TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Mahasiswa Papua seJawa dan Bali minta Pemerintah segera hadir

papua, keberagaman, diskrimnasi, kekerasan
Ilustrasi Aksi demontrasi mahasiswa dan rakyat Papua melawan diskriminasi rasis terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya berlangsung di Jayapura, Senin (19/8/2019) - Jubi/Agus Pabika.
Mahasiswa Papua seJawa dan Bali minta Pemerintah segera hadir 1 i Papua
Aksi demontrasi mahasiswa dan rakyat Papua melawan diskriminasi rasis terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya berlangsung di Jayapura, Senin (19/8/2019) – Jubi/Agus Pabika.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Solidaritas Mahasiswa Papua se-Jawa dan Bali mengecam aksi diskriminasi rasial yang dilakukan terhadap mahasiswa Papua di Kota Malang, Surabaya dan Semarang.

Dalam keterangan pers yang diterima Jubi, sejumlah mahasiswa ini meminta aparat keamanan yakni TNI/Polri tak ikut memanas-manasi masyarakat untuk menekan mahasiswa Papua di beberapa daerah tersebut.

Ima Yelipele mewakili Solidaritas Ikatan Mahasiswa Papua seJawa dan Bali mengatakan, penggepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya pada tanggal 16 Agustus 2019 hingga 17 Agustus 2019  selama kurang lebih 24 jam menimbulkan perkara yang berbuntut panjang.

Tak hanya mahasiswa Papua yang menjadi korban, namun aksi damai besar-besaran juga terjadi, Senin kemarin di Papua dan Papua Barat, yang menimbulkan kerugian.

Ima mengatakan, seandainya tak ada kalimat rasial yang terucap, serta pengusiran mahasiswa Papua oleh Walikota Malang, Jawa Timur, mungkin saja hal ini tidak terjadi.

“Kami mengecam keras tindakkan represif yang dilakukan pihak kepolisian terhadap demonstran. Menuntut Kapolda Jawa Timur untuk meminta maaf kepada mahasiswa Papua yang telah mengalami korban luka berat dan Wali kota Malang segera cabut dan meminta maaf atas pernyataan sikap berupa wacana untuk pemulangan mahasiswa Papua  kota studi Malang,” katanya, Senin (19/8/2019).

Ia melanjutkan, kepolisian di Surabaya juga harus bertanggungjawab karena membiarkan adanya kelompok reaksioner seperti organisasi masyarakat yang ikut menghina dan mengusir mahasiswa Papua.

“Kami menggangap kepolisian Malang dan Surabaya gagal dalam melakasanakan aturan yang telah ditetapkan, yakni Peraturan Kapolri No.16 tahun 2006. Hentikan rasisme, manusia Papua bukan monyet,” katanya.

Sementara itu, perwakilan lain dari solidaritas mahasiswa ini, Rony Wilil menambahkan, diskriminasi rasial seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sejumlah mahasiswa Papua berharap pemerintah segera merespons hal ini dengan cepat dan mencari solusi yang baik untuk mahasiswa Papua. (*)

Editor : Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us