HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Masyarakat diminta lindungi Cagar Alam Pegunungan Cycloop

Foto ilustrasi, Cagar Alam Cycloop. - Jubi/Dok
Masyarakat diminta lindungi Cagar Alam Pegunungan Cycloop 1 i Papua
Foto ilustrasi, Cagar Alam Cycloop. – Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Cagar Alam Pegunungan Cycloop (CAPC) diketahui memiliki beberapa mata air yang dialirkan ke kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Mata air ini menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Namun kondisi Pegunungan Cycloop yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, memunculkan ketakutan akan kelestarian mata air dan Cagar Alay Pegunungan Cycloop.

Mahasiswa Universitas Cendrawasih Fakultas MIPA jurusan Biologi, Adelce Korwa mengaku khawatir dengan maraknya alih fungsi cagar alam sebagai tempat berkebun maupun tempat bermukim warga masyarakat.

“Hal ini akan mengurangi kerusakan lingkungan yang di lakukan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab,” kata Adele panggilan akrabnya.

Ia menambahkan, yang terpenting yaitu RT dan RW setempat harus terus mengingatkan dan mengkontrol masyarakat agar tidak merusak alam. Disisi lain, Pelajar dan Mahasiswa punya peran penting juga untuk menjaga cagar alam hutan dengan cara membuat aksi atau demo tentang lingkungan terutama untuk perlindungan CAPC.

Sebelumnya Eka Kristina Yeimo, dosen FKIP program studi Geografi di Universitas Cendrawasih Jayapura mengatakan Untuk melestarikan daerah-daerah resapan air, perlu ketegasan aparat hukum memberi sanksi pada siapapun yang mengalihfungsikan kawasan cagar alam.

“IMB yang di keluarkan baik melalui prosedur atau jalur lain pada darah cagar alam dapat berakibat fatal. Di sini pemerintah juga salah, mereka sudah tau bahwa itu tidak boleh dibangun tapi izin membangun (IMB) di daerah cagar alam dan daerah resapan selalu di berikan kepada masyarakat melalui jalur-jalur tersembunyi,” kata Eka.

Loading...
;

Eka juga berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya air dan dampak dari pembangunan pada kelangsungan mata air yang selama ini digunakan warga.

“Terkait pelestarian itu harus tanam kembali pohon yang mereka tebang, yaitu reboisasi ulang tapi harus larang yang namanya perladangan berpindah (berkebun), dan stop bangun rumah di daerah resapan air dalam bentuk aktivitas apapun. Untuk menjaga agar daerah itu tetap utuh agar memberikan kehidupan kepada kita, wajib kita jaga dia (hutan),” kata Eka Yeimo. (*)

 

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top