Follow our news chanel

Menempuh jalan perdamaian: Belajar dari Fransiskus Asisi

Ilustrasi – Jubi/Pixabay.com
Menempuh jalan perdamaian: Belajar dari Fransiskus Asisi 1 i Papua
Ilustrasi – Jubi/Pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Vredigando Engelberto Namsa, OFM

Damai adalah satu situasi dimana orang merasa tenang tanpa diganggu oleh sesuatu. Yang menginginkan suasana yang damai dan tenang itu adalah manusia, yang pada hakikatnya adalah makhluk sosial. Oleh sebab itu, damai dan tidaknya seseorang tergantung juga pada relasi pribadi orang yang menginginkan ketenangan itu dengan sesama di sekitarnya. Karena itu, konsekuensi dari kemauan untuk suatu kenyataan yang damai dan tenang adalah setiap orang menciptakan perdamaian dengan sesama.

Pribadi Fransiskus dari Asisi adalah seorang yang dalam hidupnya menunjukkan pencinta damai. Ia menciptakan perdamaian terutama dengan dirinya sendiri. Proses perdamaian yang dijalin dengan dirinya sendiri adalah pertobatan terus-menerus.

Dengan jalan pertobatan terus-menerus, Fransiskus berusaha sedikit demi sedikit untuk melepaskan sikap egoisme, antara lain, ingin menjadi satria yang terkenal. Ia sendiri membandingkan dirinya dengan raja Daud yang membebaskan umat  Israel dari kekuasaan raja Firaun di Mesir (Thomas Celano, Santo Fransiskus dari Asisi, Sekafi-Jakarta 1981).

Pada awal pertobatannya ia bergumul untuk mengosongkan dirinya dari materi yang dimiliki dan ambisi untuk memperoleh status sosial, akhirnya ia dapat menemukan jiwa yang damai dan tenang. Ketenangan jiwa ini mewarnai seluruh hidupnya, terutama antara perkataan dan tindakan.

Fransiskus pada diri dan hidupnya mampu menampilkan suatu bentuk perdamaian. Kenyataan perdamaian ini membuka hati sesama untuk berdamai.

Loading...
;

Di dalam riwayat hidup Fransiskus dari Asisi diceritakan, pada suatu kesempatan ia berkotbah di lapangan puri-puri kecil dan hampir seluruh rakyat di tempat itu hadir untuk mendengarnya.

Khotbah Fransiskus sedikit pun tidak bergaya khotbah ahli pidato atau ahli retorika (salah satu gaya khotbah yang dihidupi pada zaman itu). Gaya khotbahnya pada saat itu hanya berupa seruan-seruan sederhana untuk mengeyehkan perasaan benci dan memulihkan perdamaian.

Khotbah dan penampilan diri Fransiskus yang sederhana itu berhasil mendorong kaum bangsawan Bologna (Italia) untuk berdamai kembali setelah berabad-abad bermusuhan. Akhirnya kegembiraan hebat meliputi semua orang yang ada di kota itu (baik pria dan wanita), mereka menghampiri dan mengoyak-ngoyak pakaian Fransiskus (Van Doornik, MSC, Fransiskus Asisi nabi masa kini, Jakarta, 1977).

Dari cerita di atas ini, terlihat bahwa Fransiskus amat sederhana dalam mewartakan perdamian. Ia tidak bergaya seperti ahli pidato karena Fransiskus tidak menempuh suatu pendidikan khusus untuk berkhotbah. Modal yang dimiliki Fransiskus hanyalah jiwa sukacita damai dan sederhana.

Bagi Fransiskus yang menjadi dasar dari semuanya adalah cinta kepada Kristus. Fransiskus begitu mencintai Kristus dan amat dekat dengan-Nya, maka ia sendiri sangat peka terhadap situasi apapun yang dihadapinya, bila hal itu tidak sesuai dengan kehendak Kristus yang diimaninya.

Kepekaan yang dimiliki didukung oleh ketenangan untuk mengamati situasi yang dihadapi oleh manusia pada saat itu, memungkinkan Fransiskus untuk memcahkan persoalan yang sedang digapai oleh sesama manusia.

Cara Fransiskus mendamaikan sesama yang bermusuhan bukanlah dengan mencari sebab-sebab terjadinya masalah, untuk menentukan siapa yang akan memenangkan suatu perkara atau masalah.

Cara Fransiskus sesama adalah dengan kehadirannya sendiri yang mampu memberi semangat dan inspirasi kepada pihak yang bermusuhan untuk menciptakan suasana cinta dan damai di dalam hati, sehingga mampu untuk saling menerima satu sama lain. Bagi Fransiskus, seorang yang tampil untuk mendamaikan sesama, dirinya sendiri perlu memelihara damai dalam jiwa dan raga demi cinta kasih kepada Tuhan (Petuah Santo Fransiskus Asisi, no. 15).

Dari petuah ini terlihat bahwa hidup dan tingkah laku Fransiskus bersumber kepada Allah. Allah itu nampak jelas dalam diri Yesus Kristus, dan Yesus Kristus itu menjadi teladan bagi Fransiskus untuk bersikap dan bertindak.

Fransiskus ingin berdamai karena Yesus telah menderita untuk mendamaikan dan mempersatukan manusia. Yesus adalah motivator sekaligus tujuan dari perdamaian yang ditawarkan oleh Fransiskus.

Oleh karena itu, para pengikut Kristus deawasa ini dapat menyatakan cinta dan setia kepada-Nya dengan menjadikan diri pembawa damai seperti yang sudah dibuat oleh Fransiskus dari Asisi.

Cara Fransiskus memandang alam semesta adalah dengan menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya pula, dan semua adalah sesama ciptaan maka mereka adalah bersaudara.

Penghayatan persaudaraan Fransiskus tidaklah terbatas pada manusia saja. Seluruh isi alam ciptaan ini adalah bersaudara satu sama lain. Pengakuan Fransiskus akan alam semesta dengan dirinya dan sesama manusia lainnya. Ia dapat memerintahkan hujan dan badai yang mengganggu kedamaian tanaman-tanaman di kebun penduduk, ia dapat menjinakkan serigala yang menyerang penduduk dan ternak peliharaannya di Greccio (Bonaventura, Riwayat hidup St. Fransiskus Asisi, Sekafi-Jakarta 1984).

Kisah mengenai pengalaman Fransiskus terutama dengan alam semesta, mengambarkan bahwa jiwa perdamaian yang dimiliki Fransiskus dimengerti oleh akal manusia.

Hanya dapat diakui bahwa penghayatan persaudaraan terhadap segala ciptaan begitu mendalam, sehingga memampukan dirinya untuk berkomunikasi dan berdamai dengan segala sesuatu.

Di sisi lain kemampuan untuk menghayati persaudaraan yang begitu mendalam adalah rahmat karunia Allah yang dilimpahkan kepada Fransiskus. (*)

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top