Follow our news chanel

Previous
Next

Mengakui sejarah Blackbirding di sekolah-sekolah di Australia

Aunty Roz Wallace. - ABC Capricornia / Erin Semmler

Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Erin Semmler

Rachel Warcon adalah seorang perempuan berdarah campuran, ia merupakan generasi keempat Australian South Sea Islander (sebutan untuk orang-orang Kepulauan Pasifik yang didatangkan ke Australia untuk menjadi budak) dan ia berkata ia kaget bahwa banyak orang Australia tidak menyadari sejarah umum blackbirding di negara itu.

Di era blackbirding, antara tahun 1860-an dan awal 1900-an, kakek buyut dari sisi neneknya, Charles Malamoo dan ayah dari kakek buyut William Warcon, dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka di Vanuatu.

Perempuan berusia 23 tahun itu bertumbuh di Rockhampton di Australia, tetapi ia menghabiskan sebagian besar waktunya di Joskeleigh, sebuah komunitas kecil di daerah pesisiran pantai, Capricorn Coast.

Di tempat itu nenek moyangnya dipaksa untuk memulai kehidupan yang baru setelah bekerja sebagai budak di perkebunan tebu di Queensland, mereka disebut sugar slaves.

“Ini adalah tempat yang spesial bagi kita, dan tempat ini menghubungkan kita dengan orang-orang kita dari Vanuatu,” katanya.

Loading...
;

Sejak masih belia, Warcon sering diidentifikasikan oleh warna kulitnya. “Saya punya satu kakak laki-laki yang juga harus mengalami apa yang saya alami, dan begitu juga dengan semua sepupu saya,” katanya.

Di sekolah, teman sekelasnya sering mempertanyakan identitasnya.

Warcon lalu menemukan jawaban itu dari neneknya, Daphne Florence Warcon, Malamoo adalah marga Daphne sebelum menikah. Perempuan berusia 87 tahun, yang dipanggil Mama oleh Rachel dan keluarganya, meninggal pada Februari 2020.

“Dia mengajarkan identitas kita kepada kita, dan bahwa kita adalah orang-orang yang disebut Australian South Sea Islander yang tidak mudah goyah – kita bangga akan identitas kita dan tidak malu akan asal kita,” tutur Warcon.

“Ia menghubungkan kita kembali dengan budaya kita, dia (Mama) memainkan peran yang sangat penting dalam hal ini, dan mudah-mudahan saya bisa selalu membuatnya bangga dan menjaga budaya tetap hidup dalam keluarga kita.”

Banyak orang yang tidak tahu sejarah perbudakan orang Kepulauan Pasifik di Australia

Lebih dari 62.000 orang Kepulauan Pasifik diculik dan dibawa ke Australia, tetapi Warcon mengatakan sejarah ini, secara umum, dilupakan begitu saja.

“Membuat orang paham bahwa kita dibawa ke sini, dan diculik dari tanah air kita, itulah alasan utama mengapa saya ingin menyebarluaskannya,” katanya. “Saya masih tidak percaya begitu banyak orang yang tidak tahu. Sungguh mengherankan bahwa orang-orang tidak diajarkan mengenai sejarah Australian South Sea Islander, padahal itu adalah bagian besar dari sejarah Australia.

“Kita adalah bagian penting dari perbudakan industri gula dan produksi tebu di Queensland.”

Warcon menegaskan bahwa setiap orang harus memahami sejarah umum Australia.

“Ada banyak hal yang tidak diketahui tentang tanah dimana kalian berpijak,” tegasnya.

“Saya tidak pernah belajar tentang sejarah ini di sekolah. Bahkan membahas sejarah ini dengan pelajar sekolah menengah atas saat ini, yang belajar sejarah abad pertengahan, saya bertanya ‘mengapa kalian tidak mempelajari sejarah Australia dan membahas apa yang telah terjadi di pekarangan rumah kalian sendiri?’.

“Dengan memahami bahwa ini adalah bagian besar dari budaya Australia, mengapa kita tidak pernah membahasnya?”

Sudah 26 tahun berlalu sejak pengakuan Persemakmuran

Pemerintah Australia di bawah pimpinan Perdana Menteri Paul Keating telah mengakui keturunan Australian South Sea Islanders sebagai kelompok budaya mereka sendiri yang khas pada pada Agustus 1994, diikuti oleh pengakuan yang serupa oleh pemerintah negara bagian Queensland pada bulan September 2000.

Bagi tetua Aunty Roz Wallace, pengenalan itu adalah pahit dan manis pada saat yang bersamaan.

Itu adalah satu langkah menuju kemajuan untuk generasinya, tetapi sesuatu yang tidak dapat disaksikan oleh generasi orang tuanya, serta generasi-generasi sebelumnya.

“Selama bertahun-tahun kita bertumbuh, saya tidak pernah merasa bahwa kita memang pantas berada di sini, padahal saya lahir di sini,” katanya.

“Di tahun-tahun sebelumnya, ketika saya masih bertumbuh kita harus mencentang kotak ‘lain’ ketika kita diminta mengidentifikasi latar belakang kita. Kita tidak mengidentifikasikan diri kita sebagai orang Aborigin Australia, atau Selat Torres, atau lainnya, jadi selalu mencentang kotak yang lain.

“Namun kita sering digabungkan ke kategori yang sama karena kita berkulit hitam dan juga bertumbuh dari Australia.

“Sekarang kita punya kotak sendiri yang bisa kita centang.”

Meski sudah ada kemajuan, Aunty Roz berkata laju perubahan ini sangat lambat.

“Kita masih harus menjelaskan siapa kita,” katanya. “Saya masih harus menjelaskan bahwa saya bukan Aborigin, atau mereka akan melihat saya dan menegur saya dengan ‘bulla’ karena mereka pikir saya orang Fiji.

“Kemudian kita harus menceritakan sejarah kita, menjelaskan, dan sedikit sosialisasi mengenai budaya – dengan singkat.”

Mengajar sejarah Australian South Sea Islander di sekolah-sekolah

Kerry Warkill adalah presiden dari Australian South Sea Islander United Council di Rockhampton.

“Menurut saya, 26 tahun ini telah kita biarkan begitu saja, sebagai generasi penerus,” ujarnya.

“Ini adalah saat yang penting untuk adanya perubahan yang penting, tetapi ini bergantung pada kita, komunitas, untuk membantu perubahan itu – mengajarkan sejarah ini di sekolah-sekolah, berdasarkan pengetahuan mengenai sejarah kita, dan mencoba dan menyebarluaskannya di komunitas.”

Tetua Doris Leo mengelola Museum South Sea Islander Joskeleigh. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun berkampanye untuk pengakuan komunitasnya.

“Sumbangan leluhur kita terhadap perekonomian industri Australia, setidaknya untuk industri gula, banyak hal yang harus diakui di sini,” katanya. “Tidak ada yang diajarkan di kelas-kelas, anak-anak belum diajarkan hal itu di buku-buku sejarah.

“Untuk saat ini, tergantung pada kita untuk mencoba menyebarkan informasi ini ke luar sana dan membuat orang-orang sadar akan sejarah ini.”

Pria berusia 80 tahun ini bangga melihat anak-anak muda seperti Rachel Warcon mengambil tanggung jawab dengan penuh semangat. “Mereka menjaga sejarah ini tetap hidup,” tambahnya. “Kita sudah semakin tua, kita tidak bisa terus melakukan ini.” (ABC News)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top