Mahasiswa harus melawan rasialisme terhadap orang Papua

Diskusi Rasialisme Papua
Poster diskusi daring bertajuk “Dari Injak Kepala, Pelanggaran HAM, Revisi Undang-undang Otsus, Hanya Menggores Luka bagi Generasi Papua” yang diselenggarakan Badan Koordinasi Mahasiswa Papua atau BKMP se-Kalimantan pada Senin (2/8/2021). - IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Dr Andi Tenri Sompa mengatakan orang Papua, khususnya mahasiswa Papua, harus melakukan perlawanan perlakuan secara damai dan bermartabat untuk menghentikan praktik rasialisme terhadap orang Papua. Hal itu dinyatakan Sompa selaku pembicara dalam diskusi daring bertajuk “Dari Injak Kepala, Pelanggaran HAM, Revisi Undang-undang Otsus, Hanya Menggores Luka bagi Generasi Papua” pada Senin (2/8/2021).

“Meskipun sudah 52 tahun orang Papua bersama dengan NKRI, tetapi masih ada saja rasialisme. Itu potret buruk yang yarus disuarakan melalui diskusi, seminar, dan mengumpulkan data perlakuan rasialisme,” kata Sompa dalam diskusi daring yang diselenggarakan Badan Koordinasi Mahasiswa Papua (BKMP) se-Kalimantan itu.

Ia menegaskan ujaran dan tindakan rasialisme terhadap orang Papua sangat tidak adil, apalagi jika terjadi pada era globalisasi seperti sekarang. “Padahal, anak Papua sudah bersekolah di seluruh Indonesia, bahkan di luar negeri. Ini satu kemajuan luar bisa. Seharusnya sudah tidak ada orang Papua yang diperlakukan secara rasialis,” katanya.

Baca juga: Eks napol: “Kami sudah pertanggungjawabkan kasus demo anti rasialisme Papua

Ia mengajak BKMP se-Kalimantan untuk mengawal dan melaporkan setiap kasus diskriminasi rasial terhadap orang Papua kepada polisi. “Saya bisa bantu dalam mengadvokasi kasus rasialisme yang terjadi di Kalimantan. Sejauh ini, Puji Tuhan, tidak ada. Kita harus menjaga toleransi bersama,” katanya.

Ia juga mengajak para mahasiswa Papua untuk terus mengadvokasi kasus pelanggaran HAM di Papua, dengan mengandalkan data yang sahih. “Kalau memang terjadi pelanggaran HAM, bisa kita sampaikan kepada pemerintah pusat. Kami semua menolak pelaku pelanggaran HAM. [Upaya advokasi] harus ditulis dengan data informasi yang tepat, dan disampaikan melalui saluran tepat,” katanya.

Ia menyatakan Otonomi Khusus Papua seharusnya bisa menghentikan siklus kekerasan dan pelanggaran HAM di Papua. “Tetapi apabila selama Otonomi Khusus itu terjadi pelanggaran HAM dan rasialisme terhadap orang Papua, maka seharusnya ada perjanjian politik yang disepakati, supaya Otsus itu bisa berjalan sesuai kehendak masyarakat Papua,” katanya.

Loading...
;

Ia menekankan aparat negara yang melakukan pelanggaran HAM terhadap orang Papua juga harus dihukum. “Supaya hukum di negara ini tidak runcing ke bawah dan tumpul ke atas. [Jika itu terjadi], itu menjadi beban. Anak Papua banyak belajar hukum, jeli melihat setiap persoalan hukum dan HAM di Tanah Papua,” katanya.

Baca juga: Haris Azhar: Orang Papua menjadi korban dobel-dobel

Ketua Ikatan Mahasiswa Papua, di Semarang Deserius Dogomo mengatakan situasi pelanggaran HAM dan diskriminasi terhadap orang Papua tidak akan berubah selama Papua masih ada dalam NKRI. “Kami mau berdemonstrasi saja dihadang oleh organisasi kemasyarakatan. Padahal kami menyampaikan aspirasi orang Papua yang mengalami pelanggaran HAM, sumber daya alamnya dieksploitasi,” kata Dogomo.

Ia menyatakan Otonomi Khusus mengatur banyak alur penyelesaian persoalan politik dan hukum di Papua, termasuk pembentukan Pengadilan HAM, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, partai politik lokal, dan klarifikasi sejarah Papua. Akan tetapi, berbagai wewenang khusus itu tidak pernah dijalankan selama 20 tahun pelaksanaan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. 

“Kami melihat bahwa kasus rasialisme tetap terjadi, bahkan disampaikan oleh Menteri Sosial Tri Rismaharini. Kami melihat seorang penyandang disabilitas diinjak kepalanya. Di Genyem, warga ditembak. Semua itu terjadi saat pemerintah sudah menerapkan Otonomi Khusus Papua,” kata Dogomo. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top