Follow our news chanel

Mengkritisi penggunaan bahasa dalam tatanan kebebasan dalam pergaulan

Papua, bullying
Ilustrasi, bullying di kalangan remaja - Jubi/male.co.id
Mengkritisi penggunaan bahasa dalam tatanan kebebasan dalam pergaulan 1 i Papua
Ilustrasi, bullying di kalangan remaja – Jubi/male.co.id

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Vredigando Engelberto Namsa, OFM

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa manusia adalah makhluk sosial (homo socius). Untuk menyadari diri sebagai makhluk sosial dan hidup dalam lingkup sosial, manusia tentu membutuhkan sesamanya.

Bahasa merupakan alat/perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi dan berhubungan dengan sesamanya. Sebagai alat komunikasi, bahasa dapat berupa bahasa tulisan, lisan, dan gerak (isyarat).

Oleh karena itu, bahasa menjadi prasyarat mutlak agar manusia bisa hidup layak dalam menjalani seluruh dimensi kehidupannya. Melalui bahasa ia mampu mencukupi kebutuhan dan menjalani kehidupannya.

Umumnya setiap manusia memiliki bahasa tersendiri dalam berinteraksi dengan sesamanya. Bahasa melahirkan kesamaan ide, gagasan, dan pikiran. Maka tanpa bahasa manusia akan sulit untuk membangun interaksi sosial. Oleh karena itu, dalam suatu masyarakat interaksi sosial diperlukan agar terjalin suatu komunikasi sosial.

Komunikasi sosial merupakan hubungan timbal balik antara dua pihak atau lebih dalam bentuk penyampaian pesan dari satu pihak dan disertai tanggapan/reaksi dari pihak lain. Komunikasi sosial ini tentu dibangun atas dasar adanya kesamaan bahasa.

Loading...
;

Bahasa menjadi alat pemersatu dalam membangun interaksi. Bahasa di sini dapat dilihat sebagai sarana aktualisasi interaksi sosial. Bahasa mengandaikan suatu bentuk kenyataan bahwa seseorang dianggap ada.

Manusia diakui eksistensinya kalau ia mampu mambangun interaksi dengan sesamanya lewat bahasa yang disampaikan. Bahasa akan berarti dan berguna ketika manusia menggunakannya dengan baik. Baik dan buruknya suatu pergaulan bergantung pada bahasa.

Namun tak dapat disangkal, kini dalam pergaulan kurang diperhatikan etika berbahasa. Bahasa seakan menjadi momok tersendiri bagi segelintir orang. Bahasa disulap dalam pergaulan menjadi “makanan ringan” untuk mem-bully sesama.

Ini mengindikasikan bahwa pergaulan tidak sepenuhnya menjamin individu mendapatkan kebahagiaan dan kebersamaan.

Stigma ini muncul tatkala realita menunjukkan bahwa bahasa menjadi senjata ampuh bagi sebagian remaja, untuk menjadikan sesamanya minder, menyendiri, atau menutup diri dalam berkomunikasi dengan sesamanya.

Ungkapan Thomas Hobbes, manusia serigala bagi sesamanya (homo homini lupus), mungkin menjadi adagium yang dapat disejajarkan dengan aksi mem-bully. Manusia tidak (lagi) melihat sesama sebagai manusia, melainkan musuh yang harus dimusnahkan.

Perilaku bully dalam pergaulan seakan membuat seseorang menyangkal identitasnya sebagai subjek “aku yang lain”.

Eksistensinya sebagai sosialita dicabut oleh lingkungan pergaulan. Mengurung diri, menutup komunikasi sosial dan tidak membangun interaksi adalah bentuk penyangkal identitasnya sebagai sosialita.

Tak hanya itu, hemat penulis aksi bully telah berkembang menjadi virus-virus baru yang lahir dari produk-produk bahasa dan merayap dalam pergaulan remaja. Ia seakan membentuk suatu institusi untuk menghakimi dan menjelma menjadi monster yang memiliki kuasa, untuk mencabut eksistensi seorang individu, bahkan dikendalikan oleh remaja itu sendiri.

Lebih dari itu, virus-virus ini seakan mendapat legitimasi dari pergaulan tanpa tameng untuk memfilterisasi bahaya yang (akan) terjadi.

Sebuah pendapat mengatakan bahwa problematika hidup kaum remaja yang memiliki tingkat pergaulan yang sangat luas diakibatkan oleh kebebasan yang dimiliki, yang merupakan anugerah terindah Sang Pencipta.

Kebebasan sebenarnya harus ditempatkan dalam bingkai tanggung jawab, bukannya merancang kebebasan itu sebagai bentuk dominasi terhadap sesama.

Telaah kritis bahasa melahirkan bully dalam pergaulan

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diciptakan sebagai pribadi yang sempurna. Kesempurnaan ini mau mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang istimewa.

Dikatakan istimewa karena Tuhan telah melekatkan empat unsur dalam diri manusia, yakni, benda, hidup, naluri (disebut insting dan akal budi). Unsur terakhir (akal budi) menjadi ciri khas manusia yang kemudian disebut makhluk sempurna.

Tuhan menciptakan manusia dengan penuh kesadaran bahwa manusia dapat hidup sesuai gambaran Allah yang selalu mengasihi. Gambaran Tuhan yang melekat dalam diri setiap manusia setidaknya mampu diwartakan kepada sesamanya. Paradigma manusia harus berlandaskan akal budi dan hati nurani, agar manusia mampu menghargai sesamanya sebagai sesama ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Namun saat ini, realitas menunjukkan bahwa manusia kurang menghargai martabat dan hak-hak sesamanya, seperti mencuatnya fenomena bully dalam kehidupan manusia. Perilaku bully memang dirasakan sebagai sesuatu yang menyimpang dari tatanan sosial, bahkan menjadi momok tersendiri dalam pergaulan.

