Follow our news chanel

Mencari jawaban atas wabah campak 2019 di Samoa itu apolitis

Gloria Aperamo Segifili dengan anak-anak dan keponakannya: Moana, Periti, Gloria dan Ramo, setelah  ia membawa mereka ke klinik untuk menerima vaksin MMR pada November 2019. - Samoa Observer/ Misiona Simo
Mencari jawaban atas wabah campak 2019 di Samoa itu apolitis 1 i Papua
Gloria Aperamo Segifili dengan anak-anak dan keponakannya: Moana, Periti, Gloria dan Ramo, setelah  ia membawa mereka ke klinik untuk menerima vaksin MMR pada November 2019. – Samoa Observer/ Misiona Simo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh The Editorial Board, Samoa Observer 

Apakah ada yang salah dengan mencari jawaban dan kebenaran atas kematian 83 orang yang tidak bersalah?

Menurut kita tidak.

Di Samoa dewasa ini, kita menemukan diri kita di tengah-tengah situasi yang sangat ironis, dimana akibat kekurangan ahli patologi tidak satupun kematian dapat dikubur, kadang-kadang sampai dua bulan lamanya, tetapi ketika lebih dari 80 anak meninggal dunia, penyebabnya belum juga ditelusuri.

Di tengah berbagai badai permasalahan yang melanda awal 2020 ini, Samoa hampir melupakan epidemi campak tahun lalu.

Diperlukan seorang mantan Kepala Negara, Yang Mulia Tui Atua Tupua Tamasese Efi, untuk memperbarui desakannya pekan lalu.

Loading...
;

“Kami diperhatikan bahwa dalam hal-hal yang sepele, Anda, (Perdana Menteri) Tuilaepa, sangat siap untuk membentuk Komisi Penyelidikan,” kata Tui Atua.

“Mengapa tidak ada Komisi Penyelidikan tentang epidemi campak di Samoa di mana 81 anak meninggal dan di mana ada bukti yang kuat bahwa persiapan kita sangat minim?”

Tetapi Perdana Menteri, Tuilaepa Dr. Sa’ilele Malielegaoi, telah menolak desakan ini sebagai permainan politik belaka.

Kita ingat bahwa beberapa ahli Samoa yang sangat cakap mengutarakan desakan yang sama setelah mimpi buruk yang mengerikan itu berlalu.

Wakil Rektor perguruan tinggi kesehatan Oceania University of Medicine saat ini, Toleafoa Manufalealili Dr. Viali Lameko, adalah anggota dunia kesehatan pertama Samoa yang angkat bicara dan meminta agar penyelidikan tentang penyebab epidemi tersebut dimulai.

Akan sangat sulit untuk menuduh desakan Toleafoa sebagai bermotivasi politik.

Presiden asosiasi dokter umum Samoa, Association of General Practitioners, tahun lalu bahkan berkata bahwa kelompok itu akan memimpin dan melakukan tinjauan mereka sendiri dan memutuskan untuk tidak bergantung pada penyelidikan Pemerintah karena mereka ingin fokus pada hasil yang ‘dapat dicapai’. Apa artinya itu, kita akan membiarkan pembaca untuk menginterpretasikan masing-masing.

Berbicara di media milik negara, PM Tuilaepa menyinyalir bahwa seseorang telah mendorong isu itu ke Tui Atua:

“Saya berasumsi bahwa reporter cantik dan besar dari Samoa Observer yang mendorongnya,” katanya.

Tapi tanggapan Tuilaepa bagaikan trik sulap yang cerdas dengan serangkaian alasan tak berdasar untuk tidak mengadakan penyelidikan itu.

Pertama-tama, dia menegaskan komisi penyelidikan itu mahal.

Berapa harga yang bisa kita sematkan pada nyawa manusia?

PM Tuilaepa menerangkan bahwa sudah ada dua Komisi Penyelidikan baru-baru ini yang diadakan berdasarkan isu-isu seperti merger kembali program layanan kesehatan masyarakat, National Health Service, dan Kementerian Kesehatan, dan insiden fatal pada 2018 di mana akibat dosis imunisasi yang salah dipersiapkan dua anak meninggal dunia.

Komisi Penyelidikan juga telah dilakukan pada kebocoran dana dari bagian bea cukai negara itu.

Betapa pun layaknya isu-isu tersebut untuk diselidiki, sulit untuk berkata bahwa mereka lebih penting bagi bangsa ini dan sejarahnya tahun lalu akibat epidemi Campak yang mematikan.

PM Tuilaepa, awalnya menyalahkan para orang tua, karena tidak mengimunisasikan anak-anak mereka. Dia kemudian menuduh bahwa wabah campak dibawa ke Samoa oleh seorang perempuan dari Selandia Baru.

Dalam program mingguannya ia berkata satu-satunya pertanyaan yang tersisa untuk dijawab oleh suatu komisi penyelidikan adalah, mengapa angka kematian Samoa akibat penyakit itu sangat tinggi: “Semua orang tahu jawabannya, Saya ragu dia pernah menonton TV dan melihat program imunisasi.”

Namun sebenarnya, masih ada beberapa pertanyaan – dan begitu juga jawaban yang belum ditemukan.

Saat itu, Samoa bisa melihat peringatan akibat banyaknya bangkitnya wabah campak yang terjadi di seluruh dunia. Kasus-kasus di Eropa saja meningkat tiga kali lipat pada 2017. Di Filipina, dimana skandal vaksin campak yang serupa terjadi dengan Samoa pada awal tahun itu, lebih dari 570 kematian dilaporkan.

Satu pertanyaan yang tampaknya tidak siap dijawab oleh PM Tuilaepa justru adalah yang paling penting: Dengan semua indikasi terpapar jelas, mengapa Pemerintah Samoa tidak mengambil tindakan tegas dan sigap untuk menaikkan angka cakupan imunisasi kita, terutama ketika Selandia Baru juga sudah menghadapi epidemi besar-besaran.

Penutupan Samoa oleh pemerintah yang terakhir dan program imunisasi yang akhirnya dilaksanakan menunjukkan bahwa sejumlah besar orang bisa divaksinasi dalam periode waktu yang sangat singkat.

Kenapa mereka tidak diimunisasi sebelumnya?

Tetangga kita di Pasifik, seperti Samoa Amerika dan Tonga, semuanya memiliki angka cakupan vaksinasi yang sangat tinggi, itu memberikan mereka perlindungan selama epidemi campak global. Mengapa Samoa merupakan pengecualian adalah sesuatu yang belum pernah dijawab dengan benar.

Pertanyaan lain yang belum dijawab oleh pemerintah adalah mengapa angka di mana bayi yang baru lahir Samoa berhenti diimunisasi mencapai puncak tertingginya pada 2015.

Pada 2013, sekitar 90% bayi Samoa menerima vaksin campak, gondongan, dan rubella (MMR) rutin pertama mereka. Pada 2018, angka itu jatuh menjadi hanya 31%, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF.

Sesuatu telah terjadi dan mengubah kebijakan imunisasi kita, dan kita perlu jawaban.

Pertanyaan dan komisi penyelidikan seharusnya bukan tentang menuduh atau menyalahkan oknum tertentu, tetapi mengenai mencari kebenaran. Wabah campak tahun lalu masih melukai bangsa ini, dan akan tetap seperti ini untuk beberapa waktu ke depan. Pelipur lara yang mungkin bisa kita berikan adalah sebuah jawaban. (Samoa Observer)

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top