Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Menggali gigi manusia prasejarah di Yomokho

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

DARI puncak bukitnya, tatapan mata kita membentur cahaya kekuningan, yang tersembul dari arah barat. Di perutnya tersimpan bukti-bukti peninggalan prasejarah.

Itulah bukit Yomokho, Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Sekira 200 meter jaraknya dari kawasan Pantai Kalkhote, lokasi Festival Danau Sentani (FDS), dan tak sampai satu jam dari Bandara Sentani.

Yomokho, setidaknya menggaet dua mahasiswa Arkeologi Universitas Leiden Belanda–Cintia van den Bergh dan Ivan aan den Toorn–untuk melakukan studi lapangan.

"Heel mooi uitzicht (pemandangan yang sangat indah)," kata Ivan van den Toorn, suatu sore, tahun 2012.

Pada Mei 2018, di situs Yomokho dilakukan penggalian benda-benda prasejarah. Ketika itu ditemukan fragmen gerabah dan tulang manusia, moluska, arang, dan alat batu penokok sagu. Motif gerabah Yomokho sama dengan motif gerabah yang ditemukan di Gua Lachitu dan Gua Taora, Vanimo, Papua Nugini.

Tahun 2010, ditemukan rangka manusia di Yomokho. Penduduk setempat lalu menguburkan rangka tersebut, usai penggalian menggunakan eksavator.

Loading...
;

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua pun tak mau ketinggalan. Pekan lalu, 26 Oktober 2018, dilakukan penggalian di situs tersebut.

Penemuan kerangka, sedianya bakal menjelaskan salah satu bukti ilmiah peninggalan prasejarah di Tanah Papua.

"Itu yang kembali kami gali untuk ambil sampel giginya," kata peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Marlin Tola, Sabtu (27/10/2018).

Marlin memimpin tim beranggotakan enam orang–dari Balai Arkeologi Papua dan Dinas Kebudayaan dan Pariwsata (Disbudpar) Kabupaten Jayapura.

Ia mengatakan temuan ini merupakan satu konteks dengan situs Yomokho yang di-dating peneliti Hari Suroto, Mei 2018. Cuma yang di-dating (pertanggalan) kala itu hanya arang. 

"Sepertinya ini manusia modern. Nanti sampel giginya, terutama molarnya (gigi belakang) yang akan di-dating, untuk mengetahui populasi, umur, dan manusia yang hidup di zaman berapa," ujar kandidat doktor Max Planck for the Science of Human History Jerman itu.

Analisis terhadap karakter gigi manusia prasejarah pada masa holosen (awal sampai akhir) dinilai sangat penting, terutama menyangkut populasi daerah dataran rendah bagian selatan dan utara Papua, untuk mengetahui cara hidup yang dipraktikkan pada masa ini–apakah pemenuhan makanan dilakukan dengan berburu atau bertani, seperti di dataran tinggi.

Karakter gigi dan bukti-bukti fisik pada gigi, termasuk karies, plak, keausan gigi dapat menjawab hal tersebut. Juga penyakit yang diakibatkan oleh jenis-jenis makanan yang mereka konsumsi.

"Analisis mikrobiologi tersebut akan dilakukan di laboratorium Max Planck for the science of Human History Jena, Germany," katanya.

Dia berharap agar Balai Arkeologi Papua bekerja sama dengan institut penelitian yang berbasiskan sains, terutama institut yang berada di Jerman.

Penelitian terapan berbasis sains dilakukan untuk mendukung hasil penelitian arkeologi, yang dapat diukur nilai keabsahannya melalui analisis mikrobiologi.

Dosen Arkeologi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih, Hari Suroto, mengatakan dating dengan sampel arang memakai metode radiokarbon C14, dengan cara menghitung C14 yang tersisa pada benda-benda organik.

Berdasarkan dating radiokarbon, Situs Yomokho pernah dihuni manusia prasejarah. Mereka beraktivitas di sini pada akhir holosen atau 2.590 tahun yang lalu. 

Dalam geologi, holosen adalah periode geologis sesudah pleistosen terakhir, ditandai susutnya es di daerah kutub, dan pegunungan tinggi, naiknya permukaan air laut dan terjadinya pengendapan.

Situs Yomokho merupakan salah satu situs yang sangat penting di pantai utara Papua, terutama untuk mengetahui karakteristik gigi manusia prasejarah, yang berkembang pada masa akhir holosen, serta untuk mengetahui pengaruh lingkungan (jenis makanan yang dikonsumsi), dan untuk mengetahui peranan genetik penduduk yang hidup pada masa ini.

"Manusia prasejarah memilih Bukit Yomokho sebagai lokasi hunian, karena letaknya yang berada di tepi danau Sentani, dan dekat dengan hutan sagu," ujar Hari Suroto.

Danau Sentani merupakan sumber makanan (ikan dan siput danau) dan sumber air minum. Hutan sagu merupakan sumber bahan makanan berupa tepung sagu.

Informasi yang dihimpun Jubi menyebutkan, sejak 2010,  Disbudpar Kabupaten Jayapura bekerja sama dengan Balai Arkeologi Papua, untuk melakukan penelitian di Situs Yomokho. 

Kawasan ini bakal dikembangkan sebagai destinasi wisata dan menjadi satu paket dengan event FDS.

"Jadi, para pengunjung Festival Danau Sentani dapat juga mengunjungi Situs Yomokho, karena jaraknya sangat dekat dengan lokasi festival, tinggal jalan kaki saja," kata Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Jayapura, Elvis Kabey.

Kepala Balai Arkeologi Papua, Gusti Made Sudarmika, mengatakan artefak hasil penelitian di Situs Yomokho selalu ditampilkan dalam FDS.

Maka dari itu, pihaknya memberi apresiasi kepada Disbudpar Jayapura, yang melakukan penelitian bersama Balai Arkeologi Papua di Yomokho.

"Situs ini merupakan identitas peradaban masyarakat Sentani, sehingga perlu diteliti lebih lanjut dan dilestarikan," katanya. (*)

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top