Melihat gorano bintang di Kwatisore Nabire

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Taman Nasional Teluk Cenderawasih terbentang luas meliputi Kabupaten Manokwari dan Teluk Wondama di Provinsi Papua Barat serta Kabupaten Nabire di Provinsi Papua. Perjalanan dari Kota Nabire menuju pulau Kwatisore, distrik Yaur, Kabupaten Nabire harus dengan perahu dan di sana terdapat Kali Lemon Dive Resort. Tak jauh dari resort ini terdapat sebuah bagan tempat ikan gorano bintang bermain. Para turis maupun peneliti bisa langsung menyaksikan dari dekat ikan gorano bintang ini.

“Resort ini dikelola oleh Abraham Maruanaya,” kata Frans Maruanaya, saat berkunjung ke Nabire, beberapa waktu lalu, kepada Jubi di kantor Redaksi Jubi, Jumat (24/11/2018).

Lebih lanjut kata Frans Maruanaya, adiknya sudah lama mengelola Kali Lemon Dive Resort dan tercatat sampai Desember 2018 sudah banyak yang booking sehingga kalau ada yang mau datang lagi harus bersabar tahun depan.

“Pengunjung wisata asing sudah memesan Kali Lemon Dive Resort sejak lama sehingga sudah full,” katanya.

Perjalanan menuju Kali Lemon Dive Resort harus mencapai Pulau Kwatisore Distrik Yaur dan pihak resort yang mengantar dengan boat milik mereka. Selain resort telah dibangun pula ruangan bagi para peneliti ikan paus atau ikan gorano bintang.

Di tengah laut tak jauh dari Kwatisore terdapat sebuah bagan yang sering ditemui sang hiu. Masyarakat lokal setempat menyebutnya ikan gorano bintang atau hiu bintang. Umpan-umpan ikan kecil akan disedot oleh mulut ikan hiu bintang ini. Dengan mulutnya yang terbuka lebar banyak ikan tersedot masuk saat umpan dilemparkan ke permukaan laut.

Loading...
;

Selain itu salah satu atraksi menariknya, para pengunjung bisa turun ke laut dengan scuba yang disiapkan untuk berenang bersama ikan paus bintang ini. Di sekitar bagan laut dalamnya sekitar 50-60 meter bahkan mungkin lebih dalam dari ukuran tersebut.

Pemandu akan menyelam bersama pengunjung karena arus laut di sekitar bagan ini sedikit tricky dan bisa-bisa hanyut dan membentur ke bagian bawah bagan. Di bawah bagan terdapat ikan-ikan gorano bintang dan banyak ikan-ikan kecil.

Whale Shark Center

Saat pertemuan International Conservation Biodiversity Economic (ICBE) 2018 lalu di Manokwari Papua Barat, kepada Jubi, Ben Gurion Saroy, Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC), mengatakan akan dibangun Whale Shark Centre sebagai role model pembangunan TNTC. Dia berharap bisa menjadi nomor satu di dunia soal pengembangan hiu paus.

Saat ini, kata dia, hanya di Honduras yang memiliki pusat penelitian hiu paus. Bedanya di Honduras dicari dengan menggunakan aplikasi untuk menemukan hiu paus sedangkan di TNTC bisa dilihat setiap hari dari atas bagan.

Seluruh tahapan perencanaan pembangunan sudah tuntas, diharapkan pada 2019 proyek ini akan mulai dilelang sehingga dapat dikerjakan oleh kontraktor yang berkompoten. 

Whale shark Centre ini nantinya menjadi pusat kegiatan mulai dari pembinaan masyarakat, pariwisata hingga menampung hasil tangkapan nelayan

Whale shark Centre di Kwatisore dirancang secara lengkap dan multifungsi”, kata Ben Gurion Saroy, Kepala Balai Besar TNTC.

Hal senada juga dikatakan Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ir. Wiratno, M.Sc, kepada Jubi, belum lama ini, saat ICBE 2018 di Manokwari. Dia mengatakan ini merupakan pusat riset ikan hiu paus di Papua yang berpusat di Nabire.

Hiu paus sebagai objek wisata laut mengundang begitu banyak wisatawan. Jumlah wisatawan yang mengunjungi TNTC meningkat tajam beberapa tahun belakangan ini. Di sisi lain, informasi mengenai mamalia laut ini masih sangat minim. Dia mengatakan Balai Besar TNTC, WWF, CI, dan UNIPA terus melakukan penelitian untuk menggali informasi tentang spesies hiu terbesar ini.

Potensi keberadaan hiu paus perlu mendapat perlindungan agar kelestariannya tetap terjaga sehingga dapat dimanfaatkan pada sektor pariwisata dan ilmu pengetahuan. Whale Shark Centremerupakan model pemanfaatan hiu paus yang dapat memberikan perlindungan terhadap hiu paus serta dapat berkontribusi dalam peningkatan ekonomi daerah terutama kesejahteraan masyarakat lokal.

Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) di Papua Barat memiliki keanekaragaman hayati dengan tingkat endemik tinggi. Ada 42 satwa berstatus dilindungi yang hidup pada area seluas 1.453.500 hektare tersebut.

Salah satu hewan yang paling menarik perhatian dan menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara untuk berkunjung ke sana adalah hiu paus (Rhincodon typus).

Hiu paus dapat dengan mudah ditemui di wilayah perairan Kwatisore, distrik Yaur, Kabupaten Nabire, yang juga merupakan bagian dari kawasawan TNTC. Perairan tersebut merupakan satu dari segelintir tempat di dunia yang bisa melihat hiu paus dari dekat.

Data World Widelife Fund (WWF) dalam kurun waktu empat tahun (2011-2016), tercatat ada 16.424 wisatawan berkunjung memasuki kawasan TNTC untuk berinteraksi bersama mamalia laut raksasa tersebut.

Sedangkan dari segi pemasukan, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) mencatat kunjungan wisatawan dalam kurun waktu 2011-2017 mampu menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 2,5 miliar.

Hiu paus telah ditetapkan sejak 2013 sebagai satwa yang dilindungi di Indonesia. Sesuai dengan KEPMEN KP No. 18 2013 Tentang Penetapan Status Perlindungan Penuh Ikan Hiu Paus.

Sementara Daftar Merah (red list) International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah memasukkan satwa ini dalam kategori terancam punah (Endangered) serta Apendiks II Convention on International Trade of Endangered Species.(*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top