Follow our news chanel

Mengunjungi stadion bersejarah dan termegah di Jerman

Penampakan gerbang utama Olympiastadion Berlin, Jerman – Jubi/Jean Bisay.
Mengunjungi stadion bersejarah dan termegah di Jerman 1 i Papua
Penampakan gerbang utama Olympiastadion Berlin, Jerman – Jubi/Jean Bisay.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Anda masih ingat insiden tandukan kepala Zinedine Zidane terhadap Marco Materazzi. Ya, kejadian itu terjadi pada momen final Piala Dunia 2006.

Kala itu, 9 Juli 2006, tim nasional Italia berjumpa Perancis. Wasit yang memimpin pertandingan itu adalah Horacio Elizondo asal Argentina.

Setelah bermain 90 menit di waktu normal, plus 30 menit waktu tambahan (120 menit) skor masih sama kuat atau imbang (1-1).

Perancis lebih dulu memimpin 1-0 pada menit ke-7 lewat gol penalti Zinedine Zidane. Italia mampu merespon balik tujuh menit kemudian, buat samakan skor (1-1) lewat gol Marco Materazzi menit ke-19.

Saat pertengahan babak tambahan waktu, Zidane dikartu merah dan diusir wasit setelah menanduk dada Materazzi.

Zidane, pesepakbola keturunan Aljazair itu lewat media mengakui, terprovokasi kata-kata kasar dari Marco Materazzi.

Loading...
;

Nerazuri julukan Italia sukses tampil sebagai juara dunia setelah menang adu penalti 5-3. Itu merupakan gelar keempat, setelah di tahun 1938, 1950 dan 1982, negeri Pizza itu sudah mengangkat tropi yang sama.

Insiden di final sepakbola dunia yang melibatkan kedua pencetak gol di atas dikenang serta menjadi saksi bisu di Olympia stadion Berlin, Jerman yang menjadi tuan rumah Piala Dunia waktu itu.

Sebagai jurnalis asli Papua, saya bersyukur karena mendapat kesempatan emas bisa mengunjungi atau menginjak langsung stadion termegah dan bersejarah di kota Berlin, Jerman itu pada Sabtu, 18 Mey 2019.

Niat saya mengunjungi Olympiastadion atau stadion Olimpiade Berlin, muncul secara spontanitas dan diluar jadwal.

“Perlu keberanian dari sebuah keputusan cepat yang bijaksana,” ucap Adriana, orang Indonesia yang sudah lama menetap di Jerman.

Adriana, seorang perempan tangguh, berdedikasi tinggi dan asyik menjadi teman cerita. Buat saya, Adriana adalah sahabat karib, walau mengenalnya hanya tiga hari.

Dia bersedia meluangkan waktu menemani, sekaligus menjadi penunjuk jalan buat saya menuju Olympiastadion atau stadion Olimpiade Berlin.

Saya bersama Adriana tidak sendiri. Ikut bergabung seorang sahabat asal Kanada, namanya Todd.

Walau hanya sebentar, tidak lebih dari satu jam. Banyak hal positif yang sempat terekam dalam memori kepala saya.

Olympiastadion Berlin merupakan arena olahraga dan monumen sejarah yang merupakan bagian dari Olmypiapark, kawasan sejarah dunia yang dilindungi. Lokasinya terletak di Westerend, Charlottenburg-Wilmersdorf, Berlin Jerman.

Dibangun oleh arsitek Jerman, Werner March/Albert Speer (1934-1936) untuk kepentingan Olimpiade musim panas. 1 Agustus 1936, stadion ini diresmikan serta dibuka untuk umum pertama kali bertepatan pembukaan Olimpiade oleh Adolf Hitler.

Tahun 1974 direnovasi pertama kali (rekonfigurasi) yang ditangani oleh arsitek Friedrich Wilhelm Krahe untuk kepentingan Piala Dunia 1974.

Olympiastadion kembali mengalami renovasi terakhir pada 2004 untuk kepentingan Piala Dunia 2006 dan memiliki kapasitas tempat duduk permanen 74.475. Badan sepakbola Eropa (UEFA) menempatkan stadion ini terbaik keempat.

Stadion ini menjadi langganan konser artis top dunia seperti Michael Jacksen hingga Madonna, pernah manggung disini.

Untuk kepentingan olahraga, Olympiastadion yang awalnya bernama Deutshes Stadion, banyak mencatat rekor dunia selain insiden tandukan Zinedine Zidane.

Usain Bolt, sprinter asal Jamaika, mengukir rekor dunia pada nomor paling bergengsi 100 meter putra pada kejuaraan dunia atletik atau IAAF ke-12 pada 2009.

Usain Bolt memecahkan rekornya sendiri 9,58 detik atau 0,11 detik lebih cepat dari rekor pertamanya. Ia dinobatkan sebagai manusia tercepat di dunia.

Sebelum Usain Bolt ada atlet putra kulit hitam yang paling fenomenal, James Cleveland atau dikenal Jesse Owens.

Dia keturunan Afrika-Amerika yang tampil membela negeri Paman Sam saat Olimpiade musim panas 1936.

Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan di luar stadion. Jesse Owens mencetak rekor meraih empat medali emas cabang olahraga atletik dari nomor 100 dan 200 meter putra, lompat jauh dan estafet 4X100 meter.

Dari bincang-bincang dengan sejumlah warga asli Jerman dan warga asing yang saya temui, sekiranya bisa ditransfer dan dimanipulasi hal-hal positif demi kebaikan dan kemajuan olahraga di Papua.

Tidak hanya dari sisi infrastruktur dan tata cara mengelolanya saja, tapi orang-orang, sumber daya manusia (SDM) yang terlibat langsung maupun yang setiap waktu hadir disana, bisalah kita meniru dan berguru.

Spirit yang tumbuh dari sejumlah prestasi orang kulit hitam yang terukir di Olympiastadion Berlin Jerman, patut dicontoh. (*)

Editor      : Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top