Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Menalar Tuhan dan memaknai lockdown dalam gereja di tengah pandemi covid-19

kitab suci kristen
Ilustrasi - Jubi/Pixabay
kitab suci kristen
Ilustrasi – Jubi/Pixabay

Oleh: Esther Haluk

Semenjak mewabah dan ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO karena merupakan virus baru, menginfeksi dan menyebar dengan cepat dan mengakibatkan tingginya tingkat kematian, “teror” virus corona (covid-19) terasa begitu dekat, jelas dan menakutkan. Apalagi ditambah foto, video, maupun cerita ataupun gambar-gambar bisu yang menampilkan deretan mobil ambulans yang meraung-raung kesana-kemari, tak henti-henti mengantar maupun menjemput tubuh-tubuh yang terbujur kaku akibat keganasan virus bernama cantik “corona–mahkota–ini. 

Menarik untuk mendiskusikan dampak pandemi covid-19 terhadap bentuk-bentuk pelayanan spiritual Gereja terhadap umat manusia secara global karena Gereja dipaksa secara tiba-tiba untuk mengubah liturgi atau tata ibadah dari tatap muka menjadi virtual–tanpa interaksi langsung, berefleksi dan mendefinisikan ulang makna keberadaannya di tengah dunia: Sudahkah keberadaan Gereja berdampak dan punya pengaruh yang tak bisa ditolak dalam menentukan segala aspek kehidupan umat manusia? Ataukah Gereja hanya menjadi salah satu institusi agamawi yang tak jauh beda dengan aliran-aliran kepercayaan lainnya yang menjamur di tengah masyarakat dunia saat ini

Ketika Ketua Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pdt. Gomar Gultom dari HKBP, 15 Maret 2020, mengeluarkan arahan bagi semua denominasi Gereja Kristen di bawah naungan PGI untuk mulai menjalankan model ibadah secara virtual (e-Church), antara lain melalui video streaming maupun siaran radio, yang kemudian menuai banyak protes dari kalangan umat maupun para tokoh Gereja.

Tak hanya PGI,  18 Maret 2020, Gereja Katolik Roma yang berpusat di Vatikan mengeluarkan imbauan resmi bagi hampir 1, 3 miliar pemeluknya di seluruh dunia untuk beralih ke ibadah dengan secara daring. 

Perdebatan yang paling kontroversial di Indonesia justru terjadi di kalangan para pendeta yang notabene sebagai teolog terkemuka di Indonesia. Beberapa kutipan langsung dari pernyataan mereka yang mengundang polemik dan menjadi viral di youtube dan beberapa platform media digital lainnya, antara lain:  Gereja kosong dan harus Ibadah online. Gereja kalah dari Corona? (Pdt. Mell Atok, S. Th), Gereja kok libur? Itu sih Gereja yang tidak punya iman (Pdt. Jacob Nahuway), Doa untuk menghardik Virus Covid – 19 (Pdt. Niko Notoraharjo), dan Teologi Ngaco !” (Pdt. Dr. Stephen Tong).

Ketika ibadah secara korporat bersama seluruh jemaat, dilayani oleh hamba Tuhan bergelar sarjana Teologi, menggunakan liturgi ibadah yang baku sesuai dogma atau aturan Gereja ditiadakan, maka umat kehilangan arah dan pegangan karena dipaksa membawa dirinya sendiri pada Tuhan tanpa diwakili imam sebagai perantara. 

Loading...
;

Sebenarnya situasi dan kondisi ini bukan hal baru bagi Gereja karena bentuk awal Gereja dalam sejarah gereja mula-mula adalah Gereja rumah, tetapi ada perbedaan dalam pembinaan warga jemaat pada masa lalu yang sudah tidak bisa ditemui lagi di masa kini.

Dalam sejarah Gereja awal, tiap orang mengetahui bahwa diri/tubuh mereka adalah Gereja yang hidup.  “..atau tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam didalam kamu..” (1 Korintus 6: 19-20).

Pemahaman diri seperti ini berdampak pada penginjilan dan panen jiwa paling historic yang terekam dalam Alkitab (Kisah Para Rasul 2 ayat 47b, “..dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan..”). Setiap orang sadar bahwa mereka adalah wajah Kristus di tengah dunia dengan segala aturan dan budaya yang sangat bertolak belakang.  

Namun seiring berjalannya waktu, titik berat pelayanan gereja pada manusia sebagai entitas  yang hidup justru makin berkurang dan lebih dialihkan pada bangunan fisik/tempat umat beribadah.

