Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Peringati setahun rasisme, mahasiswa Papua di Surabaya : proses hukum tak sesuai

Papua
Massa aksi tolak rasisme di Deiyai. - Jubi/Ist
Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Ratusan mahasiswa asal Papua dari Malang dan Surabaya, Jawa Timur, memperingati setahun pernyataan rasisme pada Selasa (18/8/2020) siang tadi. Aksi peringatan pernyataan rasisme  yang dulu ditujukan kepada mahasiswa Papua itu dilakukan di Taman Apsari, seberang Gedung Negara Grahadi, Surabaya.

“Jadi mahasiswa yang tergabung hari ini antara Malang dan Surabaya, memperingati satu tahun rasisme yang terjadi di Surabaya, dan ini diperingati oleh seluruh rakyat Papua,” kata juru bicara aksi, Rudi Wonda.

Rudi mengenang kejadian rasialisme itu bermula saat munculnya dugaan perusakan bendera merah putih yang dibuang ke selokan Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan Surabaya oleh orang tidak bertanggung jawab. Ia menyebut aksi itu adalah upaya provokasi massa untuk merisak Mahasiswa Papua. “Kejadian itu lantas direspon oleh aparat gabungan dan ormas reaksioner dengan mengepung asrama mahasiswa Papua,,” kata Rudi menambahkan.

Peringati setahun rasisme, mahasiswa Papua di Surabaya : proses hukum tak sesuai 1 i Papua

Baca juga : Tiga terdakwa rasisme Mahasiswa Papua di Surabaya terancam 6 tahun penjara

Sejak kasus rasisme di Surabaya, nilai kemanusiaan di Papua terus merosot

Ipmapa Surabaya: Referendum adalah solusi demokratis untuk akhiri rasisme

Tercatat, dalam kejadian itu sebanyak 43 mahasiswa di Asrama Mahasiswa Papua Jalan Kalasan Surabaya, dikepung, dipersekusi, dimaki dengan ucapan rasisme dan diancam oleh anggota TNI, aparat kepolisian, Satpol PP dan ormas reaksioner, pada sehari menjelang hari kemerdekaan tepatnya 16 Agustus 2019.

Loading...
;

“Intimidasi dan pengepungan itu, terjadi lebih dari 24 jam yang juga disertai dengan ujaran kebencian dan makian berupa ‘monyet’ terhadap 43 mahasiswa Papua,” kata Rudi menjelaskan.

Peristiwa itu lantas memicu pecahnya aksi unjuk rasa yang lebih besar di berbagai kota dan kabupaten, di Provinsi Papua dan Papua Barat. Mereka menuntut pelaku rasisme diadili.

Menurut Rudi, yang terjadi justru bukan keadilan bagi orang Papua, melainkan pembungkaman lewat diblokirnya akses internet, dikirimnya pasukan mitier ke Papua, hingga dikriminalisasinya sejumlah aktivis dengan tuduhan makar.

“Kami melihat di dalam negara RI sendiri melambangkan negaranya sebagai negara demokrasi, tapi proses dalam hukumnya tidak sesuai dengan apa yang diagungkan sebagai negara demokrasi,” katanya.

Tercatat pelaku ujaran rasialisme di Surabaya yang menjadi sumber peristiwa itu, yakni aparatur sipil negara (ASN) Syamsul Arifin dan pimpinan ormas reaksioner Tri Susanti hanya dijatuhi hukuman 5 dan 7 bulan penjara. Sementara oknum TNI yang terlibat, tak jelas proses hukumnya hingga sekarang.

Hal itu dinilai Rudi tidak adil karena walaupun pelaku sudah divonis tapi ada perbedaan yang lebih mengistimewakan pelaku. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

 

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top