HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Menanti suara kenabian pimpinan gereja untuk orang Papua

Orang Papua merindukan sosok gembala yang berempati terhadap penderitaan mereka – Jubi/Pixabay

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Pace P

Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10)

Perjalanan ke “tanah terjanji”

Alam, leluhur dan segenap orang Papua telah menerima Yesus dan Injil. Penerimaan orang Papua terhadap Yesus dan Injil sekaligus menandai hadirnya Gereja di Tanah Papua. Gereja Papua menjadi rumah baru bagi orang Papua. Pada Gereja itulah, segenap orang Papua meletakkan harapan hidup dan masa depan mereka.

Peristiwa 5 Februari 1885—Ottow dan Geissler menginjakkan kaki di Pulau Mansinam, Manokwari—menandai dimulainya pekabaran Injil di Tanah Papua. Kehadiran kedua misionaris tersebut menjadi simbol kehadiran Yesus bagi orang Papua. Sejak saat itu, di tepi pantai, sungai dan rawa-rawa, gunung dan lembah, Yesus hadir dan menyapa orang Papua.

Sebelumnya, orang Papua menyembah Sang Pencipta yang dikenal dalam setiap suku dan bahasa masing-masing. Kini, orang Papua menyembah Allah, Pencipta yang dikenal dalam nama Yesus. Ia menjadi Guru, Sahabat, dan teman seperjalanan orang Papua. Bahkan orang Papua memberi gelar Yesus seturut kebudayaannya; seperti  gelar “Yesus Ninoe” di Wamena. Yesus sebagai Kakak tertua. Ia menjadi yang sulung bagi orang Papua. Ia datang untuk membawa orang Papua ke “tanah terjanji”. Suatu tanah penuh susu dan madu.

Loading...
;

Apakah orang Papua sudah memasuki “tanah terjanji” itu? Sampai saat ini, orang Papua masih berada dalam perjalanan menuju “tanah terjanji” yang dijanjikan Tuhan. Rasanya terlalu lama. Dahulu, orang Israel keluar dari Mesir menuju tanah Kanaan selama 40 tahun. Sedangkan orang Papua, sudah 58 tahun (19 Desember 1961 sampai sekarang) masih terkungkung di jalan penderitaan.

Orang Papua tidak berziarah keluar seperti orang Israel dari Mesir ke Kanaan. Setiap hari, orang Papua mengitari bumi Papua dengan linangan air mata dan menghirup bau darah yang mengalir dari tubuh-tubuh yang tertembus timah panas dari aparat keamanan Indonesia.

Mama-mama Papua meratapi anak-anak mereka yang dibantai bagaikan binatang buruan; bapa-bapa menyaksikan berbagai penyiksaan yang dialami generasi penerusnya; pemuda/i mengalami intimidasi dan pembunuhan tidak berkesudahan; anak-anak Papua mengalami kematian beruntun akibat gizi buruk. Mereka juga tidak bisa mengenyam pendidikan dasar berkualitas.

Tidak hanya manusia Papua yang menderita. Mama—bumi Papua pun menjerit. Hutan dibabat berganti pohon kelapa sawit. Gunung-gunung dibongkar demi emas. Perut bumi Papua dibor demi mengais minyak dan gas bumi.

Baca juga  Pembangunan daerah harus sejalan dengan aspirasi dan dinamika masyarakat

Itulah kondisi hidup manusia orang Papua dan alam Papua. Keduanya sedang menjerit. Siapakah yang dapat menolong?

Gereja hadir untuk menolong mereka yang menderita

Sebagian besar orang Papua adalah warga Gereja. Mereka telah dibaptis menjadi anak-anak Allah. Mereka menjadi warga Gereja. Seyogianya, Gereja yang kini telah menjadi rumah baru bagi mereka melindungi dan merawat mereka.

Di tengah badai dan gelombang yang menghantam orang Papua, suara kenabian dari pimpinan Gereja Papua hampir tidak terdengar. Padahal, di Tanah Papua ada lima orang Uskup Katolik (Uskup Agung Merauke, Uskup Jayapura, Uskup Manokwari-Sorong, Uskup Agats, dan Uskup Timika), dan 50 lebih Sinode denominasi Gereja Protestan. Tetapi semuanya nyaris membisu saat menyaksikan kematian demi kematiaan yang dialami orang Papua.

