HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Mahasiswa soroti kebijakan Pemkab Mimika membuka akses penerbangan penumpang

papua
Ilustrasi, karantina Covid-19 - Jubi/LeonArt
Mahasiswa soroti kebijakan Pemkab Mimika membuka akses penerbangan penumpang 1 i Papua
Ilustrasi, karantina Covid-19 – Jubi/LeonArt

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Sekretaris Ikatan Pelajar Mahasiswa Mahasiswi Mimika Kota Studi Port Numbay, Mario Dimbau mempertanyakan kebijakan Pemerintah Kabupaten Mimika mengizinkan pesawat penumpang Garuda Indonesia mendarat di Bandara Mozes Kilangan, Mimika. Pembukaan akses angkutan penumpang ke Mimika dinilai akan meningkatkan risiko penularan virus korona di Mimika.

Pada Senin (20/4/2020), jumlah kasus positif korona di Mimika telah mencapai 31 kasus. Jumlah kasus positif di Mimika itu merupakan yang terbanyak dibandingkan dengan jumlah kasus positif kabupaten/kota lain di Papua. “Bupati harus mengikuti kebijakan Pemerintah Provinsi Papua [yang masih menutup akses angkutan penumpang dari luar Papua menuju Papua,” kata Dimbau kepada Jubi, Selasa (21/4/2020).

Mahasiswa soroti kebijakan Pemkab Mimika membuka akses penerbangan penumpang 2 i Papua

Dimbau menyatakan banyak mahasiswa dan warga asal Mimika yang masih berada di luar Kabupaten Mimika, dan ia tidak mengetahui kondisi kesehatan mereka. “Jika pemerintah daerah membuka penerbangan [penumpang ke Mimika], itu resiko besar. Semua penumpang pesawat itu mau dikemanakan? Apakah dikarantina di rumah sakit? [Apakah] fasilitas alat kesehatan [di Mimika] lengkap? Itu harus dipikirkan kembali,” katanya.

Dimbau mengakui pembatasan sosial yang diberlakukan pemerintah berdampak terhadap para pelajar dan mahasiswa asal Mimika yang berada di luar Kabupaten Mimika. Akan tetapi, ia menyatakan lebih baik para mahasiswa asal Mimika bertahan di kota studinya, dan tidak memilih pulang ke Mimika.

“Untuk sementara ini, saya kira tinggal di masing-masing kota studi sudah bagus. [Kami semua menjalankan] isolasi di masing-masing rumah, asrama, dan kontrakan di setiap kota studi. [Harus diingat, kalaupun] kami pulang ke daerah, [bukan berarti] akan ada perubahan.  Itu [justru] sesuatu yang konyol” katanya.

Ketimbang membuka Bandara Mozes Kilangin untuk penerbangan penumpang, Dimbau lebih berharap Pemerintah Kabupaten Mimika mau membantu para mahasiswa di luar Mimika dengan dana dan bahan makanan. Bantuan itu dibutuhkan agar para pelajar dan mahasiswa asal Mimika bisa menjalankan isolasi di kota studinya masing-masing.

Loading...
;

“Kami mahasiswa berharap pemerintah dapat membatalkan penerbangan [menuju] Timika atau kota lainnya [di Papua]. Lebih baik Pemerintah Kabupaten Mimika bisa bantu bahan makanan dan dana [bagi pelajar dan mahasiswa] di [berbagai] kota studi. Itu yang kami butuhkan,” kata Dimbau.

Ketua Asrama Mimika di Kota Jayapura, Frans Kogoya mengatakan Pemerintah Kabupaten Mimika harus mengikuti kesepakatan Pemerintah Provinsi Papua dengan para bupati dan wali kota se-Papua pada 24 Maret 2020 lalu. Kesepatan itu tertuang dalam Surat Kesepakatan bersama Nomor 440/3612/SET tertanggal 24 Maret 2020 tentang Pencegahan, Pengendalian dan Penanggulangan Covid-19 di Provinsi Papua, yang antara lain menyepakati penutupan akses angkutan orang dari luar Papua ke Papua.

Kogoya mengatakan Pemerintah Kabupaten Mimika seharusnya menahan diri untuk memulangkan warganya yang tengah berada di luar Mimika. “Apabila kebijakan ini diambil tanpa mempertimbangkan kondisi daerah, [dengan pandemi Covid-19] yang semakin menyebar, pemerintah sendiri [yang] akan repot dalam menanganinya,” kata Kogoya.

Sebelumnya, pada Senin (20/4/2020), Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob menyatakan Pemerintah Kabupaten Mimika memberikan izin khusus bagi penerbangan penumpang dari dan ke Bandara Mozes Kilangin Timika kepada Garuda Indonesia. Izin khusus itu diberikan dengan pembatasan yang sangat ketat.

“Terus terang ini merupakan keputusan sulit yang terpaksa kami ambil. Sejak 26 Maret kami sudah menutup semua penerbangan membawa penumpang dari semua rute ke Timika maupun ke luar Timika untuk mencegah penularan COVID-19. Namun dampak dari keputusan itu juga tidak sedikit, ada banyak orang Mimika yang ada di luar sana yang tidak bisa kembali. Anak-anak sekolah, mahasiswa maupun warga Mimika yang lain tidak bisa kembali karena tidak ada penerbangan,” kata Rettob kepada Kantor Berita Antara, Senin.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top