Mengintip cerita Papua di laman face2faceafrica

papua, face2faceafrica
logo situs ding face2faceafrica.com. Ist

 

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi- Mengangkat isu Papua Barat di wilayah Pasifik Selatan maupun di media Australia atau Radio dan Televisi New Zealand mungkin sesuatu hal yang biasa. Namun hal ini akan menjadi sangat berbeda kalau isu Papua Barat diangkat dalam media online face2faceafrica.com.

Media online ini lebih banyak mengangkat isu-isu tentang orang orang kulit hitam di seluruh dunia. Mulai dari sejarah, budaya, perempuan, hingga film -film terkait , termasuk berita seputar isu kulit hitam.

Peristiwa rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 Agustus 2019 yang berujung pada demo rasis dan kisruh diangkat pula dalam sebuah artikel berjudul “ The story behind the forgotten people of West Papua who are being persecuted by Indonesia.” Penulis artikel ini adalah Etsey Atisu pada face2faceafrcia edisi 3 September 2019.

Dia menulis bahwa puluhan ribu tahun yang lalu, Papua Barat awalnya dihuni oleh orang-orang Melanesia tetapi setelah sedikit kontak dengan dunia Barat, akhirnya secara resmi dijajah oleh Belanda pada 1898.

Pulau-pulau yang sekarang menjadi Indonesia juga dijajah oleh Belanda. Tetapi ketika Republik Indonesia menjadi negara-bangsa merdeka pada 1949, Papua Barat tidak bergabung dengan negara tersebut.

Pemerintah Belanda mengakui bahwa Papua Barat secara geografis, etnis dan budaya sangat berbeda dengan Indonesia, sehingga pemerintah Belanda mulai mempersiapkan Papua Barat untuk kemerdekaannya sendiri sepanjang 1950-an.

Loading...
;

Artikel lainnya tentang Papua Barat juga pernah ditulis oleh Nueta Waweru pada 18 June 2018 berjudul “How the black indigenious of West Papua are still fighting for independence since 1969“.

Nduta Waweru merupakan penulis perempuan Afrika yang tercatat sebagai kontirbutor untuk face2faceafrica.com. Dia menganggap dirinya sebagai seorang pembaca yang suka menulis. Nduta telah menerbitkan koleksi puisi berjudul Nostalgia, adalah anggota YALI dan anggota Jaringan Wandata-Ke.

Bukan hanya itu saja calon wakil presiden dari partai Demokrat Kamala Haris yang menurut face2face.com sebenarnya bukan perempuan kulit hitam pertama. Staf penulis Theodora Aidoo aktivis perempuan Afrika jebolan Institut Jurnalisme Nigeria dan Institut Jurnalisme Ghana mengulas kisah ini dalam artikelnya berjudul,”Charlotta Bass was the first black woman to run for VP before Kamala Harris,”edisi 14 Agustus 2020.

Dia membantah bahwa Kamala Harris bukan perempuan kulit hitam pertama yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden Amerika Serikat.

Menurut dia Charlotta Bass penerbit surat kabar, adalah wanita kulit hitam pertama yang mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden Partai Progresif pada 1952. Dia berkampanye dengan slogan “Menang atau kalah, kita menang dengan mengangkat masalah.”

“Ini adalah momen bersejarah dalam kehidupan politik Amerika,” kata Bass dalam sambutannya kala itu. “Bersejarah untuk diri saya sendiri, untuk rakyat saya, untuk semua wanita. Untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa ini, sebuah partai politik telah memilih seorang perempuan kulit hitam untuk jabatan tertinggi kedua di negeri ini. ”

Bukan hanya masalah politik saja yang diangkat, face2faceafrica.com juga melaporkan tentang budaya dan ritus peralihan di benua Afrika. Salah satunya berjudul, “ This African tribe from Togo and Benin were experts in penis enlargement way before plastic surgery.”

Artikel ini ditulis oleh Mildred Europa Taylor adalah penulis dan pencipta konten face2faceafrica.com. Perempuan asal Ghana ini juga menulis tentang isu kesehatan dan perempuan di Afrika dan diaspora Afrika.

Lebih lanjut Mildre Taylor menulis bahwa sebelum diperkenalkannya prosedur dan produk untuk pembesaran penis telah dikenal lama oleh orang Batammariba, atau orang Somba dari Togo dan Benin. Mereka terkenal sebagai ahli dalam pembesaran dan pemanjangan kejantanan, biasanya upacara ini dilakukan selama inisiasi atau dalam istilah antropologi disebut ritus perlaihan dari remaja ke dalam dunia orang dewasa.

Sebenarnya artikel yang ditulis oleh Mildred Europa Taylor, terdapat pula di Papua khususnya pulau Biak yang terkenal dengan istilah daun bungkus. Sayangnya beberapa pengalaman yang terjadi justru berujung pada perawatan di rumah sakit karena infeksi akibat daun bungkus alias daun pembesar penis. Berbeda dengan orang-orang Benin dan Togo yang melalui proses inisiasi dalam rumah bujang atau khusus rumah adat kaum laki-laki.(*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top