Follow our news chanel

Membahas pangan lokal Papua di Uncen

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

PANGAN lokal Papua dibahas para pakar pada Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura, Rabu, 23 Januari 2019.

Dalam diskusi yang mengangkat tema “Food Security, Mining Sector, and Sustainable Developmeny of Papua” tersebut hadir narasumber dari Uncen, Universitas Gadjah Mada (UGM), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Australia National University (ANU).

Rektor Uncen Apolo Safanpo mengatakan FGD dilakuan dalam kaitan melihat perkembangan global dalam mengelola pangan lokal di Provinsi Papua.

Dalam materinya ia menyinggung tentang PT Freeport Indonesia yang dimiliki Amerika Serikat. Sampai saat ini terjadi proses tawar-menawar terkait pembelian saham 10 persen antara Pemerintah Provinsi Papua dengan Inalum.

Sekarang dalam proses negosiasi antara Pemprov Papua, Pemkab Mimika, dan pemerintah pusat terkait pembagian saham 10 persen. Dan 1 persen untuk pemilik ulayat sampai saat ini belum selesai.

“Papua memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi hanya memiliki satu perusahaan emas, sedangkan di PNG (Papua New Guinea) sama dengan Papua tetapi memiliki 25 perusahaan emas,” katanya.

Loading...
;

Pembicara dari Australia National University (ANU) Profesor Budy Rososudarmo membahas tentang ketahanan pangan global dan dampak yang dihadapi oleh negara-negara di dunia. Selain itu ia juga menyinggung tentang negara-negara konsumtif di dunia.

Ia menilai tentang Provinsi Papua yang pada dasarnya memiliki sumber daya alam, namun pemanfaatan sumber daya ala tersebut belum tersentuh.

“Secara global ketahanan pangan lebih di ke negara-negara Pasifik nantinya, karena wilayah bagian Pasifik memiliki lahan subur yang sampai saat ini belum tersentuh untuk pengelolaan yang baik,” katanya.

Padahal, katanya, negara-negara tersebut berpotensi menjadi pusat pangan lokal untuk dikirim ke luar negeri.

Profesor Budy juga menjelaskan bagaimana mengelola ketahanan pangan di suatu daerah untuk keperluan jangka panjang, menengah, dan pendek agar pangan bisa bertahan.

“Karena pangan lokal sangat bergizi daripada makanan olahan pabrik,” ujarnya.

Catur Sugiyono dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM membahas makalah berjudul “Tantangan Ketahanan Pangan di Propinsi Papua”. Ia menjelaskan tentang beberapa perubahan yang sudah dan sedang terjadi di Provinsii papua terkait ketahanan pangan.

Salah satu, kata Catur, terjadinya perubahan sikap manusia di Papua dari makanan lokal ke beras sehingga menurunkan konsumsi pangan lokal.

“Sangat diperlukan data ketahanan pangan serta data nutrisi yang tergantung dalam makanan lokal tersebut,” ujarnya.

Perubahan yang terjadi saat ini, katanya, di mana masyarakat di Papua yang pendapatannya masih rendah masih bisa untuk mengkonsumsi pangan lokal. Namun setelah naik jabatan atau yang lebih tinggi, mereka cenderung berubah konsumsi ke makanan instan.

“Dan ini perlu menjadi perhatian semua pihak,” katanya.

Dia mencontohkan beberapa waktu lalu terjadi kelaparan di Provinsi Papua. Itu bukan karena kurangnya pangan lokal, tetapi masyarakat saat ini pikirannya berubah kepada beras.

Dia juga menjelaskan bahwa ke depan yang perlu dilakukan adalah justifikasi kandungan karbohidrat yang terdapat dalam pangan lokal. Dan itu menjadi bahan kampanye untuk anak-anak masa muda sekarang ini.

Esta Lesatri dari LIPI mengatakan bahwa upaya untuk menjaga pangan lokal berawal dari dalam keluarga.

“Karena sistem saat ini gagal dalam mencapai ketahanan pangan dan gizi, sebab dalam dalam keluarga hanya ada beras dan jarang mengkonsumsi pangan lokal,” ujarnya.

Menurutnya yang diharapkan saat ini adalah penggembangan pendekatan dalam memahami sistem pangan. Karena di Indonesia ibunya kurang gizi maka anaknya akan menjadi stunting dan Indonesia 3 dari 100 anak sudah ada anak stunting.

“Karena jumlah yang menderita kekurangan gizi meningkat undernutrition maupun overnutrition menciptakan double burden dan triple burden malnutrition, permasalahan malnutrisi dalam beragam bentuk,” katanya.

Menurutnya perlu pengembangan konsep dan ketahanan pangan harus dicapai dengan menekankan kecukupan tidak sekedar ketersedian dan akses. Serta pencegahan dan penanganan malnutrisi membutuhkan intervensi lintas sektoral yang didesain dengan baik dengan pendekatan terintegrasi intervensi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Uncen Yulius Ary Mollet menyampaikan riwayat program ketahanan pangan yang dijalankan gubernur Papua, mulai dari Gubernur Busyiri Suryawinoto pada 1980 hingga gubernur Lukas Enembe pada 2019.

Menurutnya program Gubernur Lukas Enembe yang mengutamakan pada lima wilayah adat perlu didorong dengan ketahanan pangan lokal.

“Dan itu menjadi pangan unggulan yang perlu disajikan pada acara-acara resmi maupun acara lain di lima wilayah adat tersebut,” katanya. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top