Follow our news chanel

Menjajal Jalur Trans Papua Barat (Bag. II): Getir dan berkah dari jalan rusak

Kondisi Jalan Trans Papua Barat di Kampung Mameh, Distrik Tahota, Manokwari Selatan, pekan lalu – Jubi/Hans A Kapisa
Menjajal Jalur Trans Papua Barat (Bag. II): Getir dan berkah dari jalan rusak 1 i Papua
Kondisi Jalan Trans Papua Barat di Kampung Mameh, Distrik Tahota, Manokwari Selatan, pekan lalu – Jubi/Hans A Kapisa

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Walaupun menyusahkan, kerusakan jalan ternyata mendatangkan keuntungan bagi sebagian orang. Berikut lanjutan catatan perjalanan Jurnalis Koran Jubi, saat menjajal jalur Bintuni- Ransiki, pekan lalu.

JALAN panjang dan melelahkan kembali harus kami lakoni sekembali dari Bintuni menuju Manokwari. Tantangan kali ini bahkan lebih berat ketimbang sewaktu pergi, dua hari sebelumnya.

Mobil bergardan ganda yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Bintuni pada Senin siang, 17 Juni 2019. Mobil dipacu kencang hingga tiba menjelang malam di Kampung Mameh di Distrik Tahota, Manokwari Selatan.

Pemandangan saat itu masih serupa dengan saat berangkat. Kendaraan bergardan ganda beserta truk pengangkut material bangunan terlihat mengular karena terhalang kubangan lumpur. Kondisi di sekeliling pun beranjak gelap.

Kali ini, kami juga harus turun dari kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mobil yang kami tumpangi tidak sanggup apabila harus mengarungi jalanan becek dan berkubang lumpur tebal.

Dengan tertatih, kami menapaki jalan sejauh kurang lebih 5 kilometer dalam gulita malam. Pemandangan ke sekeliling terbatas karena hanya mengandalkan cahaya penerangan dari senter.

Loading...
;

Setelah sekitar 3 jam berjalan, langkah kaki pun disudahi. Kami beristirahat di salah satu kamp perusahaan kayu sembari berharap mendapat tumpangan kendaraan ke Manokwari. Penantian kian menjemukan karena tanpa kepastian. Apalagi, tidak ada sinyal telepon sehingga tidak ada yang bisa dihubungi untuk dimintai tolong.

Hingga dini hari, belum juga ada tanda-tanda calon tumpangan bakal lewat. Letih dan sergapan dinginnya angin malam membuat kami goyah.  Kantuk pun mendera. Kami akhirnya terlelap dengan pakaian penuh lumpur di emperan warung kamp perusahaan kayu, saat hari mulai berganti.

Calon tumpangan yang dinanti-nanti akhirnya muncul selepas bangun pagi. Mobil Kodam Kasuari bersedia memberi tumpangan untuk kedua rekan kami hingga ke Ransiki, Ibukota Manokwari Selatan. Tidak lama kemudian, saya bersama lima rekan lain menyusul dengan menumpang truk pengangkut material bangunan.

Truk yang kami tumpangi hanya sampai di sebuah kawasan yang dikenal dengan sebutan bukit sinyal. Disebut demikian karena di sepanjang perjalanan hanya di bukit tersebut sinyal seluler terdeteksi sehingga orang bisa menelpon.

Dari bukit sinyal, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang mobil yang melintas milik Kepolisian Sektor Windesi, Teluk Wondama. Setiba di Ransiki, kami menyewa mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Manokwari.

Berkah jalan rusak

Kerusakan jalan di perlintasan Kampung Mameh tidak selamanya mendatangkan kegetiran. Sebagian orang justru menangguk untung dari kondisi tersebut.

Sejumlah supir angkutan mengaku meraup pendapatan berlipat ganda saat melayani penumpang dari Manokwari ke Bintuni, dan sebaliknya. Mereka menaikkan tarif, dari Rp500 ribu menjadi Rp1 juta-Rp1,5 juta per penumpang untuk sekali jalan.

Untung besar juga diraup operator alat berat milik perusahaan kayu. Jasa mereka kerap dipakai untuk menderek kendaraan yang terperosok di kubangan lumpur. Begitu pula warung makanan dan minuman di sepanjang jalan, laris-manis. Dagangan mereka diserbu para pelintas yang terjebak macet atau penumpang yang terpaksa menginap karena tidak mendapat tumpangan lanjutan.

Jalan perlintasan Kampung Mameh membentang sepanjang 5 kilometer. Sebagian jalur Trans Papua Barat tersebut masih dalam pengerasan. Namun, kondisinya kini berangsur membaik. Pekerjaan pengerasan yang masih tersisa sepanjang 1,5 kilometer diteruskan mulai pekan ini. Selanjutnya, jalan pun akan diaspal hingga mulus.

“Pengerasan hingga pengaspalan dimulai pada tahun ini. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, juga Balai Pelaksana Jalan Nasional,” kata Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan, seperti dikutip Antara, pekan lalu.

Mandacan juga memastikan tidak ada lagi kendala mengenai status areal konsesi perusahaan kayu yang menghambat pelaksanaan proyek tersebut.

“Sudah ada pertemuan antara perusahaan, pemerintah daerah, dan Kementerian PUPR. Jadi, tidak ada masalah lagi.” (selesai)

Editor: Aries Munandar

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top