HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Menyambut kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Sedunia

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhdap Perempuan – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: Fientje S. Jarangga

Sejarah

Kampanye anti kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan diadakan secara internasional karena untuk pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori Center for Women’s Global Leadership. Deklarasi 16 hari untuk mengkampanyekan anti kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan atau yang disebut 16 Days of Activism Against Gender Violence merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap HAM laki-perempuan di seluruh dunia.

Kampanye anti kekerasan dan diskriminasi ditetapkan dan dirayakan di seluruh dunia, karena merupakan peringatan terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM, termasuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan.

Peringatan ini terus dilakukan sebagai upaya dunia agar menghormati HAM dan tidak boleh mengulangi tindakan-tindakan kekerasan dan pelanggaran HAM.

Deklarasi 16 hari kampanye ini  secara internasional berlangsung 25 November hingga 10 Desember setiap tahun.

Loading...
;

Ada berbagai event penting yang dirayakan dan salah satu yang sangat dikenal adalah kampanye anti kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan yang diperingati tiap 25 November. Selain itu, berturut-turut ada event-event yang mengkampanyekan berbagai kekerasan dan diskriminasi yang terjadi dalam berbagai peristiwa kemanusiaan.

Rangkaian kampanye ini akan berakhir pada 10 Desember (Hari HAM Sedunia). Di Indonesia, ada berbagai lembaga kemanusiaan yang bekerja untuk HAM; Komnas HAM, Komnas Perempuan, KPAI, dll.

Namun khusus untuk kampanye anti kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, selama ini menjadi inisiatornya adalah Komnas Perempuan yang setiap periode kampanye ada tema-tema yang secara global didiskusikan dan implementasinya disesuaikan dengan kondisi real lokal.

Mengapa 16 hari kampanye?

Kampanye ini diadakan setiap tahun dan berlangsung 25 November sebagai hari kampanye internasional penghapusan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Tanggal 25 November sampai 10 Desember–Hari HAM Internasional, bahwa makna yang tersirat dalam kampanye anti kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan berkaitan dengan hari peringatan HAM sedunia, merupakan hubungan simbolik antara kekerasan, diskriminasi dan pelanggaran HAM–secara tegas kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Tujuan kampanye

Kampanye anti kekerasan dan diskriminasi dilakukan oleh siapa saja yang menghormati HAM. Dibutuhkan kerjasama dan sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak secara serentak untuk:

1) Menggalang gerakan solidaritas berdasarkan kesadaran bahwa kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan merupakan pelanggaran HAM;

2) Mendorong kegiatan bersama untuk menjamin perlindungan terhadap perempuan lebih baik;

3) Mengajak semua orang untuk terlibat aktif sesuai dengan

kapasitasnya dalam upaya penghapusan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap

perempuan.

Apa makna bagi perempuan Papua?

Peradaban perempuan Papua telah bangkit dan meletakkan dasar bagi perjuangannya. Pasang surutnya sejarah peradaban dan konflik politik Papua ikut menjadi bagian dari proses pemajuan perempuan Papua. Konflik politik Papua ini juga berdampak langsung pada semua anggota masyarakat Papua, tidak terkecuali kaum perempuan.

Pengalaman kekerasan yang mendera kaum ini menempa mereka untuk semakin jernih memahami persoalan yang dialami, dan semakin kuat untuk bertahan hidup dalam kondisi yang serba tidak menentu.

Baca juga  Tim gabungan razia penjualan lem aibon di sejumlah kios

Pembangunan pendidikan yang bernaung dalam lembaga-lembaga Gereja di Tanah Papua, sangat berperan dalam membangun ruang bagi persekolahan di Tanah Papua. Pada akhir abad ke-19, Zendeling Gereja (UZV, ZNHK di Belanda) mendorong pendidikan sebagai upaya perubahan peradaban bagi anak-anak Papua yang dimotori oleh istri-isteri guru. Mulai pada awal abad ke-20, sekolah-sekolah formal bagi anak-anak perempuan dibuka, seperti JVVS (Jongen Vervolg School/Sekolah untuk Anak laki-laki) dan MVVS (Meisjes Vervolg School/Sekolah Gadis), selain itu, ODO (Opleiding Doorps Onderwijzers/Sekolah Guru).

Sekolah Rakyat (Zending Schollen) yang didirikan 1952 untuk pendidikan anak-anak di kampung; juga ada sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak pejabat birokrasi pemerintahan kolonial Belanda, sekolah LSB (Lagere School B), 1962.

Tujuan pendirian sekolah-sekolah adalah untuk memutuskan belenggu adat dan budaya yang menghambat kemajuan, termasuk bagi para gadis Papua. Sistem pendidikan yang sudah dibangun pada zaman itu, terus mengalami perubahan.

Situasi konflik politik Papua yang tidak jelas itu berdampak pada  pendidikan Papua dan masuk dalam kondisi yang buruk, dimana sekolah-sekolah kejuruan negeri untuk perempuan ditutup, 1962.

Namun lembaga pendidikan yang bernaung dalam gereja Katolik dan Kristen Protestan terus berupaya agar ruang bagi pendidikan perempuan Papua harus ada. Saat ini kita bisa menyaksikan pusat pendidikan nonformal untuk perempuan Papua di Padangbulan, Abepura, Port Numbay–P3W/Pusat Pembinaan dan Pengembangan Wanita GKI di Tanah Papua (Sejarah Pendirian P3W GKI, 2 April 1962).

