atas sudah tidak ada, sekarang butuh waktu lama mencari ikan,” katanya.

Selain karena pencemaran laut oleh sampah, menurut Laban Hamadi, berkurangnya hutan mangrove sebagai penyebab menyusutnya jumlah ikan.

“Hutan habis, padahal di situ tempat ikan-ikan bertelur, sekarang ikan sudah kurang, tapi suntung (cumi-cumi) masih ada karena dia ikut arus masuk,” ujarnya.

Menurut Hamadi, dulu di teluk itu ikan selalu berlimpah. Terlebih pada saat bulan timur atau angin timur. Itulah saatnya musim gelombang yang membawa banyak ikan, bahkan juga cakalang.

“Sekarang pada musim itu juga tidak ada, faktornya itu sudah, pencemaran laut,” katanya.

Mangrove di Teluk Youtefa juga disebut berkurang sekitar 70 persen. Demikian juga ikan. Padahal kawasan teluk adalah rumah bagi ikan-ikan.

Kehadiran Jembatan Youtefa, jalan lingkar, dan diikuti pembangunan yang marak di kiri-kanan jalan jelas berdampak kepada mata pencarian nelayan di Teluk Youtefa.

“Proyek di sini, bunyi mesin-mesin dan alat berat, membuat ikan lari, ikan tidak aman, ikan tergeser dari sini,” ujarnya.

Ricky Habakuk, nelayan yang sehari-hari juga melaut di Teluk Youtefa menuturkan, beberapa tahun terakhir nelayan kesulitan menangkap ikan. Ironisnya, mereka justru menjaring sampah, bukan ikan. Padahal dulu ikan sangat mudah didapatkan dalam tempo satu sampai dua jam.

“Buang jaring di depan rumah pun bisa mendapatkan ikan yang cukup banyak, sekarang untuk mau dapat ikan kecil-kecil saja sudah susah,” ujarnya.

Sebelumnya Habakuk berpenghasilan Rp1 juta sehari dengan melaut dari pagi hingga sore. Namun kini untuk mendapatkan Rp200 ribu saja harus melaut semalaman hingga pagi.

Ia merasakan sampah mulai banyak sejak 1990 hingga 2000. Ia melaut sejak duduk di bangku SD.

“Waktu itu laut masih bersih, belum tercemar seperti sekarang,” katanya.

Kini ikan bobara, bandeng laut, kawalina, kembung, dan ikan terbang tak muncul lagi. Para nelayan hanya mendapatkan ikan bulanak dan samandar dengan ukuran kecil. Ikan bulanak (Crenimugil crenilabis) salah satu yang masih banyak ditangkap nelayan.

Berkurangnya ikan juga diakui Kepala Kampung Enggros Origenes Meraudje. Ia menceritakan kini nelayan dan masyarakat tak lagi leluasa menangkap ikan karena lahan mereka di laut dijadikan fungsi lain. Tempat mencari ikan pun hanya sekitar rumah.

Kawasan di sekitar fasilitas ‘venue’ dayung PON XX Papua sebelumnya juga merupakan rumah bagi jenis-jenis ikan dan kerang.

“Penangkapan ikan oleh masyarakat masih eksis, cuma arealnya yang berkurang,” kata Meraudje.

John Dominggus Kalor dari Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih pernah meneliti mangrove di Teluk Youtefa pada 2017.

Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Biodiversity 2018 tersebut menyebutkan bahwa mangrove di Teluk Youtefa termasuk dalam kategori tidak sehat.

Mangrove di Teluk Youtefa termasuk kategori tidak sehat terkait faktor luas ekosistem mangrove, level gangguan, kerapatan, dan aktivitas manusia, serta ada-tidaknya sampah.

Mangrove disebut dalam kategori sehat jika memiliki kerapatan tinggi, indeks gangguan rendah, interaksi ekosistem dengan manusia rendah, dan tingkat eksploitasi rendah.

“Mangrove tidak bisa menjadi tempat pemijahan ikan jika dipenuhi sampah, tapi di pesisir mangrove di depan Enggros itu ada daerah-daerah yang di dasarnya bukan substrat pasir, tapi sampah,” katanya saat ditemui di Jayapura, Rabu, 8 Juli 2020.

