Manajemen Persipura jangan berlindung dibalik sponsor

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

LIMA pertandingan sisa, Persipura Jayapura mengakhiri kompetisi kasta tertinggi Liga 1 bersama Bukalapak tahun ini. Tiga laga di antaranya bertindak sebagai tuan rumah dengan menjamu tamunya Bali United, PSMS Medan, dan Perseru Serui. Sedangkan laga away atau tandang adalah menantang tuan rumah Bhayangkara FC dan PSIS Semarang.

Dari lima laga tersisa, estimasi poin Persipura diakhir kompetisi adalah 47 poin. Sebanyak 47 poin tersebut didapat dengan kemenangan tiga laga kandang dan kekalahan di laga tandang. Itu hitungan realistis mengingat Persipura jarang mendapatkan kemenangan dalam laga tandang, hitungan poin tersebut Persipura masih tetap berada di Liga 1 untuk kompetisi 2019 mendatang.

Apa yang harus dilakukan manajemen Persipura untuk menyongsong kompetisi Liga 1 pada 2019 mendatang? Pertama-tama adalah manajemen sudah harus mengambil  langkah antisipasi dari sekarang untuk memagari pemain-pemain potensialnya. Utamanya pemain-pemain muda yang kini sudah mempunyai jam tanding.

Sebut saja Ronaldo Rubener Wanma, Elisa Yahya Basna, Boaz Ataturi, Marsel Alexander Kararbo, David Kevin Wato Rumakiek, Gunansar Papua Mandowen, dan Todd Rivaldo Albert Ferre.

Nico Dimo, mantan pemain Persipura, mengatakan manajemen harus belajar dari tahun sebelumnya. Pasalnya, lanjut dia, musim lalu beberapa pemain potensian miliknya harus angkat kaki dari klub kebangaan masyarakat Kota Jayapura, sebab manajemen lambat mengikat kontrak dengan para pemainnya.

“Feri Pahabol, Osvaldo Haay, Ricky Kayame, Ruben Sanadi, Yan Piet Nasadit, dan Nelson Alom. Mereka ini pemain yang bagus tapi sayang mereka harus hengkang dari klub yang membesarkan namanya karena manajemen bergerak lambat. Nah, jangan terulang lagi. Harus dipagari sekarang pemain muda Persipura yang saat ini masih berada di klub,” kata Nico Dimo, kepada Jubi, Jumat (9/11/2018), melalui sambungan telepon selularnya.

Loading...
;

Tergantung sponsor

“Itu alasan klasik. Manajemen selalu berlindung dibalik sponsor. Belum ada sponsor lah, mau kontrak pemain bagaimana kalau sponsor saja belum ada yang mau merapat ke Persipura. Saya bilang itu alasan klasik. Kenapa? Persipura itu sudah menjadi Perseroan Terbatas (PT). Namanya PT berarti ada orang-orang yang memiliki saham di dalamnya. Masa tidak ada dana kalau ada PT. Terus orang-orang yang memiliki saham di dalam situ tidak punya uang,” tanya Nico.

Dia mengatakan kalau memang PT Persipura tersebut sudah diambang pailit ada baiknya dijual saja.

“Mungkin masih ada yang mau membeli PT Persipura, sebut saja PT Freeport. Siapa tahu, segala sesuatu pasti terjadi. Jadi jangan bilang tunggu sponsor dulu baru kontrak pemain. Lah, baru orang-orang yang duduk di dalam PT Persipura itu tidak punya saham? Masa tidak ada uang sama sekali di akhir kompetisi sehingga menunggu sponsor baru kontrak pemain,” ujarnya.

Kata Nico Dimo, dirinya pernah bertemu dengan pencari bakat dari Jakarta beberapa bulan lalu, di mana sang pencari bakat tersebut terheran-heran dengan talenta anak Papua dalam mengolah bola. Namun saying, di Papua khususnya di Kota Jayapura, kompetisi lokal jarang diadakan sehingga talenta tersebut tidak dapat diasah dengan baik.

“Kita lihat saja pembinaan usia dini di bawah naungan Persipura saja tidak ada. Kalau ada turnamen baru manajemen mencomot pemain dari SSB-SSB yang ada untuk masuk dalam Persipura U-15, U-16, hingga U-19. Padahal untuk mendapatkan lisensi AFC, ada satu poin yang mengharuskan sebuah klub memiliki pembinaan usia dini,” kata Nico.

Regenerasi

Daniel Womsiwor salah satu pengamat sepakbola Papua mengatakan Persipura saat ini sudah seharusnya melakukan regenerasi terhadap pemainnya. Dikatakan, di tubuh Persipura musim ini, hampir sebagian pemain yang diturunkan dalam setiap laga umurnya sudah di atas 30 tahun.

“Kita bisa lihat sendiri, pemain-pemain senior sudah banyak yang kualitasnya sudah menurun. Jadi kalau dalam kompetisi tahun ini, hanya untuk bertahan di Liga 1 saya rasa bisa, tetapi untuk meraih gelar juara sudah mustahil,” kata Daniel Wonsiwor, kepada Jubi, di Jayapura, belum lama ini.

Kata Wonsiwor, pemain-pemain asing yang dikontrak Persipura juga usianya sudah di atas 30 tahun.

“Tapi kalau usia di atas 30 tahun bisa bersaing dengan pemain-pemain muda tak soal. Tetapi kita bisa lihat sendiri, pemain asing yang dikontrak kontribusinya masih dibawah standar,” ujarnya.

Terkait dengan manajemen harus memagari para pemain muda yang saat ini berada dalam tim, Wonsiwor pun bersepakat dengan hal tersebut.

“Saya sepakat, karena dengan begitu regenerasi bisa dilakukan. Saya berharap manajemen jeli melihat pemain mana yang harus dipertahankan dan yang tidak perlus dipertahankan. Kalau saran saya, pemain yang sudah 30 tahun ke atas ada baiknya tidak usah dilanjutkan kontraknya. Tetapi kalau untuk pemain lokal Papua tetap dikontrak tetapi jam tandingnya dikurangi. Harus berikan jam tanding lebih banyak kepada pemain muda. Karena pemain muda adalah masa depan Persipura di masa yang akan datang,” katanya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top