Itulah sebabnya orientasi Gereja fokus pelayanan Gereja masa kini bergeser dari pembangunan spiritualitas jemaat dan pelayanan penginjilan yang masif menuju pembangunan infrastruktur Gereja, misalnya pemugaran, pembangunan gedung gereja megah dengan arsitektur unik dan ornamen cantik.

Kita semua tahu bahwa tiga tugas dan panggilan Gereja–bersekutu (koinonia), melayani (diakonia), dan bersaksi (martiria)–adalah suatu kesatuan tak terpisah yang menjadi ciri khas Gereja.

Namun pelayanan kita terkadang hanya berfokus pada satu bagian dan melupakan tugas lainnya. Kadang pelayanan diakonia berubah jadi ala kadarnya dan bukan pelayan sadar dan berkesinambungan dan terprogram untuk memelihara atau membina iman jemaat.   

Jangan kita lupa bahwa dalam sejarah Gereja mula-mula pengurapan kuasa Roh Kudus menjadi titik sentral pelayanan Gereja, dan faktor pembagian tugas dan jabatan yang jelas seperti terdapat dalam Efesus 4:11-13; jabatan gembala sidang, guru, pengajar, nabi, dan rasul. Tugas gembala adalah  memimpin jemaat, guru menerangkan Firman Tuhan sesuai pewahyuan dari Roh Kudus, dan pengajar bertugas memberikan pengajaran, sedangkan nabi menjadi corong untuk menyuarakan firman Tuhan dan terakhir rasul yang berfokus pada penginjilan.

Namun jabatan tersebut mengalami distorsi sehingga jabatan gembala sidang saja yang tersisa pada Gereja masa kini. Gereja berubah dari masa ke masa. Apakah perubahan tersebut berdampak pada kualitas pelayanan menjadi semakin canggih, optimal dan signifikan atau tak terlalu beda jauh dengan masa lalu? 

Saat ini Gereja Tuhan gagap mengantisipasi perubahan model pelayanan. Tiap orang beropini dan berdebat tentang kuat-lemahnya kadar iman sehubungan dengan sikap Gereja di masa-masa pandemi ini.

Bagi sebagian orang beribadah di rumah artinya iman lemah, begitu pun sebaliknya. Di satu sisi, mereka yang taat pada aturan pemerintah berargumen bahwa dalam situasi begini pemerintah adalah wakil Allah dalam dunia, sehingga harus dipatuhi. Namun mereka yang kontra mengatakan Gereja harus “tampil beda dan menunjukkan iman”. 

Otoritas Gereja level sinodal mengeluarkan maklumat ibadah di rumah masing-masing, tetapi sebagian pekerja Gereja level jemaat tetap nekad “menunjukkan iman” dengan menyelenggarakan ibadah raya seperti biasanya. 

Gereja Tuhan gagap karena jemaat tak pernah dipersiapkan memimpin dirinya sendiri dan membangun mezbah keluarga. Liturgi terpusat pada pelayan Gereja belaka, jemaat hanya makan dari apa yang disuguhkan dan disuapkan ke mulutnya.

Bisa dipahami kini bagaimana kebingungan melanda umat yang berusaha mencari pegangan dalam menghadapi wabah kematian seperti saat ini. Umat seperti “anak ayam kehilangan induk”. 

Akhirnya, tiap orang berteologi sendiri dan berusaha menalar Tuhan dan imannya dari perspektif masing-masing, untuk memahami apakah covid-19 ini wabah dari iblis untuk mencuri, membunuh dan membinasakan atau cara Tuhan memperkuat Gereja?

Teolog Kristen, C.S Lewis dalam karyanya The Problem of Pain: The Intellectual Problem Raised by Human Suffering, examined with Sympathy and Realism (1969, hal 93) menyatakan,  Allah berbisik pada kita saat kita dalam kesenangan, berbicara pada kita melalui kesadaran/nurani kita, namun Ia akan berteriak sebagai megaphone untuk membangunkan dunia yang sedang tuli.

Kita lupa bahwa prinsip kerja Tuhan berada di luar nalar manusia, dan sangat naif jika kita memaksa Tuhan masuk dalam bingkai pemikiran kita yang kecil, sempit dan dangkal serta membatasi kemahakuasaan-Nya.

Mungkin kita hanya perlu ingat kembali bahwa rancangan Tuhan bagi kita selalu terbaik, untuk memberi masa depan yang penuh harapan (Yeremia 20: 11 -14).  (*)

Penulis adalah mahasiswa programa pascasarjana Gereja dan Masyarakat di STT Walter Post Jayapura

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top