Previous
Next
HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Masih banyak orang yang belum berani periksa HIV

Ilustrasi, aktivitas pelayanan di Puskesmas Dosay – Jubi/Yance Wenda

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Sentani, Jubi – Kepala Puskesmas Dosay Kabupaten Jayapura, Matilda Sorontou, mengatakan hingga kini masih sangat sulit mengajak orang untuk periksa HIV. Salah satunya karena masih ada stigma (cap buruk) dan membuat mereka malu bila positif terinfeksi HIV.

“Tahun 2018 kami menangani delapan orang pasien dengan HIV. Tapi (angka) itu belum menjangkau semua karena hingga saat ini masih sangat sulit mengajak orang untuk periksa HIV,” jelasnya kepada Jubi di ruang kerjanya, Selasa (24/9/2019).

Matilda mengatakan jika pasien yang datang ke puskesmas dan periksa HIV, mungkin jumlah pasien dengan HIV yang ditangani di puskesmas tersebut akan lebih banyak lagi.

“Karena stingma, termasuk stigma di lingkungan keluarga, sehingga orang merasa malu untuk datang untuk periksa atau berobat,” ucapnya.

Ia menambahkan jika penderita HIV melakukan pemeriksaan rutin dan kontrol dengan teratur, pasien tersebut akan tetap sehat seperti mereka yang tidak sakit.

“Kalau sudah HIV positif dan mau periksa rutin, mereka terlihat sehat seperti kita yang tidak sakit,” tuturnya.

Loading...
;

Matilda mengungkapkan hingga kini tidak ada pasien HIV orang dewasa di Puskesmas Dosay yang meninggal. Tapi ada satu pasien usia empat tahun, HIV positif yang meninggal karena infeksi Tuberculosis (TB).

Senada dengan yang disampaikan Matilda, ditemui terpisah, Kepala Puskesmas Harapan Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Adi Kurniawan, mengatakan ada pasien dengan HIV di Puskesmas Harapan yang masih enggan rutin berobat karena masih kuatnya stigma yang mereka terima.

“Mereka tidak mau datang berobat karena stigma. Mereka ada yang berpindah-pindah tempat tinggalnya. Macam hari ini di sini, nanti beberapa hari atau minggu sudah di Wamena, Tolikara, atau di daerah lain,” jelas Adi.

Adi mengatakan kaum laki-laki harus berani datang periksa untuk periksa HIV karena banyak kaum laki-laki usia produktif memiliki perilaku berisiko tinggi terinfeksi HIV.

“Yang bapa-bapa kalau berani datang periksa HIV, itu baik karena siapa tahu mama-mama ini mereka dapat (terinfeksi HIV karena tertular) dari bapa-bapa,” tuturnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top