Di lingkungan Gereja Katolik, diprakarsai oleh delegatus atau seksi sosial (Delsos) keuskupan, awal 1970-an mendirikan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)–pusat pendidikan bagi perempuan calon pendidik masyarakat kampung, di Enarotali. Kemudian gereja-gereja lainnya di Tanah Papua terus membangun ruang untuk pendidikan perempuan Papua.

Ada satu spirit yang sangat mendasar dan menjadi kekuatan bagi perempuan Papua dalam menata kaumnya dengan perkataan doa yang disampaikan oleh Ketua Sinode GKI pribumi pertama, Ds. FJS Rumainum, ”Celakalah suatu bangsa jika kaum laki-lakinya maju, tetapi kaum perempuan tidak ikut dalam perubahan zaman.”

Perkataan inilah yang harus dimaknai setiap perempuan dan laki-laki Papua dalam menata dan membangun generasi Papua, agar tidak ada tindak kekerasan dan diskriminatif dalam hubungan (relasi) sebagai manusia yang setara.

Peristiwa-peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM yang ditetapkan secara internasional untuk diperingati dalam 16 hari kampanye.

1) Hari internasional untuk penghapusan kekerasan terhadap perempuan, 25 November 1960. Tanggal ini dipilih sebagai penghormatan atas meninggalnya Mirabal bersaudara (Patricia Minerva dan Maria Teresa), yang dibunuh secara keji oleh penguasa diktator Republik Dominika, Rafael Trujillo.

Mirabal bersaudara merupakan aktivis politik yang tak henti-hentinya memperjuangkan demokrasi dan keadilan, serta menjadi simbol perlawanan terhadap kediktatoran penguasa Republik Dominika saat itu. Mirabal bersaudara mendapat tekanan dan penganiayaan luar biasa dari rezim Trujillo.

Baca juga  Kejati Papua tangani 10 kasus korupsi

Pembunuhan ini juga menandai ada dan diakuinya kekerasan berbasis gender. Peringatan hari ini dideklarasikan pertama kalinya sebagai Hari Internasional untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1981 dalam Kongres Perempuan Amerika Latin yang pertama;

2) Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 1988. Hari AIDS Sedunia pertama kali dicanangkan dalam konferensi internasional tingkat menteri kesehatan sedunia, 1988. Hari ini menandai dimulainya kampanye tahunan dalam upaya menggalang dukungan publik dan mengembangkan suatu program yang mencakup kegiatan pencegahan penyebaran HIV/AIDS, dan pendidikan serta penyadaran akan isu-isu seputar permasalahan AIDS;

3) Hari Internasional untuk Penghapusan Perbudakan, 2 Desember 1949. Hari ini merupakan hari diadopsinya Konvensi PBB mengenai penindasan terhadap orang-orang yang diperdagangkan dan eksploitasi terhadap orang lain (UN Convention for the Suppression of the traffic in persons and the Exploitation of other) dalam resolusi Majelis Umum PBB No 317 (IV) pada 1949.

Konvensi ini merupakan salah satu tonggak perjalanan dalam upaya memberikan perlindungan bagi korban, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak, atas kejahatan perdagangan manusia;

4) Hari Internasional bagi Penyandang Cacat, 3 Desember 1982. Hari ini merupakan peringatan lahirnya Program Aksi Sedunia bagi Penyandang Cacat (the World Programme of Action concerning Disabled Persons). Program aksi ini diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada 1982 untuk meningkatkan pemahaman publik akan isu mengenai penyandang cacat dan mambangkitkan kesadaran akan manfaat yang dapat diperoleh, baik oleh masyarakat, maupun penyandang cacat, dengan mengintegrasikan keberadaan mereka dalam segala aspek kehidupan masyarakat;

5) Hari Internasional bagi Sukarelawan, 5 Desember 1985.

Pada 1985, PBB menetapkan 5 Desember sebagai Hari Internasional bagi Sukarelawan. PBB mengajak organisasi-organisasi dan negara-negara di dunia untuk menyelenggarakan aktivitas bersama sebagai wujud rasa terima kasih sekaligus penghargaan kepada orang-orang yang telah memberikan kontribusi berarti bagi masyarakat dengan cara mengabdikan hidupnya sebagai sukarelawan;

6) Hari Tidak Ada Toleransi bagi Kekerasan terhadap Perempuan, 6 Desember 1989. Pada hari ini, 1989, terjadi pembunuhan massal di Universitas Montreal Kanada yang menewaskan 14 mahasiswi dan melukai 13 lainnya dengan menggunakan senapan semi otomatis kaliber 223.

Pelaku melakukan tindakan tersebut karena percaya bahwa kehadiran para mahasiswi itulah yang menyebabkan dirinya tidak diterima di universitas tersebut. Sebelum pada akhirnya pelaku bunuh diri, lelaki ini meninggalkan sepucuk surat berisikan kemarahan amat sangat pada para feminis dan daftar 19 perempuan terkemuka yang sangat dibencinya;

7) Hari HAM Internasional, 10 Desember 1948, merupakan perayaan akan ditetapkannya dokumen bersejarah, yaitu Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) oleh PBB pada 1948, sekaligus momen untuk menyebarluaskan prinsip-prinsip HAM yang secara detail terkandung dalam deklarasi tersebut. (Sumber data: 16 Hari Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan laporan Stop Sudah!) (*)

Penulis adalah Koordinator Tiki Jaringan HAM Perempuan Papua

Editor: Timo Marten

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa