Follow our news chanel

Mahasiswa eksodus: Emas Papua yang terlantar

Mahasiswa Papua yang eksodus dan mendatangi kantor Majelis Rakyat Papua, beberapa waktu lalu - Jubi/Dok
Mahasiswa eksodus: Emas Papua yang terlantar 1 i Papua
Mahasiswa Papua yang eksodus dan mendatangi kantor Majelis Rakyat Papua, beberapa waktu lalu – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Novilus K. Ningdana

Pasti semua orang mengatakan bahwa pendidikan itu penting, bermanfaat, dan memiliki peran dalam menjawab kehidupan manusia. Pendidikan menjadi landasan kemajuan suatu bangsa dan daerah.

Pendidikan dapat mempersiapkan sumber daya manusia untuk menjawab kebutuhan hidup manusia dalam segala bidang. Maka bangsa yang besar dan maju ialah bangsa yang memiliki sistem pendidikan dan sumber daya manusia yang cerdas dan baik.

Namun, di Papua pendidikan semakin terancam karena sumber daya manusia yang terlantar lantaran berbagai peristiwa sosial yang mematikan potensi manusia Papua untuk membangun dan memajukan daerahnya, yakni mahasiswa eksodus: Emas Papua yang terlantar.

Judul di atas diberikan untuk menggambarkan sumber daya manusia Papua yang terancam karena dampak peristiwa rasisme yang terjadi pada Agustus 2019 di Surabaya, Jawa Timur.

Peristiwa persekusi dan rasisme yang terjadi pada 16 dan 17 Agustus 2019 di Surabaya terhadap mahasiswa Papua memiliki dampak negatif terhadap generasi emas Papua yang mengenyam pendidikan di Nusantara.

Loading...
;

Situasi ini membuat mahasiswa tidak aman karena didatangi oleh aparat dan dipersekusi oleh organisasi kemasyarakatan. Juga terjadi gelombang demonstrasi yang bertubi-tubi di seluruh Indonesia. Akhirnya ribuan mahasiswa Papua memutuskan untuk pulang ke Papua.

Ribuan mahasiswa yang pulang berpencar ke kampung halamannya dan membuat pos induk di kabupaten maupun ibu kota Provinsi Papua, Jayapura.

Jumlah mahasiswa yang [di]pulang[kan] oleh Polda Papua diperkirakan 3.000 orang, sementara posko induk mahasiswa eksodus di Jayapura mencapai 6.000 orang (www. jubi.co.id).

Mereka pulang dengan membawa satu misi yakni referendum. Itulah komitmen dan tuntutan awal mereka kepada pemerintah provinsi dan daerah.

Di Papua mereka telah melakukan beberapa demonstrasi untuk segera menuntaskan kasus ini, tetapi berujung dengan korban jiwa dan beberapa orang lainnya di balik jeruji besi, serta beberapa mahasiswa ditangkap dan diproses hukum hingga kini. Mereka tidak didengar, diintimidasi, ditangkap, dan ditelantarkan.

Pulangnya mahasiswa eksodus menjadi satu pukulan besar bagi pemerintah dan masyarakat Papua akan masa depan mahasiswa dan sumber daya manusia Papua. Pertanyaannya bagaimana dengan masa depan sumber daya manusia Papua yang terlantar ini? Bagaimana sikap pemerintah daerah dalam menangani mahasiswa eksodus? Mereka terlantar bagaikan anak ayam kehilangan induk di daerah sendiri.

Mahasiswa merupakan tulang punggung sumber daya manusia Papua yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan demi kesejahteraan, kebahagiaan, dan kemerdekaan daerah.

Menurut saya pemerintah sedang membunuh, membiarkan, dan menelantarkan masa depan SDM Papua. Ide radikalnya orang Papua membunuh masa depan orang Papua. Suatu pembiaraan yang melanggar hak asasi manusia untuk menuntut ilmu bagi mahasiswa eksodus.

Jika daerah mau maju mesti menyikapi masalah ini secara serius dan mengambil solusi yang tepat demi keselamatan masa depan Papua.

Generasi emas Papua yang nanti memberikan kontribusi besar dalam pembangunan, perubahan, dan menjawab kebutuhan daerah terlantar.

Menurut saya (pembiaran) akan memberikan dampak beberapa negatif bagi daerah.

Pertama, terjadi krisis sumber daya manusia Papua. Jangan heran jika kelak (Papua) tidak menghasilkan tenaga andal yang cerdas, kompeten, dan potensial;

Kedua, memberikan peluang besar bagi orang non-Papua untuk menguasai sistem pemerintahan dan peluang lainnya di Papua;

Ketiga, mematikan potensi dan kesempatan emas anak Papua untuk terus bersaing dalam bidang akademik di level nasional dan internasional.

Tiga hal ini menjadi pertimbangan mengapa generasi emas Papua harus mendapat perhatian serius dari pengambil kebijakan di Papua, untuk memfasilitasi mahasiswa eksodus yang terlantar di negeri sendiri untuk kembali mengenyam pendidikan di kota studi masing-masing.

Dengan melihat pentingnya pendidikan dan minimnya SDM Papua, maka pemerintah provinsi dan daerah, DPRD, dan MRP sebagai lembaga kultural orang asli Papua (OAP) harus memfasilitasi mahasiswa eksodus untuk kembali ke kota studi masing-masing dan melanjutkan perkuliahan yang tertinggal karena peristiwa rasisme yang dialaminya.

Saya yakin bahwa dengan sikap ini pemerintah dapat memberikan jaminan keselamatan SDM Papua yang unggul, maju dan cerdas sesuai dengan visi dan misi gubernur dan wakil gubernur Papua dalam masa kepemimpinannya, serta memberikan satu motivasi tersendiri bagi mahasiswa, untuk terus belajar dengan mengembangkan potensi-potensi emas yang dimiliki. (*)

Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timo Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top