Follow our news chanel

Mahasiswa Papua di AS dan Rusia ikut ‘tinggal diam di rumah’

Suasana di sekitar apartemen Manuel Heselo di Corvallis, Oregon, Amerika Serikat – Jubi/Manuel
Mahasiswa Papua di AS dan Rusia ikut ‘tinggal diam di rumah’ 1 i Papua
Suasana di sekitar apartemen Manuel Heselo di Corvallis, Oregon, Amerika Serikat – Jubi/Manuel

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Nabire, Jubi – Barrisen Rex Rumabar dan Manuel Heselo sama-sama patuh untuk stay at home atau di Papua sering kita sebut ‘tinggal diam di rumah’. Rex yang studi di Moscow, Rusia, dan Manu di Oregon, Amerika Serikat saat ini senasib dengan sesama mahasiswa Papua di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bali yang juga ‘tinggal diam di rumah’. Kalau yang di luar negeri tinggal diam di apartemen, yang di Indonesia tinggal diam di asrama.

Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan sebutan virus korona, memang telah menyatukan nasib banyak orang di dunia, walau dengan tanggungan yang berbeda-beda.

Moskow karantina kota

“Virus Covid-19 ini bikin banyak orang disini panik, termasuk saya, karena saya jauh dari keluarga,” ujar Rex Rumabar saat berbincang-bincang dengan Jubi lewat saluran Whatsapp, 20 Maret 2020.

Mulai Oktober 2019 lalu, Rex tinggal di Moscow, Rusia untuk persiapan kuliah di National Research University Higher School of Economics. Saat ini dia sedang belajar bahasa di Universitas Plekanova hingga bulan Juni nanti.

“Tapi sejak hari Selasa (17/3/2020) kita punya aktivitas, persiapan bahasa semua dihentikan karena Covid-19. Situasi di tempat saya tinggal ini juga sudah tidak ramai seperti biasanya sejak aktivitas belajar mengajar di kampus dihentikan. Hari Rabu saya ke toko (bahan pokok) tempat biasa saya beli beras dan ayam, ternyata saya lihat sudah habis. Tidak seperti biasanya. Banyak orang belanja, baik mahasiswa asing maupun masyarakat Rusia. Mereka kebanyakan beli bahan makanan dalam jumlah banyak untuk persiapan di rumah karena ada isu-isu mau lockdown,” ungkap Rex.

Loading...
;

Hari Senin (30/3/2020) Kota Moscow mulai menerapkan karantina kota menyusul bertambahnya kasus paparan Covid-19 di kota itu hingga melewati angka 1.000. Karantina kota mengharuskan seluruh warga tinggal di rumah kecuali untuk urusan-urusan seperti: belanja kebutuhan pokok, ke RS dan apotik, buang sampah, membawa jalan-jalan hewan peliharaan tak lebih dari 100 m, dan pergi bekerja jika tak memungkinkan kerja di rumah.

The Moscow Times melaporkan warga akan diberikan kartu khusus bagi yang perlu keluar dari rumah. Walikota Sergei Sobyanin mengatakan kantornya akan memberlakukan sistem ‘pengawasan pintar’ untuk menegakkan aturan baru melalui kartu khusus tersebut. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi berupa denda.

Rusia secara keseluruhan, per 30 Maret, mencatat 1.836 kasus positif Covid-19 dan sembilan kematian.

Corvallis, Oregon sepi

“Di negara bagian Oregon, hari Senin kemarin mulai dikeluarkan imbauan/gerakan stay at home sejak ada 200 kasus Covid-19. Semua fasilitas umum ditutup sementara waktu, kecuali toko, bank, dan stasiun pengisian bahan bakar. Pemerintah setempat juga sudah melarang kegiatan yang dilakukan berkelompok lebih dari 10 orang,” ungkap Manuel Heselo atau Manu kepada Jubi melalui Whatsapp, Kamis, 26 Maret 2020.

Manu sedang menempuh studi jurusan Geologi di Oregon State University, di kota Corvallis negara bagian Oregon Amerika Serikat. Dia tinggal di apartemen bersama-sama dengan beberapa mahasiswa Papua lainnya.

Menurut Manu yang juga Ketua Ikatan Mahasiswa Papua (IMAPA) USA-Kanada itu, selama masa ‘tinggal diam di rumah’ semua kegiatan perkuliahan diselenggarakan secara online untuk seluruh universitas di AS dan Kanada.

Di Corvallis sendiri juga mulai terasa ada panic buying atau panik belanja akibat krisis virus korona ini.

“Toko tempat kami biasa belanja makanan beberapa bahan pokok mulai habis seperti beras, tepung, tisi toilet, dan sayur mayur. Untung baik kami sudah beli untuk persiapan,” kata Manu.

Corvallis sekarang mulai sepi, hanya sedikit orang yang keluar.

“Kami juga mengunci diri di dalam rumah agar terhindar dari virus ini, keluar hanya mencari bahan makanan saja,” lanjutnya.

Menduduki peringkat pertama dunia, kasus positif Covid-19 di Amerika Serikat per 30 Maret telah mencapai 142.793 kasus dengan 2.490 kematian.

“Puji Tuhan sampai saat ini semua mahasiswa Papua di Amerika Serikat dan Kanada baik-baik saja dan tidak ada yang terjangkit virus korona,” ucap Manu.

Di tengah kekhawatiran, mereka saling mengingatkan dan mengimbau agar semua mahasiswa melakukan karantina mandiri (self-quarantine) untuk menghindari penyebaran virus ini.

“Orangtua doakan kami, kamipun demikian”

Ada lima orang mahasiswa Papua di Moskow dengan kampus yang berbeda-beda, kata Rex Rumabar.

“Di kota-kota lain juga ada.”

Rex yang asli suku Biak dan berdomisili di Kotaraja, Jayapura ini telah kehilangan kedua orangtuanya.

“Saya punya saudara-saudara saja yang biasa saya baku kontak dengan dorang cek-cek kabar. Mereka tidak suruh saya pulang, hanya pesan jaga kesehatan saja, banyak berdoa dan jangan keluar sembarang. Tinggal diam di rumah saja,” kata Rex menirukan imbauan sanak saudaranya.

Senada dengan itu, Manu yang asli Wamena juga mengatakan bagaimana kekhawatiran orangtuanya di kampung terkait situasi di AS.

“Semua orang tua khawatir kepada kita, dan kami di sini juga sangat khawatir sama orangtua semua di Papua karena belum ada tindakan signifikan dari Pemerintah Pusat RI dan daerah terkait virus ini,” kata Manu.

Dia menjelaskan dari pihak KBRI telah membentuk satgas COVID-19 untuk membantu mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat terkait virus ini.

“KBRI menyarankan agar kami tidak berlibur ke Indonesia karena ada isu lockdown yang akan dilakukan pemerintah Amerika Serikat. Ini nantinya akan mempersulit kami untuk masuk kembali ke Amerika Serikat. KBRI juga mengimbau agar kami mahasiswa Indonesia tetap tinggal di apartemen dan asrama kami masing-masing,” kata Manu.

Dari Moscow, Rex Rumabar berharap agar obat Covid-19 ini dapat segera ditemukan dan aktivitas-aktivitas kampus dimulai.

“Sebagai manusia saya juga takut dan prihatin karena banyak orang hampir di seluruh dunia sudah meninggal. Tapi saya percaya Tuhan akan buka jalan,” ujarnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top