Sedangkan berdasarkan tingkat keragamannya, kata Kalor, kondisi mangrove Teluk Youtefa termasuk kategori sedang.

Penelitian Kalor juga menyebutkan nelayan susah mendapatkan ikan. Kalaupun mendapatkan ikan, tangkapannya tidak variatif dan waktu tangkapan lama, serta semakin jauh ke arah Papua Nugini.

Padahal saat masih sehat, mangrove Teluk Youtefa menjadi tempat bertelurnya ikan dan kepiting. Mangrove dapat menjaga garis pantai dan membuat pulau bertumbuh dengan sedimentasi.

Terancamnya mangrove di Teluk Youtefa tentu saja kabar yang sangat menyedihkan, karena arti pentingnya bagi planet ini. Papua menjadi pusat penyebaran mangrove dunia karena memiliki banyak spesies mangrove. Tujuh spesies di antaranya berada di Teluk Youtefa.

Ancaman Kehadiran Jembatan Youtefa

Peneliti dari Jurusan Geografi, Universitas Cenderawasih Yehuda Hamokwarong menilai kehadiran Jembatan Youtefa di Teluk Youtefa mengubah fisik, psikis, dan sosial masyarakat di sana, seperti Kampung Tobati, Enggros, Kayu Pulo, dan Skouw.

Hamokwarong menilai secara fisik jembatan mengundang banyak investor. Penggusuran mengubah vegetasi di pesisir, seperti cemara udang (kasuari), pandanus, kelapa, rerumputan, dan rawa-rawa dengan hutan sagunya.

“Pohon-pohon ditebang, padahal fungsi utama pohon-pohon itu menahan abrasi dan intrusi, serta menahan terjangan gelombang dan badai, saya punya penelitian terbaru, di situ memang rumah ikan, itu tempat tinggal homo sapiens,” katanya ketika ditemui Rabu, 22 Juli 2020.

Kehadiran jembatan dan pembongkaran hutan lindung, kata Hamokwarong, juga menimbulkan konflik horizontal antarpemilik ulayat, karena terjadi saling klaim kepemilikan tanah dan penjualan. Selain itu, kehilangan “hutan perempuan” juga menyebabkan hilangnya identitas perempuan di sana.

Mangrove di kawasan Taman Wisata Alam Teluk Youtefa tersebar di Kampung Nafri, Injros, dan Tobati. Jenisnya bermacam, seperti genus Sonneratia (S. ovata dan S. alba), Rhizophora (R. mucronata, R. Apiculata, dan R. stylosa), Avicennia (A. alba), Xylocarpus (X. granatum), dan Bruguiera (Bruguiera gymnorrhiza dan B. cylindrica).

Kepala Kampung Enggros Origenes Merauje pernah menemani dan menjadi informan Selvi Tebaiy. Tebaiy adalah peneliti perikanan dari Fakultas Peternakan, Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Papua, Manokwari.

Meraudje menceritakan, berdasarkan penelitian tersebut Teluk Youtefa termasuk dalam kategori teluk semi tertutup yang menyebabkan proses pasang-surut air laut memengaruhi fluktuasi variabel fisik-kimiawi.

Menurut penelitian Tebaiy, teluk tersebut memiliki areal padang lamun seluas 110,83 hektare atau 26,50 persen dari luas perairan dalam Teluk Youtefa. Di sana terdapat empat spesies lamun, yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, dan H. minor.

Meraudje mengakui aktivitas nelayan di kawasan lamun justru akan mengurangi jumlah ikan, karena ikan tersebut masih kecil.

Apalagi dalam penelitian Selvi Tebaiy disebutkan perairan lebih coklat karena tingkat sedimentasi yang tinggi.

“Sedimentasi tersebut menyebabkan plankton sebagai makanan utama ikan perairan Teluk Youtefa ikut terdampak sedimentasi dan sampah akibat pembuangan limbah ke perairan ini,” ujarnya. (Dominggus A. Mampioper, Timoteus Marten, dan Ramah)

(Laporan ini 2 dari 3 tulisan hasil kolaborasi Jubi.co.id dengan Majalah TEMPO dan dan Tempo Institute)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top