Kata-kata lebih tajam daripada pedang! Ungkapan ini mau mengatakan bahwa kata-kata memiliki kemampuan dan menyimpan kekuatan dahsyat yang cukup intensif.

Kata-kata tidak hanya menjembatani perbedaan-perbedaan, menyatukan dan merajut kebersamaan. Lebih dari itu, kata-kata cukup sering membelah, menindas, bahkan melukai.

Sebenarnya kata-kata tidak berdosa dalam realitas penggunaanya. Namun manusia yang berkata-kata itulah yang mencemari ketidakberdosaan kata-kata.

Melalui pengucapan kata-kata lahir dan bersumber dari manusia sehingga disebut bahasa. Keberlangsungan relasi dalam pergaulan bergantung pada kata-kata yang diucapkan.

Berkaca pada realitas yang terjadi sekarang ini, kata-kata disulap menjadi pedang yang dapat menembus dan menerjang segala sesuatu. Ia melahirkan tindakan mem-bully dalam pergaulan.

Manusia merekonstruksi bahasa melalui kata-kata agar terjalin suatu komunikasi. Namun realitas menunjukkan bahwa bahasa telah bergeser dari sarana komunikasi untuk mencapai pemahaman yang benar kepada sarana penindasan.

Persoalan tentang bagaimana membendung agresivitas perilaku mem-bully dari penggunaan bahasa dalam pergaulan sebenarnya tak dapat disangkal lagi. Tidak heran bahwa banyak kaum muda kita yang membentuk pergaulan cenderung mengundurkan diri atau melepaskan diri karena merasa tertekan ketika membangun suatu relasi dalam situasi kompleks.

Orang-orang seperti ini merasa bahwa pergaulan tidak membentuknya menjadi pribadi yang ideal. Suatu realitas yang patut disesali bahwa aksi mem-bully menelanjangi identitas manusia sebagai makhluk yang terlahir sempurna.

Atribut fisik manusia menjadi bahan ejekan dan cibiran, bahkan menjadi bahan pembicaraan dalam pergaulan. Ia seakan tumbuh dan berkembang dalam kerangka pikiran manusia.

Hal yang sangat disayangkan adalah hak-hak hidup yang melekat dalam diri manusia yang ada sejak ia berada dalam kandungan dilucuti dalam pergaulan, bahkan tak sedikit pun melecehkan hak hidup itu.

Realitas yang dipaparkan di atas sangatlah menyedihkan, baik bagi orang korban bully, maupun pelaku.

Berbicara tentang aksi mem-bully adalah suatu realitas nyata yang tak dapat disangkal. Ia semacam suatu consensus yang direkonstruksi dan diamini oleh lingkungan sosial.

Kehadirannya bersumber dari manusia yang tidak ingin memahami sesamanya, tetapi selalu ingin dipahami oleh sesamanya. Hal ini menimbulkan konflik hak pribadi yang mengakibatkan adanya dominasi terhadap sesama.

Oleh karena itu, ia menjadi suatu kebiasaan dalam realitas kehidupan. Namun sangat disayangkan, kebiasaan ini timbul dari generasi muda yang tak dapat disangkal lagi, bahwa ia selalu membentuk pergaulan dalam realitas kebebasan yang dimiliki.

Keadaan ini menunjukkan adanya serangkaian kebiasaan yang mendorong orang melakukan hal-hal tertentu atas kehendak bebasnya sendiri yang mengakibatkan tumbuhnya suatu realitas baru.

Ada satu dimensi lagi yang kadang-kadang tidak terlalu dianggap tetapi sebetulnya cukup penting, yaitu orang selalu menganggap dirinya sempurna. Realitas ini menguak (bila) melihat kejanggalan yang terjadi, bahkan di sini kita bisa melihat relasi yang erat antara bahasa dengan aksi mem-bully dalam pergaulan.

Secara gamblang dapat dikatakan bahwa nila-nilai luhur yang dibangun dan menjadi pedoman dalam kehidupan manusia berangsur pudar akibat serangan virus-virus itu, yang terlahir dari generasi muda yang adalah agen-agen perubahan.

Masa remaja menurut sebagian orang merupakan masa-masa indah untuk bergaul dengan sesama. Masa-masa indah itu pun perlu dilewati dengan sejuta kenangan indah agar kelak tidak muncul penyesalan.

Rupanya kaum muda yang hidup di era modern ini telah salah menafsirkan kalimat itu. Kaum remaja mengaktualisasikannya dengan kesadaran dalam bentuk kebebasan.

Oleh karena itu, ia melakukannya sesuai predikat yang dimilikinya, sehingga bahasa yang sebenarnya perwujudan komunikasi sosial diintimidasi menjadi suatu komoditi yang telah dijadikan sebagai perwujudan mendominasi yang lain.

Untuk itu, kita dituntut untuk berbahasa dengan pemahaman. Artinya, agar diskursus seputar aksi mem-bully tidak terus terjadi, rasionalitas pengguna bahasa harus diarahkan kepada tiga kebenaran bahasa; kebenaran pernyataan, ketepatan rumusan tindakan, dan ketulusan komunikasi yang dihayati secara subjektif.

Jika prinsip-prinsip itu diwujudkan, maka bahasa tidak hanya sebagai sarana pemahaman, tetapi juga dapat dijadikan sebagai sarana dalam menjembatani perbedaan dan jalan keluar atas berbagai aksi mem-bully yang telah mengakar. (*)

Penulis adalah mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Editor: Timo Marten

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top