Follow our news chanel

Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

Papua kuliah online
Mahasiswa salah satu kampus di Jayapura sedang mengikuti kuliah online dari kosnya -Dok.Pribadi.

Mahasiswa Papua banting tulang cari uang beli paket internet

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Berbeda dengan kondisi sebelum pandemi, umumnya mahasiswa di Papua tidak perlu mengeluarkan uang untuk kuliah. Mereka cukup berjalan kaki atau naik kendaraan ke kampus. Tapi di era Pandemi Covid-19, mahasiswa memerlukan internet karena perkuliahan dilakukan secara online atau daring.

Kerena tidak ada jaringan internet gratis, mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi di Papua harus berjuang sendiri mencari uang pembeli paket data internet. Mereka berjualan pinang, menjadi buruh bangunan, atau menawarkan jasa yang bisa mendapatkan uang agar tak ketinggalan perkuliahan.

Febrian Mayor, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua, memilih berjualan pinang di lingkaran Abepura, Kota Jayapura agar bisa mendapatkan uang pembeli paket data internet.

“Sehari dapat Rp50 ribu, hasilnya untuk tambah-tambah beli pulsa,” katanya kepada Jubi saat ditemui di kampusnya, Selasa (20/10/2020).

Febrian mengatakan kuliah online menambah pengeluarannya. Ia tak banyak berharap dari kiriman orang tuanya, karena kemampuan ekonomi mereka yang terbatas.

“Saya sebulan harus bayar kos Rp700 ribu, biaya pulsa Rp200 ribu, ini belum termasuk makan dan ongkos kuliah yang harus saya keluarkan,” ujarnya.

Terkadang ada tugas yang terlambat diberikan dosen yang berimbas pada pemakaian pulsa.

Loading...
;

“Kita takut matikan data, karena belum ada informasi dari dosen, kita nyalakan data terus dan data kita terpotong setiap harinya,” katanya.

Ia mengaku selama sebulan mengikuti kuliah online seringkali tak bisa berkonsentrasi dan terganggu dengan berbagai informasi yang masuk melalui ponsel.

“Saya berharap secepatnya bisa kuliah tatap muka,” katanya.

Yefta Lengka, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Cenderawasih juga memiliki kendala biaya pulsa data yang harus dikeluarkan Rp200 ribu per bulan. Menurutnya, tiap mata kuliah mesti mengeluarkan Rp50 ribu. Untuk mata kuliah 3 SKS memerlukan waktu online selama tiga jam dan 2 SKS 1,5 jam.

“Saya biasa babat rumput dan ikut bantu ‘assessment’ dari yayasan,” kata Yefta menyebutkan cara mencari uang untuk membeli pulsa data. Ia bergabung dengan sebuah Yayasan untuk mencari tambahan biaya.

Yefta sudah satu setengah bulan mengikuti kuliah online. Menurutnya, jika ada tugas dari dosen maka mahasiswa membutuhkan lebih banyak waktu untuk memakai internet sehingga membutuhkan biaya yang lebih besar. Karena itu, ia berharap dosen mempertimbangkan agar tidak terlalu banyak memberikan tugas.

“Sejauh ini tak ada bantuan yang diterima oleh mahasiswa berupa paket data, sehingga kami yang berlatar belakang dari pedalaman ini mengalami kesulitan yang sangat luar biasa dalam hal ekonomi,” ujarnya.

Ia berharap Kemendikbud mengalokasikan anggaran pulsa untuk mahasiswa melalui kampus agar mahasiswa seperti dirinya tidak memiliki kendala menuntut ilmu.

Masalah lain yang dirasakan Yefta adalah jaringan internet yang sering terputus-putus yang menyebabkan penerimaan materi tidak lancar.

“Ini bagi kami macam nonton film lalu lupa, itu memang yang kami rasakan dan materinya kami tak dapat serap secara maksimal,” katanya.

Vinsen Matuan, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih memilih menjadi buruh bangunan agar bisa mendapatkan uang pembeli paket internet.

“Orang tua kami ini ekonominya lemah, tidak mungkin saya telepon ke kampung, jadi saya kerja sebagai buruh bangunan,” katanya.

Semester lalu Vincen sudah tiga bulan mengikuti kuliah online. Ia merasakan, jika ada tugas dari dosen membutuhkan biaya internet yang lumayan besar.

Vincen menyayangkan selama ini tidak ada perhatian dari lembaga manapun kepada mahasiswa yang berekonomi lemah sepertinya. Karena persoalan itu, ia mengaku pada semester berjalan ini baru dua kali mengikuti pertemuan online, karena terkendala biaya.

“Kalau teman-teman yang punya uang mungkin bisa kerjakan, tapi kami yang tak punya, itu hanya mempersulit,” ujarnya.

Menurutnya perkulihan online lebih merugikan mahasiswa. Apalagi ada beberapa ‘dosen terbang’ hanya memberikan tugas ketimbang memberikan kuliah.

“Kami banyak tidak mengerti materi yang sampaikan dosen, kurangnya ruang untuk bertanya sehingga kami minta agar kuliah tatap muka,” katanya.

Keluhan kesulitan biaya internet untuk kuliah juga disampaikan Junius Tapani, mahasiswa semester pertama Program Studi Geografi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan, Universitas Cenderawasih.

Semester ini ia mengaku baru tiga kali mengikuti pertemuan online. Itupun untuk membeli pulsa internet, ia bersama temannya, Pewit Kiwat, mesti menawarkan jasa membersihkan kebun dan halaman rumah orang.

“Saat kuliah online jaringan juga sering putus-putus, akibatnya belum terserap dengan baik materi yang disampaikan dosen,” ujarnya.

Menurut Tapani, dari 72 mahasiswa di Program Studi Geografi, hanya 40 orang yang mengikuti kelas online.

“Sisanya ‘tra’bisa ikut karena tak punya paket data dan kadang putus saat materi berjalan, berarti pulsa sudah habis itu,” ujarnya.

Ia berharap lembaga kampus menyediakan WiFi gratis untuk mahasiswa.

WiFi Asrama

Mahasiswa Jurusan Farmasi, Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Katrina Taa sudah delapan bulan memanfaatkan WiFi di asramanya untuk mengikuti kuliah online. Namun ada batasan penggunaan dari pukul 08.00 WIT hingga 23.00 WIT.

“Untuk berjaga-jaga akan tambahan tugas saya siapkan paket data 45 GB,” katanya.

Menurut Katrina, pihak kampus sudah dua kali ini memberikan bantuan paket data kepada mahasiswa. Namun hanya sebagian mahasiwa yang mendapatkannya.

“Kampus sediakan 40 GB tiap mahasiswa, di jurusan saya hanya  40 mahasiswa yang dapat paket data, sebagiannya tidak dapat, termasuk saya,” katanya.

Untuk kuliah online selama ini, kata Katrina, sangat sulit terutama saat menerima materi. Sebab diskusi antara dosen dan mahasiswa minim.

“Kami kebanyakan lewat Youtube, ini dosen mereka buat dan kasih masuk ke Youtube baru kami tonton, kalau tidak mengerti kami tidak tahu mau bertanya kemana, jadi satu-satunya kami komen di bawahnya sebagai absen,” ujarnya.

Katrina berharap pihak kampus menyediakan WiFi di setiap fakultas. Selain itu dalam pembagian paket data harus dilakukan secara merata agar semua dapat bagian.

“Ada mahasiswa yang masih pakai hp nokia, dong itu yang biasanya tenteng laptop ke kampus untuk kerja tugas dan nama-nama penerima paket bisa didata secara tertata lagi,” ujarnya

Sementara itu,  Elisa Wilujeng, mahasiswa akhir Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih sudah hampir dua bulan lebih banyak memanfaatkan WiFi ketimbang membeli paket data.

“Saya pernah beli paket data Rp85 ribu sekitar 15 GB, bertahan selama satu bulan, tapi untuk satu kali pertemuan selama empat jam dalam sehari,” katanya.

Masalah yang sering dialami saat kuliah online, kata Elisa, sinyal yang sering terganggu.

Sebagai mahasiswa koas mestinya Elisa lebih banyak praktik di rumah sakit. Tapi karena pandemi, praktik digantikan dengan teori. Namun dengan berkurangnya praktik semakin banyak teori yang harus dipelajari dan membutuhkan waktu lebih untuk mengerti setiap materi.

“Kita dikasih tugas, buat laporan kasus, cari jurnal, nah, nanti dari situ baru kita sekalian bahas, setelah maju tugas baru dijelaskan sama dokternya,” katanya.

Elisa menyarankan agar pihak kampus dapat memberikan bantuan kepada mahasiswa yang benar-benar membutuhkan paket internet dengan cara mendata mereka. (CR7)

Editor: Syofiardi

Scroll to Top