LP3BH Manokwari desak Pangdam Kasuari bebaskan Maikel Yaam dan Simon Waymbewer

Advokat di Papua
Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy. -Jubi/Dok

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) di Tanah Papua dalam kedudukan sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari, Yan Christian Warinussy, mendesak Panglima Kodam (Pangdam) XVIII/Kasuari untuk melepaskan Maikel Yaam (17) dan Simon Waymbewer (26) yang ditangkap oleh Pasukan Yonif 726/VYS bersama anggota Kodim 1809 Maybrat di Kampung Kisor, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat, pada Kamis (2/9/2021).

Warinussy mengatakan sebagaimana diberitakan di sejumlah media online, bahwa keduanya dituduh terlibat dan merupakan bagian dari sekitar 50 atau 30 orang kelompok penyerang Posramil Kisor, pada Kamis (2/9/2021) dini hari, lalu menewaskan Komandan Posramil Kisor Lettu CHB Dirman bersama 3 (tiga) anggotanya serta melukai 2 (dua) anggota TNI AD lainnya.

“Kami LP3BH Manokwari telah menerima informasi dari sumber kami di Distrik Aifat Selatan, bahwa kedua anak muda ini bukan merupakan bagian dari kelompok penyerang tersebut, yang seperti dilansir media adalah bagian dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Mamfred Fatem,” katanya kepada Jubi melalui pasan WhatsApp, belum lama ini.

Warinussy mendesak Pangdam XVIII/Kasuari untuk senantiasa mengedepankan langkah penegakan hukum, dalam menyelidiki siapa sesungguhnya pelaku penganiayaan berat tersebut, dengan melibatkan aparat penyidik dari Polri melalui Polda Papua Barat, Polres Sorong Selatan, serta Polres Persiapan Maybrat.

“Sesuai amanat UU RI No.8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Karena para kelompok penyerang Posramil Kisor diduga keras berasal dari warga sipil. Sehingga tidak bisa dengan serta merta diterapkan interogasi (seperti) yang dilakukan oleh aparat TNI AD terhadap warga sipil. Sebab jika itu terjadi maka ke depannya akan sangat menyulitkan bagi kepentingan pengungkapan fakta hukum yang diperlukan oleh penyidik Polri,” katanya.

Menurutnya, LP3BH juga sangat tidak sependapat dengan digunakannya cara-cara kekerasan sipil bersenjata yang menewaskan 4 prajurit terbaik TNI AD serta melukai 2 (dua) anggota lainnya.

“Kami juga sangat mengharapkan digunakannya cara-cara penyelesaian yang adil dan bermartabat, serta berlandaskan hukum dan prinsip-prinsip HAM dalam pengungkapan kasus Kisor tersebut. Kami sangat mendesak dilindunginya warga asli di Kampung Kisor dan sekitarnya, yang telah mengungsi meninggalkan kampung halamannya dan masuk ke kawasan hutan,” katanya.

Loading...
;

Ia menambahkan, dalam melakukan operasi penyisiran sebagaimana disampaikan Pangdam XVIII/Kasuari, semestinya TNI AD dan Polri justru memberi perlindungan pertama kepada warga sipil/adat di daerah tersebut.

“Kemudian memberi ruang bagi keterlibatan tokoh agama dan tokoh adat atau tokoh masyarakat setempat dengan bantuan pimpinan gereja di Papua Barat, untuk menelusuri dalam upaya menemukan para pelaku penyerangan di Kisor tersebut,” katanya.

Sementara itu, Ketua I KNPB Wilayah Maybrat Yohanes N. Assem, meminta kepada Kapolda Papua Barat Irjen Pol Tornagogo Sihombing, agar membebaskan dua orang yang ditangkap tersebut, selain itu mereka juga bukan anggota KNPB.

“Simon Waimbewer adalah anggota Satpol-PP dan Maikel Yaam adalah rakyat sipil. Sangat tidak manusiawi tindakan aparat kepolisian terhadap rakyat sipil yang tak berdosa. Segera bebaskan mereka tanpa syarat,” katanya. (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top