Seyogianya, penderitaan orang Papua merupakan penderitaan Gereja Papua. Tetapi, realitas memperlihatkan tidak banyak pimpinan Gereja Papua peduli pada penderitaan jemaatnya. Pimpinan Gereja masih berdalih tidak terlibat dalam politik Papua Merdeka, dll. Padahal, kematian orang Papua selama 58 tahun sejak invasi terbuka Indonesia ke Papua melalui Dekrit Trikora, 19 Desember 1961 telah menelan puluhan ribu korban jiwa—merupakan warga Gereja Kristus.

Gereja mengemban misi Yesus, yaitu misi pembebasan bagi kaum tertindas. Semestinya, pimpinan Gereja Papua bersuara lantang membela kawanan domba yang dibantai. Pimpinan Gereja Papua harus menolak setiap bentuk intimidasi, diskriminasi dan pembunuhan terhadap orang Papua. Pimpinan Gereja harus berada di baris terdepan untuk melindungi kawanan dombanya. Sebab, untuk itulah mereka ditahbiskan menjadi imam (gembala), supaya mereka dapat menjadi gembala yang baik. Gembala yang mengetahui kondisi hidup kawanan domba dan bersedia mengorbankan nyawa bagi kawanan domba.

Apakah para gembala di Papua telah menjadi gembala yang baik seperti yang dimintai Yesus? Kita menyaksikan para gembala masih melayani orang Papua sebatas altar pada hari Minggu. Tepatlah pertanyaan Paus Fransiskus bagi para imam Katolik, “Anda memimpin perayaan ekaristi pada hari Minggu, selebihnya apa yang Anda lakukan?”

Kita jarang menjumpai gembala ideal seperti almarhum Uskup John Saklil, Pastor Neles Tebay, Pr. Kita juga jarang menemukan sosok gembala seperti Pastor John Djonga, Pr, Pendeta Socratez S. Yoman dan Pendeta Benny Giyai. Mereka adalah sosok gembala yang bersedia memindahkan altar ke tengah ruang publik Papua yang sesak oleh kematian. Mereka bersedia turun ke jalan dan berbicara lantang membela hak-hak dasar orang Papua yang dirampas oleh negara Indonesia.

Baca juga  Kolaborasi suara non OAP dan kepentingan pusat dalam pilgub Papua

Selama 58 tahun, kawanan domba orang Papua yang merupakan warga Kristus mengalami kematian demi kematian. Operasi militer dan operasi intelejen dilancarkan oleh Indonesia di Tanah Papua. Orang Papua tidak mengalami kebebasan hidup di negerinya sendiri. Meskipun orang Papua terhimpit dalam ruang gerak yang sempit, pimpinan Gereja Papua masih bungkam.

Pimpinan Gereja Papua, baik uskup, pastor, maupun pendeta belum memberikan perhatian serius terhadap orang Papua. Tampaknya, orang Papua tidak mendapatkan tempat di hati para gembala Tuhan di tanah Papua. Pada titik ini, kita patut bertanya, “Tuhan Allah mengirim para gembala ke tanah Papua untuk siapa?”

Saat ini, orang Papua merindukan sosok gembala yang berempati terhadap penderitaan mereka. Sosok gembala yang mau hadir, duduk, mendengarkan dan bersama-sama dengan orang Papua untuk mencari jalan penyelesaian permasalahan mereka. Maka, para gembala perlu lebih rendah hati datang dan masuk ke dalam hidup orang Papua. Para gembala harus menjadi “orang dalam”, bagian tidak terpisahkan dari hidup orang Papua. Hanya dengan cara demikian, para gembala akan sungguh-sungguh memahami seluk-beluk pergumulan orang Papua. Melalui pemahaman yang mendalam itulah, para gembala dapat menuntun kawanan domba orang Papua menuju “tanah terjanji” yang berlimpah susu dan madu.

Semoga para gembala di Papua mau peduli dan mengarahkan pandangan mereka kepada orang Papua yang sedang menderita. Kalau bukan kepada para gembala dan pimpinan Gereja Papua, kepada siapakah orang Papua akan meletakkan harapan hidup dan masa depan mereka? Semoga para gembala dan pimpinan Gereja Papua tidak hanya membaptis dan membiarkan orang Papua mati sia-sia di tangan penguasa Indonesia, melainkan berjuang melindungi, merawat dan membawa orang Papua memasuki “tanah terjanji” yang didambakan yaitu Papua damai dan sejahtera, tanpa kekerasan. (*)

Penulis adalah warga Kota Jayapura, Papua

Editor: Timo Marten

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa