Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Mendorong pemuda Papua menjadi petani kopi

Petani kopi di Lani Jaya sedang menangani bibit kopi – Foto dok. Denny Yigibalom
Mendorong pemuda Papua menjadi petani kopi 1 i Papua
Petani kopi di Lani Jaya sedang menangani bibit kopi – Foto dok. Denny Yigibalom

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Denny Jigibalom, pria asal Kabupaten Lanny Jaya, merupakan penggiat Kopi Tiom. Ia menekuni usaha kopi sejak 1995 melalui perjuangan pahit dan manis. Namun ia tidak berputus asa untuk menekuninya.

Kopi khas Papua, katanya, adalah kearifan lokal yang mesti diangkat. Cuma sayangnya kebersamaan dan kekompokan telah hilang dari orang Papua sehingga sulit mengangkatnya.

Mendorong pemuda Papua menjadi petani kopi 2 i Papua

“Orang bilang Tanah Papua ini surga kecil yang jatuh ke bumi, orang bangga menyanyi lagu itu, tapi hari ini kita memakan makanan dari luar Papua, bukan makanan dari Papua sendiri,” katanya, ketika dijumpai Jubi pada sebuah acara pameran kopi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Senin, 18 Februari 2019.

Hal seperti itu, kata Jigibalom, sering ia sampaikan ke penggiat kopi di Papua, karena kopi adalah kuliner Papua. Papua luas dari Sorong sampai Samarai dan masing-masing daerah memiliki potensi kopi masing-masing.

“Ibarat Ko dari mana? Tabi, Sentani, dan Sentani sendiri itu luar kampung mana, seperti itu,” katanya menggambarkan beragamnya Papua.

Orang gunung, lanjutnya, dikenal dengan makanan pokok ubi, sedangkan orang danau makan sagu. Untuk mengangkat keragaman kuliner ini harus dilakukan bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. Begitu juga dengan kopi yang berbeda di pegunungan dengan pesisir.

Loading...
;

“Orang selalu bilang ini kopi Papua, tapi dorang tidak sebut daerah mana dan petaninya itu siapa? Cuman bilang kopi Wamena tapi tidak pernah angkat orang Wamena, begitu juga kopi Monemani, bukan orang Monemani tapi orang dari luar,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, yang mengambil kopi harus menjelaskan, kalau dia mengambil kopi Piramid di Wamena berarti dari Distrik Piramid, kalau mengambil di Pirime, berarti itu dari Kabupaten Lanny Jaya Distrik Pirime.

“Bila perlu dengan nama petaninya sekalian dan itu memotivasi petani dan kebanggaan bagi mereka kalau betul itu kita punya kopi, karena semua disebut kopi Wamena, walaupun kopi itu dari Tolikara, Lanny Jaya, dan daerah lain, jadi mereka bilang semua itu dari Wamena,” ujarnya.

Menurutnya cara berpikir seperti itu yang harus dihilangkan sehingga sehingga orang tahu daerah asal kopi, petaninya siapa, dan pengelolanya siapa.

“Tujuan saya mengangkat ini sama seperti hutan sagu yang orang mulai tebang dan pangan lokal hilang, begitu juga kopi, orang di luar sana minta dengan jumlah banyak tapi sampai saat ini produksi di kebun itu sangat minim,” katanya.

Jigibalom mempromosikan Kopi Tiom sejak 1995. Namun kelemahan yang ia alami, ketika ada permintaan ternyata kebun sudah tidak ada.

“Orang baru minta satu ton saya baru siap satu kilogram, perbandingan sudah jauh sekali,” ujarnya.

Ia menjelaskan sebenarnya permintaan pasar terhadap kopi banyak. Namun harganya tidak stabil karena terkait dengan standar mutu pengolahan. Jadi petani perlu diajarkan cara mengolah kopi, misalnya jika biasanya dijemur di tanah dengan alas karung diubah dengan alat teknologi.

Kopi Tiom miliknya sudah dipasarkan hingga ke Australia, Amerika, Rusia, dan Thailand, selain di dalam negeri. Ia mengirimkan dalam bentuk biji hijau.

“Saat mereka minta itu saya kadang bingung mau ambil dari mana, karena petani kopi tidak seperti dulu lagi memproduksi kopinya,” katanya.

Karena itu ia sekarang fokus mengajak kembali masyarakat untuk kembali menanam kopi. Istilahnya, kembali membangunkan masyarakat yang telah dininabobokan oleh pemerintah.

“Ketika dijelaskan mereka berpikir berapa harga jual kopi sekilo, lebih baik saya santai jalan dengan pejabat dan kepala desa tanpa mengeluarkan keringat saya dapat uang,” ujarnya.

Jigibalom mengaku menolak masukan agar memakai petani kopi dari luar sebagai jalan keluar. Kalau itu dilakukan, katanya, orang Papua akan tersisih sampai kapan pun.

Ia berharap Pemprov Papua dan pemkab serta pemkot berdiri di belakang masyarakat menyuarakan potensi Papua. Sebab potensi perekonomian rakyat Papua tidak hanya kopi. Menurutnya di Kabupaten Lanny Jaya saja ada 800 ha lahan yang dikelola petani, namun yang setia mengelola lahan cuma 20 orang.

Kondisi seperti inilah yang membuat ia memilih lebih mendorong generasi muda untuk muncul mengelola agar muncul generasi berikutnya.

“Saya berharap adik-adik yang ingin maju, saya akan berdiri di belakang dan saya akan support karena rohnya ada pada mereka, ke depan mereka akan tahu manfaatnya seperti apa,” katanya.

Berto Wonda, ditemui Jubi sedang melihat Festival Sagu di Kwadeware. Ia tertarik melihat stan aneka kopi asli Papua.

“Saya baru tahu kalau kopi itu tidak hanya kopi Arabika, tapi ada kopi Tiom, Pegunungan Bintang, Wamena, Monemani, dan kopi dari daerah lain di Papua,” ujarnya.

Pemuda Puncak Jaya ini mengaku bangga dengan penggiat kopi Papua yang langsung mengelola kopi-kopi tersebut.

“Dengan begini orang bisa tahu kalau kita OAP (Orang Asli Papua) juga bisa bertani dan juga bisa mengelola kopi, dan kita bisa mengkonsumsi kopi kita sendiri,” katanya.

Ia berharap Pemprov Papua dan pemerintah kabupaten mendukung anak-anak muda penggiat kopi tersebut, karena mereka membawa nama baik Papua. (*)

Editor: Syofiardi

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top