Follow our news chanel

Mencari solusi penyelamatan bahasa daerah di Papua

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, Universitas Cenderawasih (Uncen), dan Badan Bahasa di Jakarta, bekerja sama untuk mencari solusi demi menyelamatkan bahasa-bahasa daerah di Tanah Papua. 

Salah satu langkah solutif dalam penyelamatan bahasa-bahasa itu dilakukan melalui seminar perencanaan bahasa daerah di tanah Papua "Membangun Papua Melalui Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah".

Seminar yang digelar di Abepura, Kota Jayapura, Selasa (16/10/2018), dihadiri sejumah pelajar, guru, tokoh masyarakat, dosen, dan beberapa Organisasi Perangkat Daerah.

Ketua Panitia Seminar dari Uncen, Raymon Fatubun, mengatakan kegiatan ini merupakan langkah awal. Usai seminar, banyak aspek yang dilihat, misalnya sosial budaya, bahasa-bahasa minoritas dan mayoritas. Maka seminar digelar untuk mencari policy (kebijakan) yang diambil.

Bahasa-bahasa daerah di Papua merupakan salah satu kekayaan khazanah budaya. Agar bahasa-bahasa itu hidup dan bertahan serta pembangunan lebih cepat, maka seminar dianggap penting untuk mencari solusi terbaik.

"Ini kira-kira kelanjutannya bagaimana. Sebab banyak aspek yang dilihat, sehingga harus diperhatikan," katanya kepada Jubi, Selasa sore.

Loading...
;

Kegiatan ini melibatkan berbagai komponen karena bahasa daerah dianggap sebagai salah satu kekayaan budaya yang harus diperhatikan.

Penyuluh dari Balai Bahasa Papua dan Papua Barat, Suharyanto, mengatakan pihaknya mengambil tiga sampel penelitian, yaitu bahasa Nafri tahun 2002, bahasa Tobati dan Bahasa Skouw, serta bahasa Sentani kota tahun 2009 dan 2010.

"Hasil penelitian itu hampir sama. Kalau kita tidak memperhatikan sungguh-sungguh, maka dalam tiga genenasi ke depan tidak akan ada lagi bahasa-bahasa di daerah," katanya.

Bahasa adalah penyimpan khazanah budaya. Jika bahasa hilang, maka budaya juga hilang.

"Mengingat pentingnya itu, maka kita harus mempunyai kesadaran. Oleh karena itu, melalui forum ini kita ajak semua stakeholder untuk sama-sama menyelematkan khazanah budaya itu," kata.

Soal pengaruh luar yang masuk, termasuk bahasa dan perkembangan teknologi, Suharyanto berpandangan bahwa kita tidak harus meninggalkan khazanah budaya kita sendiri, sebagai jati diri.

Bahasa Indonesia sudah pasti berpengaruh terhadap bahasa daerah. Begitu pun bahasa asing. Bahasa-bahasa ini saling serap. 

Meski demikian, ia mengimbau agar orang-orang tua membiasakan diri untuk menerapkan bahasa daerah kepada anak-anaknya.

"Selain sebagai ciri identitas, itu khazanah nenek koyang. Cara yang paling efektif adalah melalui pewarisan, maka secara tidak langsung, anak-anak mengerti bahasa daerah itu," katanya. 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise, usai membuka seminar, kepada wartawan mengatakan kini bahasa-bahasa daerah di Papua menjadi prioritas pemerintah. Selama ini pemerintah pusat jarang dilibatkan untuk berdiskusi tentang bahasa daerah di tanah Papua.

Maka dari itu, dirinya mengajak akademisi, pemerintah, termasuk pemerintah daerah untuk mengangkat kembali bahasa-bahasa di Tanah Papua, karena semakin hari bahasa daerah semakin punah. Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi dan globalisasi.

"Ini (seminar) momentum strategis untuk persiapkan tanah Papua ke depan dalam rangka perlindungan bahasa daerah agar tidak punah," kata Yembise.

Dirinya mengaku belum mengetahui berapa jumlah bahasa di Papua yang punah. Namun dalam seminar hari ini diketahui sebanyak 369 bahasa yang terdata. 

Maka dari itu, ia berharap agar bahasa-bahasa daerah diselamatkan, baik melalui penelitian, maupun bahan ajar lewat muatan lokal di sekolah-sekolah.

Nomensen Mambraku dari FKIP Universitas Cenderawawih (Uncen) mengatakan di Uncen ada program studi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Namun, akan dipecahkan dan ditambah jurusan baru menjadi Bahasa dan Sastra Daerah.

Menurutnya, Uncen sebagai pengelola pendidikan di Papua wajib mengelola pendidikan bahasa daerah. 

"Saat kini sudah memasukkan muatan lokal tetapi masih muatan lokal sehingga terintegrasi dengan kurikulum," kata Mambraku.

Pihaknya sedang berdiskusi dengan rektor. Namun, diharapkan menjadi jurusan bahasa dan sastra daerah pada penerimaan mahasiswa baru nanti. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top